
Mama melihat ke arah menantunya. Begitu pula papa yang sudah paham ada apa sebenarnya yang terjadi di sini.
"Berhenti bicara, Zi," mohon Hanen seraya menyentuh tangan Zia. Meminta pada perempuan ini untuk tidak menyalahkan diri sendiri. Meminta dia berhenti melanjutkan permintaan maafnya.
"Aku bersalah. Aku ..." Zia terus saja bersikeras ingin mengucap maaf dengan tangis yang di tahan kuat-kuat. Dia merasa dirinyalah akar dari pertengkaran dua saudara itu.
"Hentikan, Zia!" Gara mulai bereaksi juga. Dia berdiri dan meneriaki Zia. Bola mata Zia berpindah dari mertuanya untuk menoleh pada Gara. "Meskipun kamu di anggap keliru dan bersalah, aku tidak ingin melihatmu meminta maaf di depan semua! Disini ada yang lebih bersalah dan lebih pantas meminta maaf daripada kamu. Dia!" tunjuk Gara dengan marah pada kakaknya. Han diam. "Kamulah yang membuatku marah karena kamu menyia-nyiakannya. Zia kamu nikahi tapi kamu tetap bersenang-senang dengan wanita lain. Kamu menikahinya hanya demi perusahaan. Lelaki macam apa kamu?"
"Mama tidak menyangka kamu seperti itu Hanen." Kali ini mama ikut berbicara soal kelakuan Han di balik sikap sempurnanya di mata kedua orangtuanya. "Di balik sikap berwibawamu kamu justru membuat istrimu sendiri terabaikan dan tersakiti. Sebagai wanita, mama sangat membenci sikapmu. Itu sungguh keterlaluan. Padahal papamu sendiri tidak pernah menyakiti mama seperti itu, tapi kamu ... baru menikah saja sudah membuat istrimu tersakiti. Bagaimana ke depannya?" Mama mengatakan itu dengan hampir menangis.
Hanen tetap diam. Dia tidak lagi menyangkal atau membantah tuduhan mama.
"Maaf ..." Han menunduk di samping Zia. Ketegangan mereda berganti menjadi getir yang terasa. Zia berhenti meminta maaf dan menatap ke sekeliling. Semua menghela napas berat. Tidak ada lagi amarah dan kesal. Hanya tersisa rasa bingung yang pekat. Bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga?
"Sekarang bagaimana? Apa yang akan kalian berdua lakukan?" tanya mama setelah mereda penat di kepalanya.
"Aku akan tetap mempertahankan Zia sebagai istriku." Hanen langsung mengutarakan niatnya. Mama diam sambil menggerak-gerakkan jarinya tidak tenang. Gara mendengkus.
"Jangan menodai pernikahan, Han. Mungkin papa dan mama keliru memberi pilihan padamu dengan perjodohan. Jadi ... jika kamu terus saja ingin mempertahankan Zia hanya demi mendapatkan perusahaan, papa tidak setuju. Zia putri orang kepercayaan papa dulu, Han. Jika tujuanmu hanya menyakiti lepaskan saja. Papa malu menghadapi keluarga Zia nantinya."
"Bukan, Pa. Aku bukan ingin menyakiti Zia lagi. Aku sudah bertekad memperbaiki hubunganku dengannya." Han membantah. "Aku bersungguh-sungguh."
__ADS_1
"Kata-katamu tidak bisa di pegang dan di percaya lagi, Han. Setelah cerita tentangmu yang masih berhubungan dengan Kayla di belakang Zia, mama ragu mempercayai kata-katamu." Mama tetap mengaca pada kenyataan pahit yang di terima Zia saat ini. Betapa pintarnya Hanen menyembunyikan sifat aslinya yang begitu tega melukai seorang istri.
"Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan Kayla, Ma. Aku sudah menghapus dan menghentikan semua hal yang berhubungan dengan dia," bela Han.
"Maaf, Han. Mama tetap ragu." Mama masih bersikeras
"Aku mau menikahinya." Tiba-tiba Gara membuat pernyataan tidak terduga.
"Gara. Apa kamu sadar apa yang kamu katakan barusan?" tanya Papa dengan rasa terkejutnya.
"Aku sangat sadar, Pa. Jika biasanya aku tidak pernah meminta apapun dari papa dan mama karena ingin berusaha sendiri, tapi kali ini aku coba meminta. Ijinkan aku menikahi Zia." Gara mengucapkannya dengan sungguh-sungguh. Mama dan papa tertegun.
Ini memang pertama kalinya putra kedua mereka meminta sesuatu. Gara yang seringkali bersikap mandiri, selalu terlihat berdiri kuat. Namun sekarang dia memohon dan meminta.
Han sendiri terperangah mendengar permintaan adiknya. Dia yang yakin Gara mundur setelah mendengar percakapan mereka berdua, kini kembali resah karena Gara kembali bangkit ingin merebut Zia.
"Bukannya Zia sudah tidak ingin memilihmu? Dan kamu juga sudah rela dia bersamaku," ujar Han seraya mengingat lagi apa yang di dengarnya waktu itu.
Gara melihat Han dengan kerutan di keningnya. "Darimana kamu tahu? Tidak mungkin Zia membahas tentangku denganmu." Gara yakin itu perbincangan mereka berdua. Hanya berdua.
"Aku mendengar perbincanganmu dengan Zia di ruang kerjamu." Hanen tidak menutupi kalau dia menguping pembicaraan mereka berdua. Zia menoleh pada Han.
Jadi dia tahu saat itu aku habis menangis karena berbicara dengan Gara?
"Oh ... kamu memata-matai kami rupanya." Gara mendengkus mendengar pengakuan itu.
__ADS_1
Waktu itu Zia memang sudah melepas Gara dan memilih Han demi mertua dan keluarganya sendiri. Namun semua kebimbangan masih saja mendera. Apakah saat ini Zia masih tetap memilih Gara karena dia pria yang perhatian? Atau tetap memilih Han untuk hidup sebagai suami istri?
"Zia, tentu mama sangat egois jika memaksamu tetap bersama Han yang sudah memperlakukanmu dengan tidak tepat. Mama serahkan keputusan ini sepenuhnya kepadamu." Mama mulai menyerahkan pengambilan keputusan kepada Zia sepenuhnya.
Aku mohon percaya padaku, Zi ... batin Han dalam hati.
Jari jemari Zia bertaut dan bergerak gelisah. Dia juga sedang berpikir keras. Memilih salah satunya atau pergi dan tidak memilih semuanya. Tangan Zia semakin bergerak cepat. Han yang berada di samping Zia paham. Perempuan ini sedang bimbang.
"Aku akan lepaskan hak kepemilikan perusahaan kosmetik pada Gara, jika aku di ijinkan memperbaiki hubungan dengan Zia. Aku meminta Gara mundur," ujar Hanen yang membuat semua orang terperangah kaget. "Aku juga akan mundur dari perusahaan kosmetik sebagai pemegang jabatan tertinggi," ucap Hanen pada Zia yang tengah memandangnya dengan heran.
"Han," pekik Zia tertahan. Han memandang Zia dengan sendu. Bibirnya tersenyum.
"Kamu ... menyerahkan perusahaan itu?" tanya Gara tidak percaya. Han memang sedikit ambisius soal perusahaan. Jika dia melepaskan itu dengan mudah, itu terasa mencengangkan. Bagaimana bisa?
"Aku ingin membuktikan bahwa aku memang serius ingin memperbaiki hubunganku dengan Zia. Jika perusahaan itu menjadi kendalaku untuk mendapat kepercayaan dari Zia bahwa aku memang bersungguh-sungguh, aku rela melepaskan. Akan aku lepas semuanya demi mendapatkannya," ucap Hanen lagi seraya menatap Zia hangat. Semua yang ada di ruang baca semakin tercengang mendengar penuturan Hanen.
Zia sendiri sampai menatap pria yang menorehkan banyak luka di hatinya dengan lama. Tidak terasa butiran airmata jatuh. Zia tersentak kaget dengan aimata yang membasahi pipinya barusan. Dia tidak sadar tengah menangis.
"Ma-maaf," ucap Zia yang segera menghapus air matanya. Semua yang ada di sana tertegun melihat Zia menangis. Mama sampai perlu menghapus airmatanya juga karena ikut berderai air mata. Papa mengelus punggung tangan istrinya. Sementara Rara menghela napas berat. Sejak tadi bola matanya berkaca-kaca.
Gara sendiri tengah memandang lurus ke arah Zia. Wanita ini pasti begitu menderita. Dia sedang bimbang. Banyak hal yang memang harus di pertimbangkan.
"Aku terima tawaran Han. Aku mundur," ujar Gara pada akhirnya.
__ADS_1