
"Kak Gara harus tahu kan kalau Hanen sudah siuman," kata Rara membela diri. "Jadi tidak mungkin membiarkan Kak Gara tidak mendengar kabar itu."
"Yah ...," dengus Gara. Dia tidak serius soal ini. Hanya sebuah candaan saja. Dering telepon dari ponsel Rara terdengar membahana.
"Ah, aku mau keluar dulu." Gadis ini langsung bangkit dari duduknya dan keluar dengan cepat. Sepertinya Rara terburu-buru dan tidak ingin kedua kakaknya mendengar perbincangannya.
"Itu pasti kekasihnya," tebak Gara yang tadi mengikuti punggung adiknya hingga lenyap di balik pintu.
"Kamu masih saja tetap berusaha keren dalam segala hal," ujar Hanen. Gara yang tadi masih menatap pintu, kini menoleh pada Hanen.
"Benar. Namun aku hanya keren saja, bukan sempurna. Berbeda denganmu yang selalu bisa tampil sempurna dalam segala hal," balas Gara. Keduanya masih terus melakukan pembicaraan seperti ini. Bukan ketegangan sesungguhnya karena ada nada bercanda yang terselip di antara kalimat mereka.
"Sempurna bukan berarti baik. Jadi aku hanya tampak sempurna di depan tanpa kebaikan dalam hatiku." Wajah Hanen terlihat sendu ketika mengatakan ini. Atmosfir sedih mulai terasa. Gara diam seraya memperhatikan Han yang tengah menatap kosong ke depan. "Seperti aku yang telah menyakiti Zia."
__ADS_1
"Apa yang sekarang ingin kau bicarakan?" tegur Gara gusar. Dia mencintai Zia, tapi dia tidak ingin ada pembicaraan soal perempuan itu. Apalagi dengan Hanen.
Hanen yang tadinya melihat ke depan dengan tatap mata kosong, kini menoleh pada Gara.
"Aku sedang mengaku salah bahwa aku adalah pria brengsek dan bodoh." Meski emosional, Han tetap hanya bisa bicara dengan lemah.
"Bicarakan hal lain. Kamu tidak ingin melihat aku marah, bukan?" Gara kesal. Han tersenyum. Ia merasa lucu melihat adiknya gusar. Mungkin dua pria ini adalah orang hebat jika mereka di sandingkan untuk bekerja sama. Namun itu jika menyangkut Zia, semuanya langsung berantakan.
"Padahal dulu kamu adalah bocah penakut. Kamu hanya bisa berdiri di belakangku ingin sembunyi dari orang-orang yang memperhatikan kita." Hanen mulai membuka memori lama. Ia terkenang dengan masa kecil mereka berdua. Dimana itu penuh kedamaian.
"Huh, wajar saja aku penakut. Aku ini masih kecil waktu itu. Sementara kamu punya tubuh besar. Usia kita juga tidak sama. Terpaut lima tahun. Jadi tidak adil jika itu di gunakan sebagai tolak ukur sebuah keberanian seorang anak." Gara tidak menampik kalau dia seorang penakut, tapi dia juga membela diri barusan.
Gara menatap Hanen yang masih menerawang jauh.
"Bisakah kita hidup dalam kedamaian lagi seperti masa kita kecil dulu?" tanya Hanen menoleh pada Gara.
__ADS_1
"Jadi kamu merasa kita tidak dalam masa damai?" cemooh Gara. Dia paham apa yang di maksud Hanen. Itu pasti soal Zia. Hanen diam dengan mata sayu dan wajah pucat lemah.
"Entahlah." Hanen tersenyum kemudian. "Aku hanya ingin tidak ada lagi perdebatan di antara kita. Aku yakin kamu pasti tidak akan menyerah."
"Jika hatiku sudah yakin, aku tidak akan pernah menyerah Han. Soal apapun itu. Aku pasti akan memperjuangkannya." Gara mengatakan ini karena ia yakin Hanen tengah membicarakan Zia.
"Syukurlah kamu masih begitu," dengus Hanen. "Aku harap kamu tetap seperti itu. Perjuangkan apa yang ingin kau miliki. Jangan menyerah." Lanjutan kalimat Hanen membuat Gara memperhatikan kakaknya itu dengan pandangan mata heran. Sebenarnya apa yang di pikirkan Hanen. Lalu apa yang dia bicarakan sebenarnya?
***
Kaki Gara melangkah dengan pikiran keruh. Setiap perkataan Hanen membuatnya berpikir keras. Sesaat ia ingat sesuatu. Kenapa Zia tidak muncul di kamar Hanen? Langkahnya kian cepat ketika hampir sampai di depan pintu kamar perempuan itu.
Kenop pintu terputar. Pria ini masuk dan terkejut ketika tahu ada mama di dalam kamar.
Mendengar ada yang memasuki kamar menantunya, mama menoleh. Beliau terkejut melihat putra keduanya muncul.
__ADS_1
"Gara?" tanya mama tidak bisa menutupi keterkejutannya. Mungkin itu akan beda jika orang lain yang masuk, tapi ini Gara. Kisah kelam mereka berdua tak bisa terlupa oleh beliau.
...----------------...