
“Nyonya ... Ada telepon dari Tuan.” Bibi datang membawa telepon genggam yang menggunakan wireless.
“Oh, ya sebentar. Kamu bisa ke dapur dengan bibi. Bi, Gara mau makan siang.”
“Iya, nyonya.”
“Mama akan kembali setelah menerima telepon dari papa,” ujar mama terpaksa mengambil keputusan. Zia menegang. Dia di tinggal dengan Gara?
Mama berjalan menjauh dari mereka. Zia menghela napas berat.
"Sebaiknya segera ke dapur. Sepertinya kamu butuh minum. Wajahmu pucat," nasehat Gara.
Zia diam.
"Aku tidak memaksa, tapi pikirkanlah bayi itu," kata Gara. Zia masih diam. Gara menghela napas. "Ikut aku," kata Gara menarik tangan Zia untuk ikut dengannya.
"Gara," desis Zia. Pria ini tidak peduli. Dia terus menarik tangan Zia untuk membawanya ke dapur.
Zia yang takut ibu mertua melihatnya berontak meminta pria ini melepaskan tangannya. "Lepaskan tanganku." Zia tetap tidak bisa memakai nada tinggi karena mertua bisa saja langsung menoleh ke arah mereka.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepas tanganmu kalau kamu menolak ajakan ku." Gara tidak peduli.
"Baiklah baik. Aku akan ikut kamu ke dapur. Makan dan minum dengan segera," kata Zia yang langsung membuat Gara berhenti mendadak.
Karena itu, Zia tidak bisa menyiapkan diri untuk berhenti karena begitu mendadak. Hingga perutnya terbentur tubuh Gara di depannya.
"Aw," keluh Zia spontan.
"Kamu enggak apa-apa, Zi?" tanya Gara cemas. Ia langsung membalikkan badan menyentuh perut besar itu. Zia terkejut merasakan sentuhan tangan Gara pada perutnya.
"Tidak. Aku tidak apa-apa." Zia mundur selangkah menghindari tangan Gara. Pria ini menyadari kalau dia tidak seharusnya menyentuh perut Zia.
"Syukurlah," ujar Gara lega juga sedih. Gara hendak berbalik dan menuju dapur saat Zia merintih sakit lagi.
"Zia, kamu kenapa?" tanya Gara cemas. Refleks ia mendekat lagi pada Zia. Sementara Zia masih diam merasakan bayi di dalam perutnya bergerak aktif. Ada sedikit nyeri yang ia rasakan ketika bayinya bergerak. "Jangan diam saja? Perut kamu kamu kenapa?" tanya Gara tidak sabar dan panik.
"Tidak apa-apa. Ini hanya karena bayinya bergerak aktif di dalam. Itu membuat sedikit nyeri, tapi semua aman. Aku baik-baik saja." Zia menegaskan.
"Sungguh?" Gara tidak percaya.
__ADS_1
"Aku tidak perlu sengaja berbohong untuk hal ini kan?" ketus Zia. Bayinya berhenti bergerak.
"Hhh ... Aku cemas dan panik," ungkap Gara jujur. Zia menelan ludah. Kenapa harus cemas dan panik? Zia mendahului Gara menuju dapur.
Bibi di dapur membungkuk menyambut keduanya.
"Makannya sudah siap," kata beliau.
"Iya. Terima kasih, Bi." sahut Gara dan Zia hampir bersamaan. Setelah itu bibi menjauh dari dapur yang menyatu dengan ruang makan ini.
Gara mengambil gelas dan diisi dengan air putih. Lalu mendekat ke Zia dan menyodorkannya.
"Minumlah. Kamu butuh banyak air, Zia."
Zia tidak menolak. Ia memang haus karena terburu-buru datang ke sini karena takut ketahuan Hanen.
"Terima kasih," kata Zia. Karena terburu-buru, air merembes dari gelas ke dagu.
"Minum pelan-pelan." Gara langsung menarik secarik tisu dari tempatnya dan mengulurkan tangan hendak menyeka air yang jatuh di dagu Zia.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri," tolak Zia yang tahu apa yang akan di lakukan Gara.
..._____...