
"Lepaskan tanganku," pinta Zia dengan dingin. Gara melepaskan tangan itu perlahan. "Jadi kamu melarang aku melihat suamiku?" tanya Zia seraya mendongak.
Gara menatap Zia yang masih duduk di atas ranjang rumah sakit dengan mata penuh dengan luka.
"Bukan."
"Jadi biarkan aku ke sana sekarang," kata Zia dengan nada agak dingin.
"Jika hanya ingin melihat keadaan Hanen, kamu bisa meminta bantuan ku. Aku bisa mengantar kamu ke sana tanpa melepas selang infus di tanganmu. Namun sepertinya bukan hanya itu keinginanmu. Yang aku lihat adalah kamu ingin menghindari ku. Kamu tidak ingin meminta bantuan ku atau apapun," ujar Gara dengan mata tersirat kepedihan.
Zia terdiam. Dia memang hanya ingin menghindar. Tidak nyaman rasanya saat Gara ada di dekatnya. Karena itu membuat perasaannya campur aduk.
"Kamu ingin aku pergi dari hadapanmu. Kamu tidak ingin melihatku," imbuh Gara. Tampak pria ini menahan diri karena emosional. "Atau kamu tidak ingin memberi kesempatan aku bisa melihatmu lagi.'
Zia menelan ludah. Ia menepis tangan Gara yang menyentuhnya, kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain. Menggigit bibir menahan rasa pedih yang mendesak dadanya.
Tatap mata Gara tidak bergeser sedikitpun dari perempuan itu. Ia masih sanggup memandang Zia yang berusaha keras menunjukkan keengganan padanya.
"Jika sudah tahu seperti itu, bukankah seharusnya kamu segera pergi?" tanya Zia tanpa menoleh pada Gara.
"Aku sungguh-sungguh mengkhawatirkan kamu, Zi." Gara berusaha mengatakan apa yang ada dalam benaknya sekarang. "Aku pikir kamu sudah terluka parah dan ... Aku takut kamu kenapa-kenapa." Gara mengatakan itu dengan emosional. Tercetak jelas rasa takut dan cemas pada mata dan raut wajahnya. Zia meremas kuat-kuat selimutnya.
Sejak awal berita insiden ini sampai di telinga Gara, yang di pikirkan pria ini tidak lain adalah Zia. Perempuan inilah yang memenuhi pikirannya. Apalagi melihat mama dan Rara yang ada di kamar tempat Hanen di rawat. Dia langsung menyimpulkan bahwa Zia tengah sendirian. Kakinya ingin saja langsung ke kamar tempat perempuan ini di rawat.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," sahut Zia masih tanpa menoleh. "Tapi bisa biarkan aku sendiri? Aku tidak apa-apa. Seperti yang kamu lihat." Kini dia mencoba menatap Gara dengan berani. Zia menunjukkan tubuhnya yang tidak banyak luka. Hanya tergores di beberapa bagian.
"Jadi meskipun saat terjadi insiden seperti ini kamu tetap ingin aku pergi tanpa mempedulikan mu?"
"Terima kasih sudah peduli padaku, tapi ini ..." Zia menahan kalimatnya. Ia berdecak pelan. Menggigit bibirnya keras untuk menahan perasaannya. Ini membuat Gara tergelitik ingin mendesak.
"Apa? Apa yang ingin kamu katakan?" kejar Gara yang tadinya beraura sendu, kini mulai naik hasratnya untuk menggoda.
__ADS_1
"Bisakah kamu berhenti melakukan itu?" Zia melanjutkan kalimatnya. "Bisakah kamu bersikap biasa? Lagipula tidak seharusnya kita hanya berdua seperti ini."
Bibir Gara tersenyum samar. Dia melihat ke sekitar. "Kenapa? Bukankah kita keluarga?" tanya Gara merasa geli sendiri dengan pertanyaannya. Dia tahu bahwa dirinya dan Zia bukanlah keluarga. Dia tidak bisa menjadi adik ipar bagi perempuan ini. Hatinya tidak bisa menerima itu. Pria ini menginginkan sebuah hubungan romantis sebagai pria dan wanita.
"Kamu tahu apa yang aku maksud," sembur Zia kesal dengan kepura-puraan Gara tentang kisah mereka. "Jadi tolong mengertilah."
"Soal kita Zi? Kisah cinta kita?" Bukannya diam, Gara justru makin gencar membuka kesalahan itu.
"Gara, tolong. Jangan ... Ughh!" Tiba-tiba Zia mengerang. Gara langsung duduk di ranjang dan menyentuh tubuh Zia karena terkejut.
"Kamu kenapa Zi?" tanya Gara panik seketika. Zia terdiam seraya tetap menahan rasa sakit di perutnya. Sepertinya bayinya bergerak begitu aktif sampai-sampai membuatnya mulas dan tidak nyaman. "Aku panggil dokter."
"Tidak apa-apa. Ini sudah biasa," cegah Zia saat Gara ingin menekan tombol nurse calling.
"Jika itu tentang kamu dan bayimu, itu bukan hal biasa Zia." Gara membantah. Dia segera menekan tombol nurse call. Tidak lama perawat segera datang ke ruangan ini.
"Ada apa dengan nyonya, Tuan?" tanya perawat itu siap melayani.
"Bukan. Ini hanya sakit biasa." Zia menggelengkan kepala seraya menggerakkan tangannya menolak.
"Sudah aku bilang, Zi. Jika itu kamu dan bayimu, itu pasti bukan sakit biasa," tegur Gara nadanya sedikit meninggi. Perawat itu berada di tengah pertengkaran dua manusia ini.
"Tenang Tuan dan Nyonya. Saya periksa dulu, baru saya bisa memastikan itu sakit karena apa." Perawat berusaha menengahi.
"Ya, cepat periksa dia. Aku yakin itu bukan sakit biasa. Mungkin saja dia mau melahirkan." Gara tidak mau mendengarkan Zia.
"Baik Tuan." Perawat itu mengangguk berusaha tetap ramah. "Silakan berbaring dengan benar, Nyonya," pinta perawat. Zia akhirnya diam dan mengalah. Dia membiarkan perawat mencoba memeriksa dirinya. Gara dengan cemas terus saja memperhatikan mereka.
"Bagaimana? Apa penyebab dia merasa perutnya sakit? Apa dia mau melahirkan?" tanya Gara tidak sabar.
"Ini hanya kontraksi palsu. Nyonya belum waktunya melahirkan." Perawat memberi penjelasan.
__ADS_1
"Tapi dia meringis kesakitan." Gara memberikan bukti bahwa kemungkinan sakit itu bukan sakit biasa.
"Ya. Kontraksi palsu juga menyebabkan perut sakit. Juga sepertinya janin di dalam rahim nyonya bergerak hebat. Itu juga membuat perut bisa terasa sakit." Masih dengan ramah dan sopan, perawat menjelaskan.
"Jadi bukan mau melahirkan?" tanya Gara masih kurang percaya. Rasa cemas membuatnya lupa kalau yang ada di depannya adalah orang pilihan dalam bidang kedokteran.
"Bukan. Sepetinya tadi bayi di dalam perutnya nyonya tengah bergembira hingga membuat gerakan sangat aktif." Perawat tersenyum. "Kemungkinan bayi Anda senang karena bertemu dengan ayahnya. Pasti Anda sudah membuatnya bahagia tadi."
Gara mengerjap mendengar itu. Zia juga melebarkan mata melihat ke arah perawat. Keduanya terkejut dengan kesalahpahaman perawat yang mengira Gara adalah suami Zia.
"Dia bukan suamiku ..." ujar Zia mengklarifikasi kesalahpahaman perawat. Namun Gara dengan cepat menyerobot kalimat Zia, hingga perawat itu berpaling dan mulai mendengarkan Gara bicara.
"Ya. Terima kasih sudah memeriksanya. Anda boleh kembali ke tempat Anda," ujar Gara membuat kalimat Zia tenggelam.
"Oh, ya. Saya permisi." Perawat tersenyum dan berjalan keluar meninggalkan mereka berdua lagi.
"Apa-apaan tadi, Gara?" tegur Zia setelah perawat tadi pergi.
"Apa?"
"Kenapa kamu tidak membantah kalau kamu bukan suamiku?" protes Zia.
"Apa itu penting?" Gara justru bertanya membuat Zia melebarkan mata heran.
"Kamu bertanya itu penting atau tidak? Apa kamu masih harus bertanya seperti itu, Gara?"
"Lagipula siapa peduli soal itu sekarang. Yang penting adalah sekarang bukan waktunya kamu melahirkan. Jadi aku bisa tenang." Gara menjawab dengan mudah.
Klak! Pintu kamar perawatan Zia terbuka. Gara dan Zia menoleh. Kali ini bukan perawat, ternyata itu Rara. Gadis itu tertegun dengan keberadaan Gara di dalam kamar Zia.
...________...
__ADS_1