Getir

Getir
Bab. 114


__ADS_3

Hanen menatap perempuan di depannya dalam. Lalu ia menangkup kedua pipi Zia dan tersenyum padanya.


"Baiklah. Aku tidak akan membicarakan itu lagi," janji Hanen seraya menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Zia sebentar. Bola mata Zia melebar dan mengedarkan pandangan ke sekitar dengan panik. "Tidak ada yang melihat. Mereka sibuk sendiri," jelas Hanen tahu arti dari raut wajah panik Zia barusan.


"Tidak mungkin. Ini jalan umum kan? Pasti ada satu atau dua orang yang melihat apa yang kamu lakukan barusan," gerutu Zia. Hanen terkekeh melihat Zia cemberut. Lalu dia mendekap tubuh istrinya lagi.


"Aku mencintaimu, Zia," bisik Han. Zia tersenyum. Setelah puas memeluk istrinya, mereka kembali berjalan menyusuri joging track.


"Sepertinya anak kita perempuan," kata Hanen. Mereka belum tahu gender bayi di dalam kandungan. Karena sengaja tidak ingin tahu untuk sebuah kejutan.


"Kenapa?"


"Karena belakangan ini, kamu makin menggemaskan saja. Juga seringkali terlihat cute," ujar Hanen seraya melukis senyum bahagia di bibirnya.


"Benarkah?"

__ADS_1


"Ya."


Zia tergelak. "Kamu memang perayu ulung, pria tampan," tuding Zia menowel hidung Hanen. Mereka berdua tertawa bahagia. "Aku haus dan ingin makan buah," ujar Zia.


"Baiklah kita kembali ke mobil lalu pergi mencari buah," ajak Hanen. Zia menggeleng.


"Tidak. Tempat parkir mobil agak jauh. Lebih baik kita menyebrang ke sana." Zia menunjuk ke arah minimarket yang ada di seberang jalan. Hanen ikut melihat.


"Baiklah. Kita akan kesana," ujar Hanen setuju. Saat itu seorang perempuan yang sejak tadi memperhatikan mereka mendekat.


"Selamat Han, kamu terlihat bahagia sekarang." Sebuah suara menghentikan langkah mereka untuk menyeberang. Tubuh mereka berbalik dan mendapati Kayla ada di sana. Ternyata perempuan yang sejak tadi memperhatikan mereka adalah dia. Orang yang membocorkan skandal Zia dan Gara pada media. Juga mantan kekasih Hanen yang menjadi duri dalam pernikahan Han dan Zia.


"Tenanglah Han. Tenangkan dirimu. Bukankah kamu sudah menang?" tanya Kayla dengan senyuman sinis. Dia melirik Zia. Bola mata Zia juga ikut menatap perempuan itu.


"Sebaiknya kita pergi, Zia." Hanen langsung mengajak Zia pergi.

__ADS_1


"Jangan terburu-buru Han, aku masih ingin bicara penting denganmu. Ini tentang momen syahdu tentang kita berdua," ujar Kayla mampu menghentikan kaki Han yang tadi ingin melangkah pergi menghindarinya.


Zia mendongak menatap Han. Dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun mungkin dia paham maksudnya.


"Kau masih ingin menghancurkan aku lagi?" tanya Hanen geram.


"Benar." Kayla menjentikkan jarinya senang. "Kamu pintar sekali Hanen. Aku tidak salah pilih menjadikanmu kekasihku."


"Dan aku yang justru salah menjadikanmu kekasih," desis Hanen. Kayla mendengus geram.


"Tentang dia tidak ada hubungannya dengan mu Kayla." Hanen pasang badan untuk melindungi istrinya. "Kita pergi." Hanen mengabaikan Kayla dan memilih hendak menyebrang menuju ke minimarket.


"Dasar perempuan ja*lang!" teriak Kayla seraya mendorong tubuh Zia. Dorongan itu membuat tubuh ibu hamil itu oleng ke badan jalan. Padahal saat itu ada mobil melintas dengan cepat.


"Zia!" teriak Hanen.

__ADS_1


Seketika itu, suara decitan rem mobil yang di injak kuat terdengar begitu memekakkan telinga. Saat itu juga suara benturan keras menyusul kemudian. Semua mata melihat dengan ngeri.


..._______...


__ADS_2