
Zia memegang nampan berisi dua stoples kue dengan erat. Dia tidak ingin menjatuhkannya dan membuat suara mengganggu dan menambah ramainya suasana di ruang tengah. Dia mendengar pembicaraan mereka. Indra pendengarannya menerima dengan baik apa yang di katakan pria-pria di sana tadi. Soal perusahaan. Soal dirinya.
Tubuhnya membeku. Sesaat bola matanya memang melebar karena terkejut. Namun sejurus kemudian redup. Zia seperti sudah bisa membacanya.
Hanen menikahinya demi ahli waris perusahaan. Itu salah satu syarat yang harus di lakukan Hanen demi menjadi pewaris di perusahaan kosmetik itu. Zia tidak tahu tentang ini. Sama sekali. Namun dia sudah menduga bahwa pria ini pasti punya tujuan lain saat Han bilang dia tidak mencintainya meski mau menikahinya.
Setelah berhenti memukul Gara, kepala Han langsung menoleh pada Zia yang berdiri di belakang dengan cepat.
"Zi ..." lirih Han.
Matanya yang tadi merah marah, kini terlihat khawatir. Pria ini panik. Alasan dia mempertahankan Zia terungkap. Dan wanita itu mendengarnya.
Zia tahu Han sedang memandangnya. Bola mata Hanen memohon pada Zia untuk tetap mempercayainya. Dia takut wanita ini akan berpikir perubahan sikapnya ini adalah bagian dari sandiwara demi mendapatkan perusahaan. Namun Zia justru menundukkan pandangan. Dia tidak ingin bola mata mereka bertemu.
Hanen berdecih. Dia terluka Zia enggan melihatnya saat ini.
......................
......................
Mama segera di ungsikan ke kamar Rara. Beliau rebahan dengan penat di kepala. Lengannya menutup mata. Rara duduk di pinggir ranjang menemani beliau.
"Mama tidak percaya ... Mereka berdua ...," ujar mama sambil terbata-bata.
"Jangan bicara dulu, Ma. Mama harus mengatur napas dulu. Napas mama tersengal-sengal. Tenanglah." Rara mencoba menenangkan mamanya dengan cara mengelus punggung perempuan paruh baya itu. Bibi dapur mengambilkan air untuk nyonya besar.
__ADS_1
"Air minum, Non." Rara menerima sodoran gelas.
"Makasih, Bi. Minumlah dulu, Ma." Rara menyodorkan gelas kepada mamanya. Beliau menerima gelas dengan tangan gemetar. Rara tidak melepaskan gelas begitu saja. Dia membimbing mamanya untuk minum. Setelah beberapa teguk, beliau terlihat lebih tenang.
"Mama tidak habis pikir. Mama yakin, Gara bukan orang yang suka mengurusi hal semacam itu. Kamu tahu kan, Rara. Kakakmu yang satu itu?" Mama bertanya sambil memegangi kepalanya yang pusing. Rara memberikan gelas pada bibi. Setelah itu bibi pergi keluar dari kamar. "Gara tidak akan peduli soal perusahaan. Entah dia di beri bagian dari perusahaan papa yang lain atau tidak, dia tetap tidak peduli. Gara tidak akan bereaksi."
"Ya. Kak Gara memang seperti itu." Rara membenarkan soal ini.
"Namun kenapa hari ini dia seakan marah soal pemberian saham perusahaan itu?" Mama mengambil napas panjang. Beliau merasa bingung dan heran. "Ada apa sebenarnya dengannya?"
Rara diam tidak menjawab. Tangannya sibuk memijit lengan mamanya.
"Han juga bukanlah orang yang kasar seperti itu. Mama tahu bagaimana Hanen, tapi hari ini dia begitu berbeda." Mama begitu yakin saat mengatakannya. "Hanen jadi seperti orang lain. Han mulai ... seperti Gara yang suka berontak." Rara menghela napas mendengar pendapat mamanya.
"Kak Gara hanya punya pandangan sendiri soal kehidupannya, Ma. Bukan pemberontak. Dia hanya ingin mandiri tanpa tergantung pada orangtua." Rara berusaha meralat pandangan mamanya kepada kakak keduanya itu. Mama menoleh pada putri satu-satunya itu.
"Ra ...," tegur mama pelan dan lembut.
"Mama yakin mau mendengarkan ceritaku?" tanya Rara ragu.
"Tentu. Sekarang. Kedua putra mama sedang berkelahi. Itu bukan hal biasa. Itu hal yang perlu di telusuri. Karena sejauh ini, mereka berdua adalah saudara yang baik. Ada apa dengan mereka?" tanya mama siap mendengarkan. Rara melihat mamanya. Bibirnya masih bungkam. "Apapun yang kamu tahu katakan saja, sayang ...," pinta mama.
Dia berdiri dan meletakkan bantal dengan benar pada punggung mamanya. "Memang ada sedikit masalah, Ma." Akhirnya Rara akan mengungkap semua.
"Masalah apa? Mama rasa itu bukan masalah yang sedikit. Bukan masalah kecil," tegas mama yang sangat yakin ada suatu permasalahan besar di dalam persaudaraan putranya. Rara tidak menjawab. Gadis ini hanya terus saja memijat pundak mamanya. "Ayo jawab Ra. Ceritakan semua. Biar mama tahu." Rara menghentikan pijatannya dan berjalan kembali ke tempat dia duduk tadi.
"Ini ... soal kak Zia." Rara mengatakan dengan lambat-lambat.
"Zia? Kenapa Zia? Bukankah yang sedang bertengkar dan saling pukul itu Hanen dan Gara." Mama mengerutkan keningnya. Beliau terpinga-pinga mendengar Rara menyebut nama menantunya.
__ADS_1
"Ya. Rara tahu. Sekarang yang bertengkar dan berkelahi adalah kak Hanen dan kak Gara. Namun memang pertengkaran mereka terjadi karena kak Zia."
"Terjadi karena Zia?" Lagi-lagi kening mama mengerut. Beliau tampak berpikir. Sengaja Rara tidak dengan gamblang dan lugas bercerita soal adanya cinta di antara Gara dan Zia. Dia tidak ingin seperti langsung mengadu. "Sebentar. Apa jangan-jangan ... Gara menyukai Zia?" tanya mama mencoba menerka.
Akhirnya ... desah Rara dalam hati.
Kepala Rara menggangguk. Raut wajah mama semakin terperangah melihat anggukan putrinya. Selain karena dugaannya benar, juga tidak menyangka bahwa itulah permasalahan yang sedang terjadi di antara mereka berdua. Kedua putranya.
"Benarkah Rara? Benarkah itu?" Mama setengah mengguncang-guncangkan lengan putrinya.
"Benar, Ma. Aku juga tidak menduga awalnya, tapi itulah kenyataan yang menjadi perselisihan di antara mereka."
"Apakah Zia ... bukan wanita baik-baik?" tanya mama dengan wajah miris. "Mama salah pilih? Kenapa Gara bisa langsung terpikat padanya?"
Rara terkesiap. "Bukan. Mama jangan menghakimi kak Zia langsung begitu dong." Hampir saja nama Zia tercoreng.
"Lalu apa, Ra? Apa yang membuat mereka harus memperebutkan Zia? Gara adalah orang yang dingin, tapi juga bukan anak yang suka merebut perempuan yang sudah bersuami. Ya ... walaupun dia sering memberontak. Lalu Hanen. Dia kakakmu yang terbaik, Ra. Dia penurut, rajin dan berwibawa." Mendengar itu Rara mendesah.
"Mama ... tolong jangan selalu mengunggul-unggulkan kak Hanen. Itu tidak baik."
"Rara ... Kamu tahu sendiri Han itu sudah berjuang keras untuk perusahaan kosmetik yang dia pegang sekarang. Dia bisa membuat perusahaan itu semakin besar dan tangguh. Dia mirip papamu."
"Untuk pekerjaan mungkin iya, tapi untuk sifat ... Rara enggak setuju."
"Bagaimana kamu bisa tidak setuju Han itu pria yang baik, Ra."
"Mama ... Mama enggak ngerti kan bagaimana perlakuan kak Hanen ke kak Zia selama ini ..." Rara merasa kesal sendiri tentang kakak pertamanya ini. Juga mama yang tidak mengerti bagaimana Hanen sebenarnya.
__ADS_1