
Teriakan orang-orang yang ada di sana juga menambah mencekamnya suasana dari kejadian yang baru saja terjadi. Suara klakson terdengar dari kendaraan lain yang tidak tahu ada kecelakaan sedang terjadi, ikut menambah bisingnya suara.
Orang-orang berdatangan untuk menolong. Mereka juga dengan inisiatif sendiri mengatur jalannya kendaraan yang lalu lalang agar berjalan pelan dan hati-hati karena macet.
Saat itu sebuah tubuh tergeletak tak berdaya di atas aspal agak jauh dari tempat berhentinya mobil yang mengerem tadi. Tubuh itu penuh darah.
Zia memegangi kepalanya yang sangat pusing. Juga merasakan tubuhnya yang terbentur aspal dengan meringis. Ia berbaring kesakitan. Seseorang menyentuh lengannya. Zia membuka mata.
"Mbak enggak apa-apa?" tanya seorang perempuan mengejutkannya. Zia mengerjapkan mata. Dia tidak merasa mengenal perempuan ini. Bola matanya beredar ke sekitar. Ternyata banyak orang yang mengelilinginya. Zia kebingungan.
Masih teringat kalimat yang Kayla katakan tadi dengan sengit. Otaknya memutar lagi memori beberapa menit yang lalu. Itu tepat sebelum ia meringis kesakitan seperti sekarang.
"Perempuan ini sudah berhasil kamu dapatkan, itu setelah dia mengobrak abrik hati seorang pria. Setelah Hanen memilih membuang ku dan kembali padamu, dengan wajah polos itu, kau juga membuang Gara yang sudah hancur karena mu. Betapa egoisnya kamu Zia," tuding Kayla pada dirinya.
__ADS_1
Ketika itu Zia terdiam. Dia tidak bisa membantah. Apa yang di katakan Kayla tentang dirinya benar adanya. Dia egois. Mementingkan kebahagiaan dirinya dengan Hanen tanpa memedulikan perasaan Gara.
Seingatnya Hanen mengajaknya pergi menyeberang jalan setelah Kayla mengucapkan itu, tapi kenapa ia berbaring disini? Bahkan dengan orang yang tidak ia kenal.
"Sebentar lagi ambulan akan datang. Jadi Mbak bisa tenang," ujar pria yang juga tengah ada di sekitarnya.
"Han, mana Han?" tanya Zia dengan suara berat. Mereka saling berpandangan.
"Mbak mau minum dulu?" Bukan menjawab mereka justru menawarkan minuman.
"Mbak harus tenang dulu," ujar perempuan yang ternyata jadi bantal ia berbaring sekarang.
"Ya. Mbak harus tenang ya ...," ujar yang lain makin membuat Zia gelisah. Tidak terasa kegelisahannya makin menjadi ketika ia melihat ke arah kerumunan orang di tengah jalan.
__ADS_1
"A-ada apa ini?" tanya Zia seperti baru sadar. Suara mobil ambulan terdengar memilukan dari arah utara. Itu memutus pertanyaan Zia karena semua orang langsung berteriak lantang untuk segera meminta bantuan.
Sesaat ia melihat Kayla di sekitarnya. Perempuan itu berdiri dengan gemetaran di pinggir jalan. Matanya melebar nanar dan ketakutan melihat apa yang terjadi. Ingin dia berlari dari sana tapi tidak bisa. Karena panik dan rasa takut yang besar, kaki Kayla tidak mampu bergerak dari tempat ia berdiri.
Apa? Apa yang terjadi?
Matanya pun melebar ketika melihat orang-orang itu mengangkat tubuh seseorang yang penuh darah itu naik ke atas tandu. Napas Zia tercekat ketika dia mengenali wajah itu.
"Han ... " lirih Zia tertahan. "Han! Itu Hanen! Itu Hanen suamiku!" teriak Zia berontak.
"Tenang mbak, jangan banyak gerak," pinta perempuan yang menolong Zia jatuh tadi.
"Haaann! Haaaann!" teriakan pilu Zia yang memanggil suaminya yang tergeletak dengan tubuh berdarah, membuat orang-orang yang menyaksikannya ikut berkaca-kaca mendengar teriakan pilu yang menyayat hati.
__ADS_1
..._____...