
"Tapi tetap saja aku ..." Air mata Zia mulai menetes.
"Iya, aku mengerti. Tenanglah." Han mengusap air mata Zia. Namun tiba-tiba tubuh perempuan itu lemas. Hingga Han harus menangkap tubuh Zia. "Zia!" teriak Han kalut. Zia pingsan lagi.
***
Siang hari ini, di depan gedung perusahaan milik Gara, banyak reporter dan wartawan yang berkumpul di sana. Sepertinya mereka sengaja di kumpulkan untuk sebuah konferensi pers.
Sementara itu di dalam ruang kerjanya, Gara terdiam seraya menatap pada satu titik di depan. Pria ini bukan sedang mengamati sesuatu. Dia tengah berpikir. Memikirkan apa yang akan terjadi sebentar lagi.
"Hhh ..." Gara menghela napas begitu berat. Ada beban besar yang dirasakannya. Pandangan Gara mengarah ke langit-langit ruang kerja. Menerawang membayangkan apa yang Han katakan. "Apa dia sudah gila?" tanya Gara sambil berdecak pada dirinya sendiri.
"Cck!" Gara memukul meja sambil berdecak kesal lagi. Ada yang menganggu pikirannya.
Zia. Aku harap sekarang kamu baik-baik saja. Semoga apa yang dikatakan Han benar.
***
Pikiran Gara kembali pada kejadian tadi malam.
__ADS_1
Saat itu Gara tengah mencoba memejamkan mata meksipun masih sore. Karena ia ingin tidur dan tidak memikirkan apa-apa. Namun meski di paksakan, matanya justru ingin terbuka.
Tubuh Gara bangun dari tidurnya. Ia memilih turun dan menuju dapur. Membuka kulkas dan mencari buah favoritnya.
Ada. Dia selalu membeli buah alpukat untuk stok. Dia sangat menyukai buah ini. Ponselnya yang di biarkan tergeletak di atas meja bergetar dan berdering.
Gara memilih tidak mengindahkan. Saat ini ia tidak ingin bicara dengan siapapun. Bahkan hanya ingin melihat siapa yang menghubunginya pun ia enggan.
Rupanya orang di seberang itu gigih mencoba meneleponnya. Namun kegigihan Gara untuk tidak peduli lebih kuat, hingga akhirnya sering ponsel berhenti.
"Mungkin aku bodoh tetap menyimpan nama Zia di hatiku," gumam Gara seraya tersenyum pedih. Wanita itu yang pertama menggugah hatinya yang tertutup bagi siapa saja.
Sekitar lima belas menit, pintu rumah terbuka. Sepertinya Rara, karena gadis itu belum pulang dari pesta ulang tahun temannya.
Gara menoleh.
"Oh, kau yang menelepon ku?" tanya Gara.
"Ya. Dan kamu tidak mengangkat handphone-mu," ujar Han. Gara mendengus.
__ADS_1
"Kamu tidak tahu aku sedang sibuk." Gara sedang mengupas alpukat.
"Kamu masih saja menyukai buah itu." Han menarik kursi dan duduk.
"Kamu datang sendirian?" tanya Gara heran. Karena setelah Han duduk, tidak ada tanda-tanda akan ada orang lain lagi yang masuk.
"Ya," sahut Hanen singkat.
"Kamu meninggalkan Zia sendirian?" tanya Gara langsung menunjukkan wajah cemas. Han menatap adiknya yang heran. Sepertinya pria ini tidak tahu kondisi Zia yang pingsan lagi. Berarti dia tidak melihat kabar terbaru?
"Kamu tidak tahu kabar terbaru?" selidik Han karena Gara tampak biasa saja.
"Kabar? Tentang apa?" Gara bertanya dengan tangannya masih.
"Media memberitakan lagi soal kamu dan Zia."
"Apa?" Gara langsung menoleh pada Han dengan cepat. Raut wajahnya yang begitu terkejut menunjukkan bahwa dia tidak tahu apa-apa. Tangannya yang memegang alpukat mengambang di sana.
Gara begitu terkejut mendengar apa yang dikatakan Han barusan.
__ADS_1
...____...
..._____...