Getir

Getir
Syahdu


__ADS_3


Rara mengangguk-anggukkan kepala setuju dengan apa yang Han katakan. Saat ini memang kakaknya itu terlihat begitu bahagia. Jadi meskipun tidak menjabat sebagai orang nomor satu di perusahaan, dia merasa tidak perlu bersedih.


"Aku ikut senang jika kak Han bahagia. Jangan lupa selalu membahagiakan Kak Zia," nasehat Rara dengan wajah di buat serius.


Hanen tergelak. "Kamu sangat mirip mama. Cerewet."


"Dia bukan cerewet. Dia peduli," bela Zia.


"Ya. Adikku memang peduli padaku. Kalian berdua memang satu server," tuding Han berpura-pura marah. Tawa mereka pun meledak.


Di tempat yang sama, tapi meja yang lain. Gara tengah makan malam dengan seorang wanita.


"Akhirnya kita bisa makan malam bersama setelah berulangkali kamu menolak ajakanku, Ga," ujar wanita itu.


"Jangan besar kepala. Aku menerima ajakan makan malammu karena kita akan membicarakan bisnis," jawab Gara pada putri keluarga rekan bisnis papanya.


"Hmmm ... jadi benar menurut apa yang aku dengar. Kamu begitu dingin. Tidak apa-apa. Aku lebih suka pria dingin yang sulit di taklukan daripada pria hangat yang mudah luluh." Wanita itu mulai minum dengan anggun.


Saat itu bola mata Gara menemukan seseorang yang langsung mengalihkan perhatiannya. Zia! Perempuan itu sedang bersama dua saudaranya. Dada Gara berdesir. Dia masih merindukannya. Ingin rasanya mendekat dan menatapnya dari dekat.


"Raut wajahmu berubah sangat lembut dan hangat. Boleh aku tahu ada apa?" tanya wanita di depannya. Rupanya wanita ini selalu memperhatikan gerak-gerik Gara. Kepala Gara menoleh dan menatap wanita di depannya dengan pandangan datar.


Sebenarnya dia terkejut dengan perkataan wanita ini. Namun, dia yakin itu benar. Raut wajahnya pastilah berubah karena melihat Zia.


"Jangan berkata macam-macam." Gara meneguk minumannya.


Aku rindu, Zia.

__ADS_1



Hujan turun hanya rintik-rintik pada awalnya. Hingga akhirnya saat Hanen dan Zia sampai di rumah, hujan pun turun dengan derasnya.


"Hujan turun sangat deras," ujar Han melongok ke luar jendela di dapur.


"Untung saja kita sudah sampai. Apa Rara juga sudah sampai ya?" tanya Zia yang sedang mengaduk teh hangat di sampingnya.


"Aku rasa Rara juga sudah sampai. Jadi tidak perlu mengkhawatirkan dia."


"Kalau begitu syukurlah. Ini." Zia menyodorkan teh hangat pada Hanen.


"Terima kasih. Kamu juga membuat untukmu?"


"Ya. Kita bisa minum teh bersama sebelum tidur." Zia mengambil secangkir teh miliknya. Han tersenyum. Meletakkan cangkir masing-masing di tangan. Lalu mereka berdua meminum teh bersama sambil menikmati hujan turun dari jendela.


Bagaimanapun Han adalah suaminya. Meskipun pria ini pernah menyakitinya, dia juga berusaha memperbaiki hubungannya saat pria ini juga sudah perlahan berubah.


Hujan yang turun membawa angin dingin menusuk tulang. Meskipun di dalam rumah sudah ada penghangat ruangan, hawa dingin masih terasa.


"Terima kasih sudah mau menerimaku, Zia," ujar Han memulai perbincangan.


"Cukup. Aku sudah terima rasa terima kasihmu berulang kali."


"Namun aku rasa belum cukup. Aku belum cukup meminta maaf dan berterima kasih."


"Sudahlah. Kamu hanya perlu membuktikan semua yang kamu janjikan padaku tanpa perlu mengucap maaf ataupun terima kasih. Itu lebih penting."


"Aku akan ingat itu." Han menyeruput teh yang di buatkan oleh Zia. " Teh ini lebih nikmat saat di temani olehmu," ujar Han sambil melebarkan bola matanya. Zia hanya mendengkus lucu. Menurutnya Han pasti sedang menggombal. "Aku tidak menyangka dengan sebuah teh saja aku sangat bahagia." Han menatap tehnya dengan takjub.

__ADS_1


"Kebahagiaan itu sederhana jika kita sanggup selalu mensyukurinya," ujar Zia. Han menghela napas ringan. Lalu tangannya meletakkan cangkir teh di atas meja pantry.


"Mungkin kesalahan terbesarku adalah tidak mensyukuri bahwa kamu sudah ada di sampingku." Han menatap perempuan di depannya dengan dalam. Kemudian tangannya terulur menyentuh pipinya. Bibir Zia tersenyum tipis.


Bola mata Han melihat senyuman itu dan memaku tatapannya di atas bibir Zia. Kemudian ia mendekatkan kepala, dan menempelkan bibirnya di atas bibir perempuan itu. Bola mata Zia melebar. Tangannya yang masih memegang cangkir teh, mengambang di udara. Ia terkejut saat Hanen mencium bibirnya.


"Aku menciummu tanpa ijin," ujar Han setelah melepas bibirnya dari bibir Zia. Bola mata Zia mengerjap. Kemudian menunduk menatap cangkir teh yang terabaikan di tangannya. "Kamu marah?" tanya Han merasa bersalah karena Zia menunduk. Ini adalah ciuman kedua setelah Han ingin dekat dengan istrinya.


Kepala Zia menggeleng. Han melepaskan cangkir Zia dan meletakkan di atas meja. "Tatap aku, Zi." Tangan Han menyentuh dagu Zia dan mengarahkan pandangan mereka untuk bertemu. Bola mata Zia mengkerjap sekali lagi. "Aku mencintaimu."


Hanen memagut lagi bibir Zia. Kali ini bukan ciuman kasar yang pernah di lakukan Han saat di dalam mobil. Ciuman kali ini begitu lembut dan penuh perasaan. Zia terhanyut. Dia yang awalnya hanya diam, kini berusaha mengikuti permainan lidah Hanen.


Bibir Han yang awalnya hanya di atas bibir, kini merambat ke samping. Menyibak rambut Zia. Menyingkap kaos dan memamerkan pundak perempuan ini yang polos. Menjejakkan bibir di atas sana dan mulai merambah ke bawah dagu.


Tangan Han langsung menaikkan tubuh Zia ke atas lengannya. Membawa tubuh Zia yang kecil menuju ke kamar mereka.



Tubuh mereka berdua pun polos. Zia mengijinkan Hanen menyatukan diri dengan tubuhnya. Ini adalah pertama kalinya dalam kehidupan rumah tangga mereka. Zia setuju menyerahkan dirinya pada Han.


"Aku tidak akan menyakitimu, Zi. Apapun cobaannya." Zia mengangguk samar. Setelah mengatakan itu Han yang sudah berada di atas tubuh Zia mulai mencumbui permukaan kulit polos itu. Tangan Zia melingkar di leher Han. Menahan kenikmatan untuk pertama kalinya yang dia dapatkan dari Hanen. Namun desahan demi desahan pun tak sanggup di tahan. Akhirnya desahan lolos dari bibirnya


Mendadak ada perasaan aneh saat Han menyatukan diri dengannya. Ada rasa sedih, sakit dan rindu di relung hatinya. Gigi Ziapun menggigit bibir bawah. Tanpa terasa air mata Zia meleleh. Zia memeluk Hanen sambil menangis. Rasa itu mendesak air matanya keluar tanpa bisa di tahan.


Namun dia sekuat tenaga untuk tidak memperdengarkan tangisannya pada Han. Karena kini dia sadar tangisan ini untuk siapa. Zia teringat dengan pria itu. Gara. Zia teringat lagi saat Gara memberikan kenikmatan yang dia inginkan.


Aku rindu, Ga.


Hanen menyadari ada yang aneh dengan Zia yang memeluknya. "Aku menyakitimu, Zi?" tanya Han dengan kepala Zia masih berada di atas pundaknya. Kepala itu menggeleng. "Kamu tidak setuju aku melakukan ini?" tanya Han lagi. Kepala Zia juga menggeleng untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Ada apa, Zi?" Hanen kebingungan. Irama bercinta mereka berantakan. Han memilih duduk dan mempererat pelukan pada tubuh Zia. Perempuan ini tidak bisa memperlihatkan tangisannya pada Han. Jadi dia diam sambil tetap menenggelamkan kepalanya pada bahu Hanen.



__ADS_2