Getir

Getir
Pendamping pesta


__ADS_3


.......


.......


.......


Entah dengan keberanian apa Kayla masih saja sering muncul di perusahaan Hanen. Wanita ini sungguh punya aura yang menakjubkan. Di antara keberadaannya yang bisa saja di anggap sebagai pemercik api di antara aku dan Hanen sebagai suami istri, dia masih bisa bersikap anggun dengan dagu terangkat.


Seringkali ku perhatikan langkah dan lenggok tubuhnya yang terlihat sempurna. Hatiku menciut melihat itu. Jelas saja Hanen membenciku. Dia tidak bisa terus bersama dengan wanita itu. Itu pasti membuatnya frustasi.


Aku berharap kita tidak bisa bertatap muka. Kita tidak perlu berjumpa. Namun, takdir berkata berbeda. Kita berdua di pertemukan dalam satu waktu yang sama. Aku melihat Kayla keluar dari dalam lift bersama Han.


Bola mataku terus melihat ke arah perempuan itu. Seperti tidak punya rasa bersalah padaku, Kayla tetap bersikap biasa. Mungkin perempuan itu belajar dari sikan Hanen yang seringkali mengabaikanku. Dia merasa tidak perlu menunduk karena anggap saja hari ini tertangkap basah bertemu denganku sedang bersama Han, yang tak lain adalah suamiku.


Lalu keduanya keluar dari kotak lift. Melewatiku begitu saja tanpa basa-basi. Kakiku terhenti. Tidak berkeinginan masuk dalam kubus lift dan pulang. Bukan menangis. Aku hanya sedang ingin menyampaikan pesan.


"Kamu masih ada pekerjaan, Han?" tanyaku sambil membalikkan badan. Kulihat langkah Han berhenti. Kayla mengikuti. Lalu keduanya membalikkan tubuh menghadapku.


"Tidak. Namun aku masih ada perlu." Han melirik ke arah perempuan di sampingnya. Itu pasti urusan dengan perempuan ini. "Kenapa bertanya? Kamu ingin pulang bersamaku lagi?"


"Bukan. Mama ingin kita menghadiri pesta pernikahan saudara. Apa beliau tidak memberitahumu?" Alis Han mengerut. Dia melihat layar ponsel. Memeriksa sesuatu.


"Tidak."


"Berarti aku yang harus memberitahumu. Beliau menanti kedatangan kita berdua." Ku angkat daguku saat mengatakannya. Aku ingin perempuan itu tahu bahwa kita perlu berdua malam ini. Itu tidak bisa di elakkan karena orangtua Han sendiri yang meminta.


Ada gerutuan pelan dari bibir pria itu. Kayla menoleh pada Han dan tersenyum.


"Kita bisa berbincang sejenak sebelum acara itu Han ...," katanya sambil menyentuh lengan Han. Aku membuang muka. Apa yang sedang di pikir perempuan ini? Dengan terang-terangan dia menyentuh seorang pria di hadapan istrinya.


"Ya. Lakukan itu dengan cepat jika kalian memang masih ingin berdua. Lalu pulanglah dan lakukan tugasmu sebagai putra mama," ujarku tegas dan menohok. Ku lihat reaksi keduanya terkejut mendengar kalimatku. Ya. Aku sudah cukup diam dengan kelakuan mereka yang tidak pernah mencoba sembunyi. "Aku pulang dan menunggumu di rumah." Ku balikkan tubuh dan menghadap kubus lift. Menekan tombol dan menunggu pintu lift terbuka beberapa detik.

__ADS_1


"Jangan lupa, Han. Ini permintaan mamamu. Bukan aku," ujarku sebelum pintu tertutup kemudian.


"Kenapa perempuan itu mulai bersikap berani seperti itu? Aku pikir kamu sudah bisa membuatnya bungkam karena dia begitu mencintaimu dan tidak bisa berbuat apa-apa, Han ..." Kayla menegur.


"Aku yakin dia sangat mencintaiku, Kay. Itu yang membuatnya bertahan meskipun dengan terang-terangan aku selalu bersamamu," ujar Han.


Cinta memang menakutkan. Buktinya, Han berani dan sanggup meninggalkan malam pertama dengan Zia istrinya, untuk lebih memilih bersama Kayla.


***



***


Aku terpekur di dalam kamar sendirian. Sudah jam setengah 8 lebih, Han belum muncul juga. Rara dan Gara sudah aku beritahu. Kemungkinan mereka berdua pasti sudah berangkat tadi.


Ku pandangi layar ponsel. Tidak ada pesan sama sekali dari Han. Sepertinya pria itu mengabaikan pesanku. Aku mendesah lelah. Ku ajak kakiku melangkah keluar kamar. Masih dengan gaun pesta sederhana aku berjalan turun ke lantai satu. Ada suara langkah kaki dari depan.


Namun dugaanku salah. Itu bukan Han. Itu Gara. Mataku membulat melihat dia muncul. Ku alihkan kakiku ke arah ruang tengah. Tubuhku yang tadi berdiri bersiap menyambut sambil bersidekap, langsung membelok dan duduk di sofa.


Aku tidak ingin berpapasan dengannya. Sudah ku usahakan tadi mengurung diri di kamar sampai Han datang. Namun nyatanya sekarang justru kita bersua.


Ku harap dia mengabaikanku yang duduk bersandar. Dan segera menyelesaikan urusannya yang membuatnya kembali dari pesta saudara mertuaku.


"Kamu di situ?" tegurnya. Aku memejamkan mata sekilas. Ada apa dengannya? Kenapa menegurku?


"Ya," jawabku tidak peduli. Masih dengan memandangi majalah kosmetik di tanganku.


"Sepertinya Han tidak akan mengantarmu ke pesta. Ayo, aku antar kamu kesana."


"Tidak perlu. Han mungkin akan datang meskipun terlambat," ujarku seakan menjadi perempuan bebal. Padahal aku juga sadar bahwa Han tidak akan muncul. Dia pasti lupa atau bahkan tidak peduli dengan pesan mama.


"Jangan bersikap kaku, Zia. Aku datang agar kamu masih bisa di sebut menantu mama yang baik. Jika kamu masih berminat menjadi istri Han tentunya."

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanyaku tidak suka. Ku lihat dia. Majalah yang ku pegang tidak lagi menarik.


"Kamu masih bertahan meskipun Han bersama Kayla. Itu membuktikan bahwa kamu tetap ingin menjadi menantu keluarga Laksana bukan?"


Itu seperti merendahkanku. "Apa aku tampak hanya menginginkan status menjadi anggota keluarga Laksana daripada menginginkan pernikahan atas nama cinta?" tanyaku menatap pria ini serius. Ku letakkan majalah itu di meja.


"Tidak. Aku hanya melihatmu masih bersikap berusaha tidak ada masalah meskipun berulangkali Han menyakitimu. Kamu ingin tampak baik-baik saja di depan semua orang."


Kalimat Gara membuatku menelan ludah. Tidak ada yang salah dari dugaannya, tapi entah kenapa membuatku menunduk ingin menangis. Setelah berhasil menelan saliva dan menahan tangis, aku mendongak lagi.


"Kamu tidak pandai membaca pikiran seseorang. Kamu salah tentang aku," kilahku.


"Bisa jadi. Karena aku menemukan hal lain tentang sosok Zia yang tidak aku tahu. Kamu yang berbeda." Entah apa yang di maksud Gara. Namun itu jelas membuatku berpaling muka karena matanya menatapku. Ku ambil lagi majalah di atas meja.


Telepon berdering. Ternyata itu punyaku. Ada nama mama Han disana. Majalah itu kembali terabaikan.


"Ya, Ma."


"Zia ... kenapa belum datang? Mama tidak enak sama saudara mama. Cepatlah datang sekarang, karena ini masih belum terlambat."


"B-baik, Ma." Beliau menantikan kedatanganku. Aku menghela napas. "Aku ikut denganmu," ujarku pada akhirnya. Gara hanya mengangguk dan berjalan keluar. Aku yang sudah siap segera mengikutinya dari belakang.


Sepanjang perjalanan kita, masih di liputi keheningan. Tentu saja aku berusaha menghindari perbincangan apapun. Aku takut pria ini akan membahas soal rasa berkesannya padaku pada malam itu.


Sesampai di gedung pesta saudara mama, beliau terlihat terkejut dan senang melihatku datang. Rupanya beliau sengaja menunggu di depan pintu.


"Eh, kenapa sama Gara? Mana Han?" tanya beliau mencari-cari putra pertamanya itu. Heran karena aku justru datang bersama Gara.


"Han tidak bisa datang. Dia masih ada pekerjaan," ujarku memberi alasan.


"Benarkah? Kenapa dia begitu antusias bekerja saat harus muncul ...," sesal mama. Wajahnya nampak kecewa. "Harusnya dia berhenti bekerja dulu untuk menghormati saudara yang sudah mengundang." Mama menggerutu. Aku hanya meringis miris. "Tidak apalah. Ayo mama antar ke dalam. Gara juga sekalian ke dalam. Mama pikir kamu juga tidak muncul, sayang ... Rupanya menemani kakakmu ini. Terima kasih ya ..." Mama mengelus pelan lengan Gara sambil membimbing aku di sampingnya.


__ADS_1


__ADS_2