
...Zia POV...
.......
.......
.......
Aku tiba di kantor bersama Han tadi pagi. Pria itu dengan sigap, sudah menantiku di depan mobilnya tadi. Pemandangan langka yang amat sangat jarang terjadi. Tentu saja aku tidak banyak bertanya. Tubuhku masuk begitu saja ke dalam mobil. Tidak perlu aku bertanya panjang lebar kenapa dia seperti itu.
Kurasakan ada seseorang yang memandangku dari dalam rumah. Tentu saja aku bisa menebaknya. Itu pasti Gara.
Karena letak ruang kerja yang berbeda, aku sangat jarang melihat Gara. Hanya lewat chat, Gara menyapaku.
"Han semakin sering memberimu tumpangan ke kantor." Apakah ini sebuah kecemburuan? Aku tidak paham. Bukan. Aku berusaha tidak memahaminya dan berpikir bukan.
"Bukankah sangat wajar saat suami istri seperti itu," balasku dengan bercanda. Namun balasan Gara berkata lain.
"Kalian mulai akan menjadi suami istri yang sesungguhnya? Benar?" Sepertinya dia memang cemburu.
"Han tetap tidak mencintaiku, Ga. Apalah arti dari mengantarkan aku setiap pagi ke kantor. Mungkin dia hanya berakting. Berpura-pura baik pada istrinya. Bukankah di depan orang banyak statusku adalah istri Han?"
"Begitu?"
"Biasanya juga seperti itu, bukan?"
"Chat dengan siapa, Zi?" tegur Memey yang membuatku terperanjat kaget.
"Teman," jawabku singkat.
"Serius banget. Mimik wajahmu berkali-kali berubah lho barusan." Rupanya Memey sedang memperhatikanku sejak tadi. Aku tergelak.
"Aku tidak sadar di perhatikan olehmu," kataku jujur.
"Itu artinya. Orang yang sedang chat denganmu adalah orang yang di anggap sangat spesial olehmu." Memey berpendapat.
"Spesial? Benar. Karena dia keluargaku," sahutku bohong. Namun jika di pikir lagi aku tidak salah. Gara adalah keluargaku. Adik suamiku.
Suara pesan masuk terdengar lagi. "Kapan kita bisa keluar untuk jalan-jalan atau makan malam, Zi?" tanya Gara masih melaui chat ponsel. Belum sempat membalas, Memey sudah mengajak ngobrol lagi.
"Zi. Kita makan siang di kantin yok. Sudah lama enggak bareng. Eh, tapi tanya dulu sama pak Han."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Suami istri kan biasanya makan berdua. Apalagi kalian satu kantor. Kok kenapa, sih?" Spontan aku bertanya seperti itu karena kita tidak dalam hubungan yang benar-benar memerlukan ijin untuk kesana kemari. Bukankah Han juga begitu.
"Tidak apa-apa. Kita bisa makan siang bersama."
"Benarkah?" tanya Memey dengan mata berbinar. Apalagi saat aku mengangguk. "Horeee! Akhirnya kita bisa makan siang seperti dulu lagi. Oke, siang ini langsung tancap gas ke kantin ya?"
"Oke."
"Kenapa lama tidak membalas?" Gara ternyata masih online. Dia belum keluar dari aplikasi chat pribadi. Aku lupa karena sedang mendengarkan Memey berbicara. "Ada Han di sana?"
"Tidak. Memey sedang mengajakku bicara."
"Bisa tentukan waktu untuk kita?"
"Makan malam maksudmu? Itu tidak mungkin Ga. Akan banyak orang yang mengenali kita di luar. Kamu bukan orang biasa."
"Aku bisa memesankan tempat yang tidak akan ada orang lain selain kita." Gara rupanya bertekad ingin mengajakku keluar.
......................
Sesuai janji aku dan Memey tadi, kita segera melesat ke kantin kantor saat jam istirahat tiba. Menyenangkan sekali menghabiskan waktu dengan teman. Terasa lebih ringan. Tidak ada beban. Apalagi dapat tempat pojok yang begitu terpencil. Serasa dapat kursi VIP. Dimana hanya kita berdua. Tidak ada orang lain di sekitar kita karena jarang duduk di sini.
Seperti biasa, memey memesan banyak menu. Walaupun begitu dia tidak peduli dengan tubuhnya yang gemuk.
"Mmm ... sedaaaap. Makanan kantin ini memang enak, aku sangat suka. Namun aku rasa kamu tidak akan merasa begitu."
"Kamu sudah cukup sering makan makanan enak. Bahkan level restoran mahal."
"Memangnya begitu?" tanyaku sambil mencomot satu buah kentang goreng.
"Memang iya. Suamimu kan pewaris dari keluarga Laksana. Kamu pasti tidak akan kekurangan dalam tujuh turunan." Bola mata Memey membelalak.
Terlihat dari luar memang seperti itu. Namun siapa sangka justru aku di telantarkan suamiku sendiri. Han tidak mencintaiku. Entah alasan apa dia tetap mempertahankanku meski tidak punya rasa cinta sama sekali. Aku masih belum mengerti.
...----------------...
Tidak sengaja saat akan keluar dari gedung perusahaan, Han melihat ke arah kantin. Dia menemukan Zia di sana. Tertawa bersama sesama karyawan, sambil makan siang.
Dia ... mulai tampak santai menghadapi kebencianku padanya.
"Kita akan makan siang dengan klien, Pak," kata Septa ajudannya memberitahu.
"Tidak. Batalkan saja."
"Batalkan, Pak?" tanya Septa terkejut. "Tapi ..."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Klien kita tidak akan marah karena aku membatalkan makan siang ini. Mereka yang butuh kita." Terdengar egois tapi begitulah.
"Baiklah. Saya akan membatalkan makan siang anda dengan klien." Kaki Han melangkah masuk ke dalam kantin. Mendekat ke arah meja dimana Zia dan Memey sedang makan.
"Jadi kamu makan siang di sini?" tegur Han mengejutkan. Tawa mereka berhenti. Zia menoleh begitu juga Memey. Masih ada sisa senyum di bibir wanita ini.
"Siang, Pak," sapa Memey canggung.
"Siang Memey," sahut Han seperti biasa ramah.
"Pak Sapta, aku makan siang disini," ujar Han pada ajudannya.
"Di sini, Tuan?" tanya Sapta heran.
"Ya. Kamu juga bisa memesan jika mau," ujar Han penuh dengan tekanan. Sapta mengangguk dengan cepat. Lalu segera memesan makan siang untuk dirinya sendiri.
Memey panik. Dia tidak menduga putra pemilik perusahaan akan makan siang di mejanya. Wanita ini jadi kikuk. Zia tahu soal itu.
"Aku sedang makan siang dengan Memey, Han." Zia meminta pengertian suaminya.
"Aku boleh bergabung bukan?" Ini sebuah pemaksaan. Bukan pertanyaan. Tentu saja Memey mengangguk terpaksa.
Sungguh beruntung ada Gege yang tengah makan siang disana. Dia tahu situasi Memey tidak tepat berada di sana.
"Selamat siang, Pak Han," sapa Gege.
"Siang, Gege."
"Mey! Gabung dengan kita di sini!" ujar Gege. Dia memberi kode pada Memey untuk bergabung dengannya. Zia hendak mencegah, tapi Memey langsung mengangkat nampan berisi makanannya.
"Saya gabung sama Gege saja, Pak."
"Oh, baiklah ..." ujar Han tanpa berbasa basi mencegah Memey untuk pindah. Memey pun bergerak menuju meja Gege. Zia hanya mendesah melihat Memey pergi. Kesenangannya menghilang. Kini hanya tinggal mereka berdua. "Bisa pesankan aku makan siang, istriku?" tanya Han menggunakan senjatanya di depan umum. Yaitu menyebut kata istri dengan sengaja.
Zia menipiskan bibir geram. Namun dia harus bangkit dan tidak boleh membantah. Han mengamati punggung wanita yang berjalan ke arah etalase makanan. Kemudian baik lagi ketempat mereka tadi sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman.
Sebenarnya Sapta bermaksud membantu membawakan, tapi Zia menolak. Pria paruh baya itu sedang makan siang juga.
"Ini. Aku memesan makanan yang sesuai dengan seleraku. Karena aku tidak tahu apa kesukaanmu," bisik Zia seakan meledek.
Han melongok ke nampan. "Tidak masalah." Mendengar ucapan santai Han, Zia kesal.
"Kenapa bersusah payah, makan disini?" tanya Zia pada akhirnya. Menanyakan tujuan Han muncul di kantin.
"Makan siang bersama istri bukanlah hal yang aneh." Han menjawab dengan tenang.
__ADS_1