
Kamar Zia.
Mulut Zia menguap. Ia baru saja membuka mata setelah tertidur sebentar. Setelah melihat Hanen membuka mata, pikirannya lebih tenang. Suara pintu terbuka membuatnya melongok ingin tahu siapa yang mengunjunginya.
"Mama?" Zia terkejut mendapat kunjungan dari mertuanya. Bibir beliau tersenyum seraya menutup pintu kamar dengan pelan.
Jantung Zia sempat berdetak kencang karena mengira itu adalah Gara. Bukan berharap, tapi orang yang sering mengunjunginya adalah pria itu. Jadi tidak salah kalau dia sempat berpikir kalau pria itulah yang muncul sekarang.
"Jika mama kesini, Hanen bagaimana?" tanya Zia spontan. Bukan bermaksud mengejek, tapi karena ia tahu mertuanya begitu mencemaskan Hanen. Dia juga tidak mempermasalahkan itu.
"Dia sedang istirahat. Sepertinya Hanen ingin berbincang dengan adiknya." Mama duduk di samping ranjang dan menyentuh selimut Zia. Merapikannya dengan penuh kasih sayang.
"Tidak apa-apa Hanen di tinggal?" tanya Zia sekali lagi. Ia bukan sedang mengkhawatirkan Hanen, karena ia tahu suaminya terlihat membaik. Terlebih sudah ada Rara di sana. Yang ia khawatirkan adalah mama mertua yang mungkin saja gelisah karena tidak berada di samping putra kesayangannya.
"Iya," sahut mama terlihat begitu canggung. Ada rasa bersalah yang membuat mama muncul di kamar perawatan m Yaitu rasa bersalah karena sempat mengabaikan perempuan ini. Bukan di sengaja. Beliau merasa terpukul dengan kecelakaan yang menimpa Hanen, putra pertamanya. Itu membuat perhatian dan rasa khawatir beliau selalu tertuju pada Hanen. Hingga yang lainnya terabaikan. Termasuk Zia yang sebenarnya juga mengalami syok akibat kecelakaan itu.
__ADS_1
"Sayang ... Apa bayi kamu tidak apa-apa?" tanya mama seraya mengusap perut menantunya.
"Ya." Terlukis senyuman di bibir Zia. Meski bibirnya mengatakan bahwa dia baik-baik dan mengerti ketika mama mertua sedikit tidak peduli padanya, hati Zia tetap gembira ketika mertua menanyakan tentang bayinya.
"Apa dia sehat?" Kali ini mendongak setelah tadi menatap perut menantunya yang besar.
"Tentu Ma. Cucu mama sehat."
"Kamu juga enggak apa-apa?" Kali ini beliau menatap menantunya dengan rasa bersalah.
"Syukurlah." Mama menghela napas lega. "Kamu harus sehat ya ..." Mama mengelus kepala menantunya. Zia agak terkejut dengan perlakuan ini. Karena sudah sejak kejadian Kayla mendorong tubuhnya itu, perempuan paruh baya ini seakan tak merasakan keberadaannya.
"Iya Ma."
"Apa bayimu mulai bergerak-gerak?" tanya mama mulai mengatasi kecanggungan dari rasa bersalahnya.
"Ya. Dia tadi ..." Zia pun bercerita dengan riang tentang bayinya. Dia dan mama mulai merasa lebih tenang daripada sebelumnya, karena Hanen sudah siuman. Itu menambah semangat pada dua perempuan ini.
__ADS_1
Keduanya menoleh bersamaan ke pintu ketika pintu itu terbuka.
"Gara?" tanya mama. Mata Zia melebar sekilas ketika tahu bahwa ternyata pria inilah yang muncul di kamarnya sekarang. Setelah sejak tadi dia menghilang, kini justru muncul kembali. Pun ketika mama mertua masih ada di kamarnya.
"Oh, mama di sini ..." Gara tidak bereaksi banyak. Bahkan dia terkesan tidak peduli dengan tatapan mamanya yang seakan penuh dengan pertanyaan. Mama melihat bungkusan di tangan putranya. Belum sempat beliau bertanya, Gara sudah menyebut lebih dulu isi bungkusan yang ia bawa.
"Aku membawakan buah alpukat untuk Zia." Gara menunjukkan satu kantong buah dan meletakkan di atas nakas. Zia mengerjap. Dia meremas selimutnya. Itu sebuah perhatian. Karena Zia jadi menyukai buah alpukat ketika hamil.
"Alpukat? Bukannya itu buah kesukaanmu sendiri?" Mama tahu kesukaan Gara.
"Ya. Sepertinya Zia juga menyukai alpukat." Gara tidak peduli kalimat itu membuat mama heran. Pun membuat Zia kebingungan harus bereaksi apa. "Aku tahu karena Hanen yang memberitahuku." Gara seperti tahu apa yang di pikirkan mamanya.
Berbohonglah dengan pintar Gara. Mana mungkin Hanen membicarakan makanan kesukaanku ke kamu, tegur Zia dalam hati saja. Dia tahu pria itu menyadari kegemarannya ketika ia berada di rumah keluarga Laksana.
Mama melihat ke arah Zia yang diam. Perempuan ini merasa mama sedang menatapnya heran.
...______...
__ADS_1