
Pintu kamar terbuka perlahan. Zia berdiri seraya melongok ke luar. Mencari tahu siapa yang sudah masuk ke kamarnya. Ini area yang sangat di jaga oleh Han karena rahasia di antara mereka berdua. Sebuah nampan terlihat lebih dulu di depan pintu.
"Ini aku, Zi." Muncul Hanen. Zia berhenti melangkah. Dia melihat Han dengan heran. Pria ini muncul dengan nampan. Manik mata Zia turun melihat apa yang di bawa pria ini. Nampan yang berisi makanan dan minuman.
"Aku membawakan sarapan untukmu, Zi," ujar Han yang membuat Zia tercengang. Kemudian dia mengerjap menetralkan kekagetannya. Zia memilih kembali ke ranjangnya dan duduk.
"Tidak perlu repot, Han. Jangan melakukan hal yang tidak biasa kamu lakukan." Zia membuang muka.
"Aku memang kerepotan. Karena aku belum pernah melakukan hal semacam ini pada siapapun. Bahkan Kayla." Han duduk di samping Zia dengan nampan sudah terlepas dari tangannya karena di letakkan di atas meja. Zia memejamkan mata sebentar dengan kesal. "Soal keributan tadi ..."
"Aku tidak sedang ingin bicara denganmu, Han. Aku ingin sendiri." Zia menyela. Dia tidak mau membahas sesuatu.
" ... tapi aku tidak. Aku ingin bicara denganmu," paksa Hanen. Zia menoleh pada Han di sampingnya dengan kesal. Di tatap begitu Han tidak gentar dan mundur. Dia tetap duduk di sana. "Makanlah dulu," pintanya.
"Tidak perlu melakukan ini jika hanya ingin bicara. Bukannya biasanya juga begitu?"
"Makanlah dulu. Aku tidak mau melihatmu melewatkan sarapan. Kamu harus makan." Han masih ingin meminta Zia sarapan. Tadi malam saja wanita ini melewatkan makan malam karena terus saja menangis.
"Aku akan makan jika aku ingin makan."
"Berhenti bersikap dingin, Zi," harap Han yang kini seperti kehilangan wibawanya.
"Lalu apa maumu?" Zia menatap Hanen dengan tajam.
"Sejak aku melihat kamu mulai bisa mengatasi rasa sakit hatimu aku yakin aku akan kehilanganmu. Apalagi melihat gelagat aneh dari Gara saat bersamamu, aku merasa telah kalah darimu." Hanen mengungkap kenapa mendadak dia berubah seperti ini.
"Tidak. Kamu menang, Hanen. Karena kamu telah berhasil menyakitiku dan membuatku terpuruk, hingga akhirnya aku bisa bersama Gara. Kamu berhasil membuatku jatuh. Selamat Han."
"Berhenti memberiku selamat sementara kamu mencibirku. Aku tahu arti selamat itu."
"Itu bagus."
"Lepaskan Gara."
__ADS_1
"Lepaskan? Hhh ...." Zia mengejek. "Kamu memang mudah mengatakan apapun yang kamu mau Han. Padahal kamu sendiri tidak mau melepaskan Kayla tapi menyuruhku melepaskan Gara."
"Aku akan melepas Kayla." Janji Han tidak terduga. Namun dia adalah Hanen. Bisa saja dia hanya membual demi memenangkan hati Zia terlebih dahulu.
"Kenapa?" tanya Zia sinis.
"Karena aku bersalah. Aku sudah mengabaikan, membuang dan mengabaikanmu tanpa sadar." Harga diri Han masih tinggi.
"Tanpa sadar?" tanya Zia dengan mata memicing. "Apa kamu tidak ingat bahwa sejak awal sudah kamu tekankan bahwa aku tidak akan di cintaimu?" Dia mengingatkan akan perkataan Hanen.
Hanen menghela napas. Ada yang salah. "Tidak. Aku sadar. Aku sadar aku sengaja ingin menyakitimu karena kamu berhasil menyingkirkan Kayla," ralat Hanen yang akhirnya mengakuinya.
"Apa yang sekarang kamu harapkan?"
"Hubungan lebih baik."
"Hubungan lebih baik? Secepat ini?" dengkus Zia sambil menggelengkan kepala. Dia tersenyum mencemooh. Lagi. "Apa itu mungkin Han? Kamu? Kamu ingin memperbaiki hubungan kita? Jangan bercanda. Aku sudah tahu sifatmu."
"Kalimatku sangat tidak bisa di percaya. Aku paham. Namun aku harus mencoba. Aku harus mencoba menaklukanmu lagi. Mencoba membuatmu percaya bahwa aku serius. Kesalahan yang kamu katakan tadi membuat mataku terbuka. Ternyata aku memang tidak boleh menyia-nyiakanmu."
"Tidak. Jangan katakan terlambat. Kita masih bisa memperbaiki hubungan suami istri kita."
"Maaf. Aku sudah mencintai Gara." Tangan Han mengepal mendengar pengakuan cinta dari perempuan yang menyandang predikat sebagai istrinya. Jika boleh, dia ingin menghajar Gara habis-habisan di depan Zia.
Han harus bisa tahan. Harus bisa bersabar. Jika dia memang ingin hubungan yang baik, dia harus memulai dari sekarang. Memang terlambat. Namun lebih baik sebelum Zia dan Gara melangkah lebih jauh. Apalagi Gara bertekad menikahi Zia jika dia bisa membuat dirinya melepas Zia. Adiknya itu tidak main-main soal merebut Zia.
"Aku tahu. Namun aku juga tidak mudah menyerah. Sudah aku tetapkan untuk mempertahankanmu sebagai istriku. Jika harus berlutut padamu, aku mau." Hanen bersiap untuk berlutut.
"Han!" teriak Zia seraya berdiri. Pria itu tidak peduli. Dia tetap berlutut di depan Zia. "Kamu pikir aku akan berubah pikiran untuk berhenti mencintai Gara jika kamu bersikap seperti ini?" Han diam tidak menjawab.
Zia mendecih kesal. Di depannya, Hanen Laksana. Pria dengan penuh harga diri dan kewibawaannya di hadapan semua orang, sekarang berlutut di depannya. Memintanya kembali bisa mencintainya.
"Berdirilah, Han. Kamu tidak harus begini. Ini sudah jalan bagi kita," pinta Zia.
"Jalanku yang sebenarnya adalah mencintaimu. Menyayangi dan memuliakanmu sebagai istriku. Aku yang sempat menyakitimu telah salah jalan. Sekaranglah saatnya aku menebus kesalahanku dengan sungguh-sungguh mencintaimu."
__ADS_1
"Ini akan membuat Kayla dan Gara tersakiti dan merasa hanya di manfaatkan, Han."
"Aku tidak peduli."
"Kamu sangat egois."
"Aku perlu menjadi egois, Zi. Jika aku sudah pernah melakukan kesalahan dengan keegoisanku dulu, aku juga perlu melakukan perbaikan hubungan kita dengan rasa egoisku juga. Apapun itu, harus aku lakukan untuk mendapatkanmu lagi," ucap Han serius. Membuat Zia menghela napas berat.
"Setelah kamu berhasil menyakitiku, dan aku mulai menemukan kebahagiaan, kamu ingin memulai dari awal?"
"Kebahagiaanmu semu, Zi."
"Gara benar-benar menyayangiku."
"Apapun itu, kalian tidak akan bisa bersama. Karena aku tidak akan melepaskanmu, Zi."
"Berhenti mempermainkanku, Han. Aku berhak bebas."
"Tidak. Aku tidak mau kehilanganmu. Perlu kamu tahu, aku tidak sedang mempermainkanmu. Aku berniat menjadi suamimu."
"Kamu sudah menjadi suamiku."
"Hanya di atas kertas. Itu yang kamu bilang. Selama ini kita memang hanya suami istri di atas kertas. Aku yang membuatnya begitu. Jadi aku akan mulai bersikap sebagai suami sesungguhnya."
"Jadi kamu mulai berubah pikiran saat aku akan meninggalkanmu? Kamu mulai merasa akan di abaikan olehku, begitu?"
"Aku tidak bisa membantah. Saat ini aku memang berubah karena itu. Karena seseorang akan merampasmu dariku. Maaf. Aku ingin tetap memilikimu karena takut kehilanganmu. Iya. Aku memang begitu." Hanen tidak memungkiri bahwa dia memang berubah karena seseorang akan merebut Zia. Kemunculan Gara membuatnya sadar. "Mungkin terlambat, tapi tetap harus di perbaiki."
"Apa lagi yang harus di perbaiki Han?" lirih Zia mulai lelah berdebat.
"Semua. Semuanya. Di mulai dari aku. Aku harus berubah demi rumah tangga yang sempat aku hancurkan sendiri. Berubah dari pernikahan yang pernah tidak ku inginkan."
"Hhh ... Aku lelah Han." Zia menghela napas panjang. Perdebatan ini melelahkan hati dan pikiran. Zia berangsur merebah. Memunggungi Han yang masih duduk di atas ranjang.
"Makanlah. Jangan menyakiti tubuhmu. Aku akan pergi ke kantor. Lebih baik kamu istirahat dulu." Han beranjak pergi dari kamar tidur mereka. Meninggalkan Zia yang memilih diam tidak menjawab.
__ADS_1