Getir

Getir
Pria brengsek


__ADS_3


"Aku ingin menemui Gara. Kita harus bicara."


"Lebih baik jangan. Kakak tidak perlu menemuinya."


"Gara menungguku, Ra," kata Gara dengan raut wajah pilu.


"Namun Kak Zia tidak harus kesana."


"Kamu harus membiarkan dia bicara padaku, Ra."


"Jika sekarag Kak Zia kesana, itu berarti Kakak sudah memberi harapan pada kak Gara. Apa Kak Zia memang menginginkan kak Gara dan tidak lagi menjadi istri kak Hanen?" tanya Zia. "Saat ini kak Han sedang bertemu dengan Kayla."


Zia terkejut. "Jadi dia juga bertemu wanita itu? Lalu kenapa kamu tidak mengijinkanku menemui Gara?" tanya Zia sedikit kecewa.


"Karena kak Han bukan sedang ingin bermain-main dengan Kayla. Dia sedang menyelesaikan janjinya. Bukannya dia berjanji akan melepas Kayla untuk memperbaiki hubungan dengan Kakak?" tanya Rara memandang Zia seakan mempertanyakan apa itu benar.


"Ya. Seperti itu yang dia katakan." Zia menjawab dengan lesu.


"Maka dari itu bersabarlah, Kak. Tunggu kak Hanen menyelesaikan urusannya. Kakak juga perlu diam tidak melakukan apa-apa untuk mendukung hubungan kalian lebih baik."


...----------------...


Hanen menjalankan mobil menuju restoran tempat dia janji temu dengan Kayla. Setelah mendapat tempat parkir, dia masuk ke dalam restoran. Seorang pelayan menghampirinya. Hanen menyebutkan nama Kayla. Pelayan itu mengantar Han menuju meja Kayla.


Sepertinya Kayla mengharapkan makan malam romantis. Karena semua tatanan meja makan terlihat begitu manis.


"Han ..." Kayla berdiri sambil tersenyum pada Han yang baru saja datang. Han hanya melihat tanpa tersenyum menanggapi sapaan wanita itu. "Akhirnya aku bisa melihatmu lagi." Terlihat raut wajah Kayla begitu bahagia. Setelah insiden tidak mengenakkan waktu itu, terhapus sudah dengan kemunculan pria ini di depannya.


Kayla sendiri sempat berpikir bahwa pria ini akan menghilang dari kesehariaannya. Kejadian di restoran itu sungguh membuatnya berpikir kalau pria ini akan berpaling.


"Aku tidak lama bukan?" tanya Han sambil menarik kursi.


"Tidak Han. Meski begitu, aku tetap akan menunggumu." Han hanya menaikkan alisnya saat Kayla menjawab.


"Kamu sudah menyiapkan semua ini dengan baik." Han melihat keseluruhan dekorasi yang di tata.


"Sengaja aku menyiapkan ini untuk menyambut kedatanganmu, Han. Aku merindukanmu," ujar Kayla akan menggengggam tangan pria ini. Namun secara natural, Han bisa menghindar dari genggaman tangan Kayla. Wanita itu tidak sadar. Bahwa Han sengaja ingin menghindari sentuhan fisik.


Kepala Han hanya mengangguk.


"Bagaimana dengan kita, Han?" tanya Kayla.


"Aku datang kesini untuk membahas itu."

__ADS_1


"Aku senang. Akhirnya kita bisa sering bertemu lagi." Wajah Kayla menunjukkan kegembiraan hatinya.


"Mungkin kamu salah mengira bahwa aku datang untuk kembali sering menemuimu, Kay."


"Maksudmu?" tanya Kayla masih dengan senyum menghiasi wajahnya.


"Aku datang ke sini untuk bilang, bahwa kita tidak perlu lagi bertemu." Senyuman di wajah Kayla lenyap seketika mendengar kalimat Hanen.


"Kita tidak perlu bertemu?"


"Aku memutuskan untuk menghentikan hubungan kita."


"Maksud kamu?" Kening Kayla mengerut.


"Kita berhenti berhubungan. Aku melepas ikatan kita. Aku bukan kekasihmu lagi dan sebaliknya."


"Segampang itu?"


"Ya," jawab Han yakin.


Kayla mendengkus. Dia meletakkan sendok dan garpu dengan kasar di atas piring. "Jadi hanya itu keperluanmu menemuiku?"


"Kamu pikir apalagi?" tanya Han tidak peduli.


"Kamu bukan menungguku menjadi sukses dalam pekerjaan, Kay. Kamu hanya menungguku berhasil memperoleh hak atas kepemilikan perusahaan."


"Bukannya memang itu rencana mu sejak awal? Aku hanya mencoba mengikutimu. Karena kita saling mencinta."


"Namun sekarang tidak lagi. Aku tidak lagi memilihmu menemaniku."


"Jadi ... sekarang kamu ingin menikmati kepemilikan perusahaanmu dengan wanita itu? Wanita yang sebenarnya hanya jadi bidak yang menguntungkanmu?"


"Tidak. Aku belum menjadi pemilik perusahaan. Aku hanya ingin memutus hubungan denganmu."


"Pasti ini karena wanita itu berhasil merayumu. Dia sudah berani merebut posisi menjadi istrimu dariku, sekarang dia ingin merebut hatimu. Perempuan yang berpura-pura berwajah polos itu."


"Ini murni dariku. Aku ingin kita tidak lagi melanjutkan hubungan yang lebih jauh. Ini bukan keinginannya, melainkan aku.".


Plak!


Sebuah tamparan telak mengenai wajah Han. Pria ini diam meskipun tamparan itu terasa panas di pipinya. Han mengepalkan tangannya menahan amarah sudah di injak-injak harga dirinya. Namun itu juga akibat perbuatannya sendiri. Dia harus diam dan menahan diri jika ingin mendapatkan Zia. Bukannya dia sudah berjanji pada wanita itu?


"Kamu brengsek! Setelah tidur denganku, kau akan membuangku?!" Setelah mengatakan itu Kayla menyiram wajah Han dengan air dalam gelas. Seketika air mengguyur wajah dan pakaian Han. Sebuah tamparan dan guyuran air sepertinya masih belum cukup bagi Han. Namun Kayla sudah sangat muak. Dia ingin segera pergi dari tempat itu.


Han mengusap wajahnya dari air, tapi membiarkan pakaiannya tetap basah. Beberapa pelayan yang melihat kejadian ini tidak berani mendekat. Baru saat Han mengangkat tangan mereka mendekat.

__ADS_1


"Saya ingin membayar semua makanan ini," ujar Han sambil menyerahkan kartu kredit.


"Baik Tuan."


...----------------...


Malam ini Zia tidak segera tidur. Dia ingin menunggu Han. Suara mobil terdengar. Itu berarti Han sudah datang. Zia keluar dari kamar dan melihat pria itu di bawah tangga.


"Kamu belum tidur, Zi?" tanya Han yang mendongak.


"Aku menunggumu." Han memandang Zia dari bawah dengan takjub. Namun dia tahu bahwa itu bukan seperti yang di pikirkannya. Kaki Han naik ke atas.


"Masuklah ke dalam kamar," pinta Han pada Zia saat kakinya sudah sampai tepat di depan perempuan itu. Bola mata Zia terheran-heran dengan pakaian Han yang basah. Juga ... jejak kemerahan samar yang ada pada permukaan kulit pipi Han.


"Kamu kenapa?" Pertanyaan ini jujur di tanyakan Zia karena melihat keadaan pria ini yang sedikit menyedihkan. Bukan iseng.


"Tidak apa-apa. Lebih baik kita masuk kamar terlebih dulu." Han menarik tangan Zia lembut. Mereka pun masuk ke dalam kamar tidur bersamaan. "Kenapa belum tidur?" tanya Han sambil melepas jasnya. Sementara Zi duduk di atas ranjangnya menghadapa ke arah berlawanan.


"Aku sengaja menunggumu. Aku ingin tahu soal Kayla."


"Rara memberitahumu soal aku yang menemui Kayla?"


"Ya."


"Aku memang menemuinya." Zia diam. Sementara Han melepas satu persatu pakaiannya. "Bukannya aku sudah berjanji padamu aku akan melepas Kayla. Aku sudah mengatakan dengan jelas padanya tadi."


"Semudah itu?"


"Tidak mudah. Namun harus di buat mudah."


"Kamu benar-benar pria brengsek, Han. Setelah menikahiku tanpa cinta bahkan sengaja ingin mempermainkanku, kini kamu membuang Kayla tanpa perlu pikir panjang lagi. Sungguh pria yang menakutkan."


"Hina dan maki aku sepuasmu, Zi. Aku pantas mendapatkannya."


"Tidak. Hanya makian dan hinaan belum cukup untukmu."


"Kamu mau menyiksaku?" tanya Han sambil menoleh pada Zia yang masih melihat ke arah berlawanan dengannya.


"Aku tidak punya kekuatan untuk itu. Karena selalu kamu yang berhasil melukaiku."


Han yang sudah berganti pakaian lebih nyaman mendekati Zia. Berdiri tegak di depan wanita yang sudah di lukainya begitu dalam. Zia mendongak.


"Lukai aku jika kamu mau, Zi. Puaskan dirimu menyakitiku jika itu bisa membuatku kembali padamu. Aku siap."


__ADS_1


__ADS_2