
"Gara berangkat, Ma." Gara beranjak dari kursi dan menuju pintu.
Selepas Gara pergi, Mama terdiam seraya mengusap wajahnya. Hati perempuan ini terasa sakit melihat kenyataan ini. Dugaan bahwa putra keduanya tidak bisa melupakan menantunya adalah benar. Mungkin sudah tidak bisa lagi pindah ke lain hati.
Sorot mata Gara sudah bertekad mencintai wanita itu seumur hidupnya.
"Kenapa seperti ini ... Jika begini mereka akan sama-sama terluka," kata Mama berkaca-kaca.
Beliau menyadari itu tatkala pernah mengenalkan putri teman suaminya untuk mengalihkan perhatian Gara dari Zia. Namun nyatanya sikap Gara tetap dingin dan tidak peduli.
***
Malam hari di rumah Han dan Zia.
Saat ada telepon dari kakaknya, Zia terkesiap. Apa mereka menelepon karena tahu berita itu?
"Zia, bagaimana kabar kamu?" tanya kakak yang menelepon tiba-tiba.
"Baik Kak. Ada apa?" tanya Zia terllau gugup. Berpikir bahwa keluarga juga tahu soal skandal itu. "Oh, tidak. Gimana ibu? Kakak juga bagaimana?" Zia langsung menyamarkan pertanyaan yang menunjukkan kegugupannya.
"Semua sehat."
"Syukurlah."
__ADS_1
"Bagaimana kehamilan mu? Masih mual dan muntah?"
"Masih. Meksipun tidak sering."
"Ini sudah berapa bulan perutnya? Kakak lupa."
"Hampir tujuh."
"Semoga sehat selalu, Zia."
"Iya Kak."
"Adik ipar bagaimana kabarnya? Apa sehat juga?" tanya Kakak bermaksud menanyakan Hanen, tapi Zia salah paham karena mengira bertanya soal Gara.
"Kamu tidak peduli dengan Han?" tegur kakak yang membuat Zia sadar.
"Oh, Han? Ya. Iya. Dia sehat." Zia langsung cepat tanggap. "Han, kakak ingin bicara." Zia sempat gugup tadi, tapi dia segera bisa mengatasi keadaan.
"Eh, ada Han? Tidak. Tidak usah bicara. Kalau semua sehat ya sudah. Tidak perlu memanggilnya. Ibu juga tidak bisa bicara karena masih sibuk." Kakak Zia segera memotong kalimatnya. Dia tidak ingin bicara dengan Han, karena canggung. "Sudah ya, Zia. Jangan lupa makan,
"Iya, Kak." Klik. Saluran telepon terputus. Zia menghela napas karena sempat berpikir soal Gara saat kakaknya menyebut adik ipar. "Tentu saja kakak menyebutnya begitu ... Bukankah Han adik ipar buat kakak," lirih Zia.
"Siapa?" tegur Han. Zia menoleh cepat.
__ADS_1
"Itu Kakak."
"Kenapa enggak jadi ngomong?"
"Ternyata kakak masih sibuk. Banyak pembeli di depot ibu," ujar Zia beralasan.
"Sepertinya kita harus segera mengunjungi ibu. Lama sekali tidak kesana," kata Han. Zia tersenyum tipis. Dia ragu untuk mengiyakan. Karena dia masih takut keluarga tahu soal skandal dia dan Gara.
***
Han mengantarkan Zia ke rumah keluarganya. Tadi pagi ada telepon dari kakaknya.
"Pulanglah sebentar. Ibu ingin bertemu," ujar Kakaknya. Zia tahu bahwa pasti ada sesuatu yang terjadi di sana. Han meminta ijin untuk mengantarkan istrinya ke rumah orang tua.
Sejak berangkat tadi, Zia terdiam sambil menatap jalanan. Ada gelisah yang menyerangnya sejak tadi.
"Ibu pasti tidak apa-apa, Zi," ujar Han memenangkan. Kepala perempuan ini menoleh padanya. Hanen mengusap punggung tangan Zia. Kepala Zia mengangguk berusaha tenang.
Sesampai di rumah, depot ibu terlihat lelang. Sepertinya, ibu sudah menutup depot-nya untuk istirahat. Saat Zia melangkah masuk ke dalam rumah, ternyata ibu sedang menonton tv di dalam rumah.
"Aku datang, Bu," ujar Zia di ambang pintu yang memang terbuka sejak tadi. Ibu yang duduk di tikar mendongak ke arah pintu dengan terkejut.
..._____...
__ADS_1