
Hanen yang terbaring tak berdaya dan berdarah? Bagaimana bisa?
Kayla tidak bisa berkutik ketika polisi juga datang. Banyak saksi yang ada di sana menyaksikan perbuatan perempuan ini yang menyebabkan kecelakaan terjadi. Rupanya, Hanen menarik tubuh Zia yang di dorong oleh Kayla ke jalan sebelum terjadinya tabrakan. Pria itu menggantikan istrinya.
***
Keluarga Laksana langsung berangkat ke rumah sakit setelah mendengar kabar itu. Mama terlihat tergopoh-gopoh ketika melewati lorong.
"Ma, jalannya hati-hati," ujar suami mengingatkan.
"Aku tidak bisa tenang jika belum sampai di kamar perawatan Hanen, Pa," sahut mama dengan tetap berjalan dengan cepat.
"Iya papa mengerti, tapi kalau mama sampai jatuh, nanti juga repot." Pria paruh baya ini terus mengingatkan istrinya untuk hati-hati.
"Aku tidak peduli. Mama harus secepatnya melihat Hanen," ujar mama sengit bersikeras untuk jalan dengan cepat. Papa Hanen mengingatkan karena tubuh istrinya tampak sempoyongan karena syok mendengar kabar dari rumah sakit. Karena istrinya menolak nasehat dari beliau, papa menambahi kewaspadaannya pada istrinya. Beliau juga memberi kode pada pengawal yang mengikuti mereka untuk mengawasi nyonya besar.
Akhirnya mereka tiba di depan pintu kamar Hanen. Mama langsung menyerbu masuk dan ternganga menyaksikan tubuh Hanen berbaring penuh dengan selang yang mengarah pada alat medis.
__ADS_1
Beliau langsung mendekat perlahan. "Han ..." Mama langsung menangis melihat putranya dalam keadaan yang menyedihkan. Papa yang berdiri di belakangnya juga merasakan rasa sedih yang sama.
Selang beberapa menit, Rara muncul juga di sana. "Ma." Mama menoleh dengan cepat.
"Rara, kakakmu ..." Mama tak sanggup lagi bicara. Rara mendekat dan memeluk mamanya. Suasana lara begitu kental di ruang perawatan ini. Papa keluar tanpa pamit karena orang-orang yang sedang menangani di kantor polisi menelepon.
Rara memeluk mamanya yang masih menangis seraya memandangi Hanen yang berbaring.
Kenapa bisa seperti ini, Kak? Rara mengusap air matanya yang meleleh.
Mama melepaskan pelukannya. Air mata beliau juga masih tetap menggenang.
"Belum. Saat aku di kabari oleh sekretaris papa, aku langsung kesini." Mata Rara juga sembab.
"Mama pikir tidak akan ada lagi hal buruk yang terjadi pada Hanen dan Zia, tapi nyatanya ..." Mama menangis lagi. Rara menepuk punggung mamanya dengan lembut. Setelah tenang, mama bicara lagi. "Apa kakakmu Gara sudah di beri tahu?"
"Aku belum memberitahu, tapi pasti sekretaris papa yang memberitahunya," kata Rara yang kini mulai duduk.
__ADS_1
"Apa dia masih tetap seperti itu?" tanya mama mengusap air matanya yang kadang masih menetes.
"Ya."
"Apa perlu mama mengenalkan dia pada putri teman papa?" tanya mama dengan suara serak.
"Terserah mama, tapi menurutku jangan."
"Kalau tidak begitu, Gara akan terus seperti itu. Mama khawatir."
Rara tahu, tapi menurutnya perempuan itu akan tersakiti jika di kenalkan sekarang pada Kak Gara.
***
Sekretaris keluarga Laksana memang sudah memberitahu kedua putra putri mereka. Gara yang sedang berada di sebuah bar tertegun. Han kecelakaan? Ia langsung berdiri dan meraih jas di kursi bar.
Kakinya melangkah cepat menuju area parkir. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, pikirannya terganggu. Tidak ada kabar tentang Zia. Jadi apakah Hanen mengalami kecelakaan bersama perempuan itu atau tidak.
__ADS_1
Gara memacu mobilnya lebih cepat menuju ke rumah sakit.
..._____...