
Rumah Han.
Zia membuka mata. Melihat langit-langit kamar dengan hampa.
"Kini apa yang aku sembunyikan sudah beredar ke publik. Lalu apalagi yang aku pertahankan?" gumam Zia.
Tubuhnya bangun dari ranjang dan melihat ke arah jam dinding. Han tidak ada di sampingnya. Mungkin Han sedang ada perlu keluar.
Tanpa sepengetahuan Han, perempuan datang ke rumah keluarga Laksana sendiri. Sudah bisa di pastikan keluarga mertuanya pasti kalang kabut dengan berita itu. Bukankah itu aib?
Siang ini dia berangkat ke rumah keluarga besar Hanen.
"Zia?" Mama yang ternyata belum sempat menjenguk terkejut melihat menantunya datang ke rumah. "Aduh, kenapa langsung kesini? Kamu kan baru sembuh dari sakit ..." Mama memegang kedua lengan atas Zia khawatir.
"Maaf, Zia tidak memberi kabar terlebih dahulu Ma," ucap Zia
"Maaf, ya mama belum menjenguk, tapi syukurlah kamu sudah sehat. Bayinya juga sehat sayang?" Mama mengelus perut Zia.
"Ya. Bayinya tidak apa-apa."
"Syukurlah. Kamu datang sama siapa?" Mama melihat ke arah luar. Menunggu siapa yang akan datang dari belakang menantunya.
"Zia datang sendiri," kata Zia.
__ADS_1
"Sendiri?" Mama terkejut mendengar jawaban menantunya. "Ah, ayo duduk dulu." Mama membimbing tubuh Zia untuk duduk di sofa. "Kenapa datang ke sini sendirian sayang, ada apa?" tanya Mama penuh perhatian.
"Zia hanya ... hanya ingin meminta maaf." Kalimat Zia tersendat. Sepertinya perempuan ini sedang menahan diri untuk tidak menangis.
"Maaf?"
"Karena Zia, keluarga Laksana mendapat aib." Meski di tahan, air mata Zia menetes. Tangan Zia segera mengusap air mata itu dengan cepat.
Tanpa di jelaskan, mama tahu apa yang di maksud menantunya. Itu pasti skandal Zia dengan putra keduanya, Gara.
"Zia!" seru mama terkejut saat Zia merunduk bersimpuh meminta maaf.
"Maafkan Zia, Ma." Kepala Zia menunduk merasa bersalah.
Mama ikut merunduk memaksa tubuh Zia untuk berdiri.
"Maafkan Zia sudah melakukan kesalahan besar ... harkat dan martabat keluarga Laksana tercoreng. Papa mama ... pasti kecewa dengan Zia." Suara Zia tersendat karena tangisnya.
"Sudah ... mama dan papa memaafkan kamu," ujar mama tidak tega. Setelah berhasil membuat tubuh Zia berdiri tegak, Mama langsung memeluk menantunya.
"Tenanglah," ujar mama seraya menepuk punggung perempuan ini.
"Tapi semua orang akan memandang rendah keluarga mama karena, Zia. Zia tidak bisa hanya mengucap maaf."
__ADS_1
"Tidak. Tidak apa-apa, sayang," kata mama. Tangis Zia makin menjadi saat mama mengelus kepalanya.
Karena larut dalam suasana sedih dan haru, mereka berdua tidak mendengar ada suara deru mobil di luar. Bahkan saat orang itu sampai di ambang pintu pun, mereka masih berpelukan dengan isak tangis.
"Jadi kamu di sini, Zia?" tegur sebuah suara di belakang mereka. Kepala mama menoleh.
“Gara?”
Mendengar nama itu di sebut, Zia segara menguasai diri. Ia menghapus jejak air matanya dengan segera.
“Kapan kamu ada di situ?” selidik Mama.
“Baru saja,” bohong Gara. Padahal dia berdiri di sana sejak Zia menangis.
“Ayo kita masuk. Gara, kamu mau makan siang?"
“Belum.”
“Makan dulu sana. Mama sudah memasak makanan favorit kamu di dapur. Mama masih mau bicara dengan Zia,” kata mama bermaksud membuat Gara menjauh dari sana.
“Apa itu tentang kabar aku dan Zia?” tanya Gara tanpa basa-basi. Zia dan mama terkejut. Sampai-sampai mama tidak bisa menjawab.
...____...
__ADS_1