
Zia menelan salivanya sendiri mendengar kata-kata Gara.
"Lain kali akan aku ingat ini, Ga. Maaf, aku hanya belum terbiasa." Zia mengatakannya dengan penuh rasa bersalah. Dia memang tidak bisa bersikap biasa saja. Itu tidak mungkin.
"Aku melihatmu di restoran bersama Rara dan Han. Aku yakin kamu sangat bahagia sekarang. Pria yang kamu cintai kembali mencintaimu. Itu impianmu." Ternyata masih ada yang ingin di bicarakan Gara. Dia mendekat perlahan. "Tidak ada yang salah dengan itu. Karena seorang suami memang seharusnya mencintai istrinya. Namun entah mengapa, aku merasa aku juga berhak atas itu." Langkah Zia terhenti lagi.
Jangan mengucapkan hal-hal semacam itu, Ga. Aku sudah memilih kembali pada Hanen. Aku dan dia memang seharusnya seperti sekarang. Bersatu. Jangan membuatku berpaling lagi padamu. Kita sudah sepakat untuk berpisah.
Gara berada dekat dengannya. Tepat di belakangnya. Zia memutar tubuhnya.
"Kamu mabuk, Ga. Lebih baik istirahatlah. Tidurlah untuk meredakan mabukmu. Tidak perlu berbicara melantur seperti ini." Zia berusaha mengatakan hal-hal wajar tanpa menghiraukan racauan Gara tentang isi hatinya. Zia akan beranjak pergi, tapi tangan Gara menahan. Zia menoleh ke bawah. Ke arah tangannya yang di tahan dengan bola mata melebar.
"Apa ini Ga?" tanyanya tidak setuju Gara menahannya.
"Sepertinya, aku masih menginginkanmu, Zi. Bukannya hilang, rasa cintaku semakin besar padamu. Jauh darimu menegaskan aku memang menginginkanmu. Aku ingin memilikimu seutuhnya." Debaran di dada Zia semakin menggebu. Kalimat Gara membuatnya menatap pria di depannya agak lama. Bola mata Gara berkabut.
"Ga. Maaf. Kita sudah berjanji untuk mengakhiri ini." Zia berulang kali mengucap maaf demi membuat Gara melepaskannya. Namun pria ini justru mendekatkan tubuhnya.
"Aku tahu. Aku masih ingat. Namun akal sehatku tidak bisa berpikir banyak selain ingin memiliki dirimu. Dirimu seutuhnya." Gara lirih saat mengatakannya. Seakan itu pedih saat di ucapkan. Dia merasa sakit di hatinya.
"Ga ... Beribu maaf aku ucap. Kita tidak bisa lagi bersama." Zia juga semakin lirih karena berat mengatakannya lagi karena pria ini justru mengucapkan kata-kata yang hangat. Gara menatap Zia. "Tolong lepaskan aku." Pria ini hanya menatap dengan bola matanya yang sayu karena alkohol. Tiba-tiba Gara menarik tubuh Zia ke atas sofa. "Ga!" pekik Zia yang langsung di sambut ciuman oleh bibir Gara. Zia tidak bisa lagi berteriak. Ponselnya pun terpelanting ke lantai.
Rara yang sedang berdiri di bawah tiba-tiba ingin mendongak ke atas. Ke arah balkon. Sepintas dia mendengar suara seseorang tadi. Namun balkon yang di lihatnya terlihat sepi. Entah mengapa dadanya berdebar. Seperti ada seseorang yang membutuhkannya.
"Kak Rara lihat ke sini dong. Ini bukan candid camera jadi kakak harus hadap kamera," tegur keponakannya.
__ADS_1
"Eh iya maaf." Rara menghadap ke kamera. "Ayo lanjut."
"Bunciiissss ..." Cekrek! Semua masuk dalam frame dengan senyum menawan.
"Lagi. Lagi. Di sebelah sana!" Mereka pun bergegas menuju ke tempat yang di tunjuk. Rara di seret untuk ikut karena sedikit melamun. Foto foto pun berlanjut lagi.
Di atas balkon, Zia berontak dengan ciuman Gara. "Hmmp ... Hmmp." Dengan suara tertahan Zia ingin berteriak. Tangannya juga bergerak mendorong tubuh Gara. Pria ini masih mencumbuinya dengan menggebu-gebu. Seperti tidak akan punya kesempatan lagi selain sekarang. Ya, Hanen tidak akan mengijinkannya melakukan ini. Gara hanya punya kesempatan detik ini.
Akhirnya ciuman itu berakhir. Gara melepaskan bibirnya tanpa menjauhkan tubuhnya yang setengah menindih perempuan ini. Dia tetap menatap Gara. Membiarkan Zia terengah-engah kehabisan napas.
"Hhh ... Hhh ...." Napas Zia terengah-engah karena ciuman mendadak dan brutal milik Gara. Bola matanya membulat menatap Gara. Punggung tangannya mengusap bibir miliknya dengan kasar sambil menatap Gara dengan mata sendu. Dia kesal. Apalagi ciuman Gara sangat brutal.
Namun ternyata bukan hanya ciuman yang ingin Gara lakukan. Dia juga menarik gaun bagian atas yang memperlihatkan bahu Zia. Bola mata Zia membelalak. "Ga," seru Zia tertahan. Meski maksud Zia ingin berteriak, tapi napasnya masih tersengal-sengal akibat ciuman Gara tadi. Hingga hanya panggilan dengan nada lirih yang terdengar. Dia belum bernapas dengan normal.
Gara menciumi bahu dan leher Zia dengan penuh hasrat. Gairah pria ini menggunung. Tangan Zia juga berusaha memaksa Gara untuk menjauh.
Di bawah. Di taman belakang. Rara yang tadi sudah terlupa akan Zia, kini ingat lagi.
"Apa kak Zia belum menemukan ponselnya yah?" gumam Rara yang merasa resah dan gelisah.
"Kak Raraa ... Senyumm ...," panggil gadis-gadis.
"Stop. Berhenti. Aku berhenti enggak ikut foto lagi."
"Yah, Kak Rara ..." Mereka kecewa.
"Aku mau menelepon kak Zia ini. Kenapa dia lama banget."
__ADS_1
"Oh, oke, oke." Rara menjauh dari mereka dan duduk di bangku taman.
"Mungkin saja dia di cegat sama kak Han dan lupa memberitahu aku. Atau bahkan kak Zia sudah pulang dan lupa tadi masih bersamaku," tebak Rara kecewa sendiri dengan pemikirannya. Dia menggelengkan kepala. Lalu dia menekan nama Zia di kontak ponselnya. Nada sambung terdengar. Namun tidak segera diterima. Rara mencoba lagi.
Ponsel Zia yang tergeletak di lantai berdering. Tidak begitu keras karena Zia kurang menyukai dering yang memekakkan telinga. Nada dering ponsel Zia sudah di atur dengan suara dering yang hanya bisa di dengar dengan jarak dekat. Jadi dengan jarak Zia dan ponselnya sekarang itu tidak mungkin bagi Zia bisa mendengarnya. Apalagi dia sedang di bawah kungkungan tubuh Gara yang tegap.
Namun dari cahaya ponsel yang menyala, dia tahu bahwa ada yang sedang mencoba menghubunginya.
Sementara itu Hanen di ruang tamu juga merasa tidak tenang. Berulangkali pembicaraan tidak nyambung. Sampai-sampai saudaranya menegur.
"Kenapa, Han?" tanya saudara laki-lakinya.
"Kenapa?" Han justru balik bertanya. Dia seperti tidak sadar bhwa sejak tadi menampakkan raut wajah tidak tenang.
"Kamu terlihat gelisah. Kamu tidak merasakannya?" Mereka heran.
Hanen mengedikkan bahu. "Entahlah."
"Hanen pasti gelisah karena rindu dengan istrinya," tebak saudara laki-lakinya dengan setengah meledek.
"Ini baru berpisah di dalam rumah. Apa lagi di luar rumah. Hanen bakal kejang-kejang jika di tinggal." Mereka tertawa bersamaan mencibir Hanen.
Hanen tersenyum. Dia tidak memungkiri. Bisa saja itu terjadi karena sekarang dia tidak ingin berpisah dari Zia.
"Aku ke belakang dulu." Hanen menepuk pundak saudaranya pelan.
"Ya." Bagi mereka mungkin suatu lelucon dan konyol bila Hanen merasa gelisah tidak bersama istrinya saat mereka di dalam rumah. Namun bagi Hanen justru di dalam rumah ini terasa berbahaya. Bukankah sekarang ada Gara? Pria yang di cintai Zia.
__ADS_1