Getir

Getir
Pulang


__ADS_3


Zia ingin mengambil ponselnya yang masih tertinggal di balkon. Meskipun tadi sudah ada di genggamannya, berkat ulah Gara ponsel itu kembali lenyap dari tangannya. Zia yakin itu terjatuh di lantai sofa. Namun dia tidak yakin akan keadaan ponsel itu.


Rara berniat mencegah karena dia takut di sana masih ada Gara. Sebisa mungkin mereka jangan bertemu dulu. Akhirnya Zia menemukan ide sendiri untuk ke balkon lagi tapi di temani oleh Rara.


"Baiklah. Ayo kita kesana," ujar Rara setuju dengan ide itu. Aku rasa kak Gara juga sudah pergi dari sana. Jadi tidak masalah jika kak Zia kesana sekarang. Rara berjalan lebih dulu mendekati pintu. Dan sungguh mengejutkan bahwa ada Gara melintas di depan kamarnya.


"Zia ..." Pria itu menemukan wanita ini berada di belakang Rara. Zia terkejut. Bola matanya melebar melihat Gara menemukannya di sini. Tanpa perlu berpikir lagi, Gara hendak menerobos masuk.


"Jangan," cegah Rara yang menghadang tubuh Gara dengan lengannya. Zia yang melihat Gara mendekat, memilih mundur.


"Aku hanya mau bicara denganmu, Zia. Sebentar saja," pinta Gara. Zia tetap berada jauh di belakang Rara.


"Tidak, Kak. Jangan mendekati kak Zia. Rara mohon. Juga ... hilangkan dulu bau alkohol ini." Rara menepis aroma alkohol dari tubuh kakaknya. Gara menghela napas berat. Matanya terus menatap Zia yang menundukkan kepala di balik punggung Rara.


"Baiklah. Aku akan pergi. Kita harus berbicara lain waktu." Gara terpaksa pergi meninggalkan mereka berdua. Dia tidak akan bisa memaksa Zia bicara kali ini.


Setelah kepergian Gara, Rara menoleh ke belakang. "Kakak enggak apa-apa?" tanya Rara menghadap ke arah Zia.


"Ya. Aku baik-baik saja. Sebaiknya kita segera ke balkon. Mungkin Hanen menghubungiku." Rara mengangguk dan membuka pintu lebih lebar.


Mereka berdua kembali ke balkon untuk mencari ponsel Zia. Ponsel itu tergeletak tidak berdaya di atas lantai balkon. Untung saja Gara tidak menemukannya. Mungkin penglihatan Gara buram karena masih terbawa alkohol.


Tidak banyak kerusakan yang terlihat. Hanya retak yang berada di sudut ponsel. Zia memungutnya dan memasukkan ke dalam clucth bag-nya yang juga tertinggal di atas sofa.


"Sebaiknya Kak Zia segera menemui kak Hanen. Mungkin saja dia sedang mencari kakak. Karena terlalu lama akan membuatnya curiga," nasehat Rara.


"Sepertinya begitu." Zia berjalan lagi menuju tangga bersama Rara. Bibirnya mendesis berulang kali. Masih terasa perih di bawa sana. Namun dia berusaha terlihat baik-baik saja. Rara tahu tapi tidak bisa berkomentar.

__ADS_1


Di lantai bawah, Zia langsung menemukan Hanen. Pria itu nampak sedang berbincang dengan saudaranya. Mendengar langkah kaki dari tangga atas, dia menoleh. Kemudian bibirnya tersenyum. Zia menelan ludah terlebih dahulu sebelum kemudian tersenyum juga.


Sekilas apa yang di lakukan Gara tadi melintas. Bulu tengkuknya meremang memikirkan jika Hanen melihat semua itu. Pertumpahan darah pasti akan terjadi.


"Sudah selesai acara berkumpulnya? Kalian pasti tidak berhenti berfoto, kan?" tebaknya. Han tahu bahwa perempuan kalau berkumpul pasti tidak melewatkan waktu berfoto.


"Belum selesai. Mereka masih berfoto-foto," jawab Rara mewakili Zia yang sedang menata diri dari rasa syok. Zia hanya mengangguk. Hanen melirik. Melihat Zia yang setengah menunduk. Seperti tidak ingin di temukan.


"Lalu kemana yang lain? Aku rasa tadi kalian beramai-ramai ke lantai dua." Hanen memang melihat mereka.


"Yang lain sedang di taman belakang. Mereka masih melakukan pemotretan di sana," ujar Rara terdengar lelah menghadapi mereka. Dia sebenarnya tidak bisa mengimbangi para gadis-gadis yang gemar berfoto. Dia juga menggemari berfoto tapi dalam porsi yang tidak seperti mereka. Zia tersenyum tipis menanggapi reaksi Rara tentang saudara-saudaranya.


"Kita pulang, Zia?" tanya Han. Sudah sejak tadi dia ingin mengajak wanita ini keluar dari rumah dan kembali ke rumah mereka sendiri. Namun Han mencoba bersikap wajar dengan tetap menunggu istrinya keluar sendiri dari kamar Rara.


Zia menoleh dan mengangguk lagi. Dia tidak banyak bicara. Dia terlalu lelah. "Kalau begitu kita pamit sama mama dan papa dulu. Ra, aku ambil Zia." Han mengulurkan tangan meminta Zia menggenggam tangannya. Tangan Zia menerima uluran tangan Han sambil mendekat ke samping.


"Ya. Aku mengerti," jawab Hanen. Rara dan Zia tidak tahu bahwa jawaban Hanen adalah soal mengerti tentang semua yang sudah terjadi tadi. Mereka tidak paham bahwa Hanen hanya sedang berpura-pura baik-baik saja.


Mereka berdua menemui mama yang sedang bercengkrama di ruang tamu bersama saudara yang lain.


"Ma," panggil Hanen.


"Hanen? Ada apa? Eh, mama lihat kamu sedang bersama gadis-gadis tadi, Zia." Belum mendapatkan jawaban dari Han, Mama sudah mengajak Zia bicara sambil memegang lengannya. Han terpaksa menunggu hingga giliran Zia menjawab.


"Iya Ma. Aku bersama Rara dan lainnya. Mereka mengajak berfoto-foto." Zia memaksakan diri berbicara. Tidak mungkin dia diam tidak menjawab pertanyaan mertuanya.


"Ma, kita mau pamit pulang." Hanen langsung mengatakan maksudnya, setelah mendapat jeda untuknya bicara.


"Pulang?" tanya mama melihat Han dan Zia bergantian. "Kenapa tidak menginap saja? Kamar Han masih ada, Zia."

__ADS_1


"Emm ..." Zia ragu untuk menjawab.


"Jika kita menginap, kasihan rumah kita kesepian, Ma," kelakar Han demi menyelamatkan Zia. Beliau tersenyum.


"Ada-ada saja kamu, Han. Bailklah kalau begitu. Mama ijinkan kalian pulang terlebih dulu." Zia mendekatkan tubuhnya dan di peluk oleh mama.


"Hati-hati ya sayang ...," ujar beliau.


"Iya. Ma." Setelah giliran Han memeluk mamanya selesai, mereka pun beranjak pergi. Keluar rumah menuju tempat mobil mereka tadi. Setelah memasang sabuk pengaman, Han memacu mobilnya keluar dari halaman rumah. Melesat ke jalan raya menuju rumah kecil mereka.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Han tanpa menoleh ke samping. Zia terkejut.


"Aku? Ya ... Aku baik-baik saja." Zia langsung mengubah raut wajah terkejutnya menjadi normal.


"Benarkah?"


"Ya. Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa." Han langsung menghapus percakapan ini berlanjut dengan kalimatnya. Zia melirik. Pria itu masih melihat ke depan. Ke arah jalanan yang sedang mereka lewati. Dari samping, Zia berusaha membaca raut wajah itu Ada apa?


"Kamu sendiri ... Apa juga baik-baik saja?" tanya Zia balik. Dia merasa Hanen sedang tidak baik-baik saja. Dia merasa pria ini sedang ingin membahas sesuatu dengannya.


"Ya. Mungkin." Zia sudah akan melihat ke arah lain saat mendapat jawaban bahwa Han baik-baik saja. Namun saat mendengar jawaban di penghujung kalimat, Zia menatap Hanen agak lama. Zia menemukan raut wajah sendu milik Han. Jawaban Hanen mengisyaratkan bahwa dia sedang dalam keadaan gundah.


Ada apa, Han?


"Apa kamu bertemu dengan Gara?" tanya Hanen. Kali ini dia menoleh pada Zia. Menatapnya.


__ADS_1


__ADS_2