
Badai mungkin di anggap sudah berlalu meskipun berita-berita soal keharmonisan rumah tangga Hanen masih sesekali muncul. Namun sekarang jauh berbeda dengan ketika pertama kali kabar itu terkuak di publik, sekarang berita itu lewat dan berlalu begitu saja.
Hanen tetap bekerja seperti biasa meskipun ada sedikit bisik-bisik tentang dirinya. Pria ini sudah kebal dengan segala macam hal yang membicarakan dirinya dengan buruk. Hanen tidak peduli pada dirinya lagi. Dia hanya merasa sudah bisa tenang karena mereka buka membicarakan Zia.
Prioritasnya sekarang adalah diri Zia.
Zia bisa pulang ke rumah karena keadaannya mulai membaik. Hanen juga sudah mulai bekerja seperti biasa, meskipun kali ini ada banyak mata yang memandangnya dengan tatapan banyak arti. Kabar tentang dirinya yang berselingkuh lebih dulu dari Zia pasti sudah sampai pada telinga mereka juga.
Dalam hati mereka pasti mencibir Hanen yang di anggap pria yang punya wibawa ternyata adalah pria brengsek. Hanen menjalani semua rutinitas dengan mengabaikan semua pandangan banyak orang tentang dirinya. Namun tidak ada yang berani secara terang-terangan menggunjingkan Han. Karena bagaimanapun Hanen adalah putra dari keluarga besar Laksana. Mereka tidak bisa sembarangan menggunjing.
Zia juga sudah melakukan rutinitasnya di rumah seperti biasa.
__ADS_1
"Anakku terima kasih ... Meski aku kacau balau, kamu tetap kuat di dalam sana." Aku mengelus perutku yang membuncit dengan sayang. Meskipun banyak gejolak permasalahan yang menimpaku, mengelus perut buncit ku mampu meringankan rasa gundah karena semuanya.
Kabar mengenai skandalku dengan Gara mulai menipis. Ini sedikit melegakan. Lalu ... apa kabar dengan mu, Gara? Apa kamu juga merasakan kelegaan seperti aku? Atau kamu justru terpuruk menghadapi kenyataan kalau kisah kota ternyata harus di kubur dalam-dalam?
Sejak kabar tentang skandal Zia dan Gara beredar lagi, ibu belum menjenguk Zia sama sekali. Pagi yang cerah ini, sungguh mengejutkan kakak Zia muncul di depan rumah mereka.
Han yang sudah berpakaian rapi membukakan pintu. "Ayo masuk." Hanen mempersilakan kakak iparnya masuk. "Kenapa tidak memberi tahu lebih dulu, kalau kakak akan datang kesini?" tanya Han seraya membantu membawakan bawaannya.
"Iya. Ini memang mendadak," kata kakak Zia. "Itu oleh-oleh dari ibu." Kakak memberikan bungkusan besar pada pria ini.
"Tidak begitu spesial. Itu hanya masakan yang di buat ibu," ujar Kakak ipar. Tak lama Zia muncul dari dalam.
__ADS_1
"Kakak?" seru Zia. Kedua perempuan ini berpelukan. Hanen tersenyum melihatnya. Keluarga adalah yang terpenting bagi perempuan itu.
"Ibu membawakan masakan," kata Han menunjukkan bungkusan besar pada Zia. Perempuan ini menoleh dan melebarkan matanya karena senang mendapatkan makanan buatan ibu.
"Kenapa ibu perlu repot? Seharusnya kan ibu datang ke sini saja, Kak," ujar Zia.
"Ibu justru lebih repot kalau berpergian. Beliau mudah lelah sebenarnya," tandas kakak singkat. Zia memeluk lengan kakaknya. "Eh, Han. Kamu sudah rapi, pasti mau berangkat kerja ya?" tanya Kakak Zia yang melihat Hanen seperti sudah siap berangkat.
"Iya, Kak." Hanen tersenyum. Dia memang sudah siap berangkat, tapi tertahan karena ada kakak datang.
"Di tinggal aja enggak apa-apa. Nanti kamu terlambat Lho," ujar Kakak. Kepala Hanen mengangguk.
__ADS_1
"Iya. Aku mau berangkat." Hanen sepertinya ingin menata masakan yang di bawa Kakak Zia tadi.
...___...