
"Kamu sudah makan, Zia?" tanya Gara mengejutkan. Mama menoleh pada Gara yang bertanya. Manik mata beliau bergerak melirik. Ingin tahu ekspresi apa yang di buat Zia dan putranya.
Zia mencoba menghindari tatap mata Gara. Karena dia tidak mau mertuanya menganggap dirinya masih ada hubungan dengan Gara.
"Belum. Aku masih tidak ingin ...," sahut Zia pelan. Dia ingin mengatakan sudah makan, tapi bukti kalau belum makan masih ada di meja. Piring stainless berisi makanan dari rumah sakit masih ada di atas nakas. Gara tahu itu. Makanya dia bertanya.
"Apa Han menyuruhmu berdiet atau dokter yang melakukannya?" tanya Gara dengan melihat lurus ke arah Zia.
"T-tidak. Kenapa?" Bola mata Zia mengerjap, tidak mengerti apa yang di maksud Gara. Mama memperhatikan mereka berdua dengan seksama.
"Sebenarnya apa yang kamu bicarakan Gara? Zia kebingungan," tanya mama protes. Karena beliau lihat Zia tampak tertekan.
"Jika Zia tidak mau makan, aku pikir itu nasehat Hanen atau dokter. Kalau ternyata tidak ada pantangan apapun untuknya, itu artinya dia harus makan, bukan?" Gara menunjuk Zia dengan ekor matanya. Dia tahu Zia tidak ingin terlibat percakapan dengannya. Perempuan itu bukan tidak mau makan, dia hanya ingin Gara menjauh darinya. Zia tidak mau terlihat ada kedekatan lagi dengannya. Apalagi adanya keberadaan mama di sini.
__ADS_1
Mama menghela napas karena gelisah. Gara terlihat sangat peduli pada perempuan ini. Masih. Bibir Zia menipis kesal. Gara membuka plastik wrapping wadah makanan rumah sakit perlahan. Sepertinya dia hendak memaksa Zia makan.
"Apa kamu belum tahu kalau Hanen sudah siuman?" tanya Gara seraya membuka bungkusan itu dengan sabar. Sikapnya makin tidak bisa di tebak. Zia pikir pria ini akan mencoba lebih banyak diam ketika mama ada di kamar ini, tapi nyatanya ... Gara makin gencar mengajaknya bicara. Itu membuat Zia cemas. Apalagi keberadaannya di kamar ini sekarang, menunjukkan bahwa pria itu masih memedulikannya.
"Sudah," sahut Zia cepat. Jawaban singkat yang menunjukkan bahwa di enggan.
"Zia sudah melihat keadaan Hanen tadi, Gara. Karena terlihat lelah, Han menyuruhnya kembali ke kamar." Mama ikut menjelaskan. Kepala Gara mengangguk mengerti setelah di beri penjelasan.
"Makanlah yang banyak untuk bayi kamu." Gara menyodorkan piring berbahan stainless itu pada Zia. Perempuan ini tidak menjawab. Apalagi ketika mama meliriknya, dia tidak bisa bereaksi banyak. Zia kebingungan.
"Sini, mama yang suapin." Mama langsung berinisiatif.
"Tidak apa-apa, Ma. Zia bisa makan sendiri nanti." Zia malu jika mertua melakukannya.
"Tidak apa-apa. Lagian ini untuk cucu mama, bukan?" Mama meraih piring stainless dari tangan Gara. Mama tidak menyerah. Zia akhirnya pasrah. Bibir Gara tersenyum. Pria ini bersikap tidak peduli saat ekor mata Zia melirik tajam ke arahnya yang berdiri memperhatikan mama dan dirinya.
__ADS_1
Gara merasa begitu senang melihat interaksi keduanya. Meski sempat menatapnya tajam, wajah Zia tidak bisa berbohong. Dia terlihat bahagia mendapat perhatian dari mertuanya. Gara mulai mengeluarkan alpukat dari bungkusnya untuk di kupas.
"Setelah makan itu, makanlah buah alpukat-nya." Gara memberi perintah. Entah kenapa Gara terasa menekan Zia dengan sikapnya.
"Aku hampir kenyang, Gara. Jadi tidak mungkin aku makan buah setelah makan nasi," protes Zia. Bukan tidak mau sebenarnya. Karena sekarang buah itu jadi favoritnya, dia tentu tidak menolak jika di suruh makan buah alpukat. Meski kenyang pun buah alpukat selalu punya tempat dalam perutnya. Dia hanya ingin Gara berhenti memberi perhatian semacam itu padanya di depan mama.
"Biarkan dia makan alpukat-nya nanti saja, Ga." Mama ikut menyetujui kalimat menantunya.
"Mama tidak tahu kalau dia selalu begitu antusias ketika itu menyangkut alpukat." Gara seperti sedang membuka rahasia Zia. Bibir Zia menipiskan bibir.
"Oh benarkah. Kamu menyukai alpukat?" tanya mama seraya tersenyum. Beliau terlihat antusias. "Karena itu juga kesukaan Gara."
Zia menelan saliva-nya sendiri. "Iya ... Ma," sahut Zia hendak berbohong tapi tidak bisa. Dia tidak ingin orang menyamakan buah favoritnya dengan Gara. Apalagi itu mama mertua. Dia tidak ingin mama berpikir aneh-aneh. Ia ingin menghindari itu, tapi mertua justru mengatakannya.
...----------------...
__ADS_1