
Entah mengapa, saat itu Annya merasa sangat senang saat melihat Azra datang ke lapaknya lagi, apa lagi dengan membawa pasta lezat yang ia makan terakhir kali, pasta yang di buat Azra khusus untuknya, untuk wanita pertama yang menikmati masakanya, selain adik perempuanya tentunya.
Namun, dihati Annya tetap kukuh dengan pendirianya, ia masih tetap tidak percaya akan cinta sejati, tidak percaya akan manisnya sebuah hubungan, terlalu sering ia merasakan kepahitan dan kegagalan.
Azra masih memandang Annya yang begitu lahap menikmati pasta pemberianya, ia menunggunya sampai Annya usai menikmatinya sampai habis, barulah ia mengutarakan keinginanya.
"Akh...makasih ya Azra, aku sangat kenyang...meskipun tadi aku sudah makan, namun saat menikmati pasta buatanmu, rasanya mukutku tak mau berhenti untuk mengunyahnya." Ucap Annya dengan senyum senangnya.
"Annya...syukurlah kalau kamu menyukainya, aku pun ikut senang, dan karena kamu kukuh dengan pendirianmu itu, aku tak bisa berada disisimu lebih lama lagi, aku akan tersiksa, kau tak mau kan? jadi...bisakah aku meminta kado terakhir padamu sebelum aku pergi meninggalkan Negara ini? mungkin setelah itu aku akan meninggalkan negara ini dan aku tidak tahu kembali lagi kapan, aku juga percuma kan menginginkanmu...hatimu tidak akan pernah bisa terbuka lagi." kata Azra yang membuat terenyuh hati Annya, namun ia masih belum bisa membuka hatinya, bagi Annya beberapa bulan yang lalu, ia baru mengenal siapa Azra, dan tidak mudah baginya untuk cepat menerima seseorang apa lagi membuka hati untuknya, karena dahulu hubunganya dan Rama sudah lima tahun lebih, hubungan yang Annya kira akan indah saat bermuara, namun kenyataanya berbeda, apa lagi yang baru hitungan bulan saja, menurut Annya.
Kado apa Azra yang bisa aku berikan untukmu sebagi salam perpisahan kita? tunggu dulu, tapi jangan pernah sakit hati karena ku ya?" Ucap tanya Annya yang benar benar terasa sesak seketika di dadanya, entahlah...Annya belum tahu apa penyebabnya.
"Akh...aku nggak akan sakit hati Annya, aku tahu apa yang kau rasakan, trauma itu memang sangat menyakitkan. Emb...malam ini...aku mengadakan pesta perpisahan, datanglah sebagai pasanganku di pesta itu, aku harap kau mau Annya...." Ucap Azra dengan wajah memelasnya.
"Baiklah...aku mau Azra...semoga kau menyukainya..." Ucap Annya dengan seketika, dan kemudian Azra pun membalas ucapan yang sama.
"Semoga kau menyukainya juga Annya," Ucap Azra yang tanpa sepengetahuan Annya.
Dan benerapa saat, datanglah seseorang dengan membawa satu kotak besar dan di atasnya terdapat kotak yang lebih kecil lagi, bertumpuk di kedua tanganya,
laki laki itu menyerahkan kotak kotak itu pada Annya segera.
"Ini apa Azra?" Tanya Annya ingin tahu dan begitu penasaran.
__ADS_1
"Ini pakaian dan sepatu yang nanti malam kau gunakan Annya...semoga pas untukmu, nanti malam tepat pukul enam supir akan menjemputmu...jadi jangan sampai telat ya..." Ucap Azra sembari berdiri dari duduknya dan melangkah pergi begitu saja menaiki mobilnya.
Entah mengapa, saat ituhati Annya terdapat percikan yang ia rasa sedikit menghujamnya, Annya hanya terdiam mematung saat melihat mobil Azra pergi dan menghilang di telan arus padat kendaraan yang lalu lalang.
"Sakit...sesak...kenapa dadaku ini?" Ucap tanya hati Annya pada dirinya sendiri.
Hingga tepat pukul enam sore, sopir yang di perintahkan Azra untuk menjemput Annya di tempatnya tiba, Annya pun dengan anggunnya melangkah pergi berjalan menuju mobil yang telah menjemputnya.
Setengah jam lebih perjalanan yang Annya tempuh, kemudian mobil sampai pada gedung hotel yang telah di pesan Azra sebelumnya.
Annya di sambut Azra di depan pintu utama, lalu Azra pun membuka celah antara lengan dan sikunya, tanda Annya harus mengalungkan tanganya disana, lalu Annya pun turut serta kemauan Azra, dan Azra pun kemudian mengajaknya untuk masuk kedalam gedung acara.
Seketika semua mata tertuju pada keduanya, tidak terkecuali mantan suaminya dan isteri barunya yang ikut hadir pula dalam acara tersebut.
"Annya...malam ini kamu sebagai bintang utamanya...dan...aku harap kamu menyukainya," Ucap Azra dengan bisikan di telinga Annya, dan Annya malah kebingungan di buatnya, entah mengapa Annya merasa nada suara Azra itu sangat menyayat hatinya.
Dan keduanya pun berdampingan memasuki ruangan dimana acara dimulai,
Azra mengajak Annya untuk berdansa denganya, dan Annya yang pernah menjadi golongan atas pun menikmati tarian dansa dengan Azra hingga selesai dan sampailah pada acara terakhir, atau puncak acara.
"Annya...ini aku serahkan untukmu, semoga kamu menyukainya...maaf ya...hanya bisa memberikanmu ini, semoga dengan ini ke inginanmu sudah terkabul, dan aku harap kau kelak akan membuka hatimu, meski bukan untuku, aku berharap kau selalu bahagia, hiduplah bahagia Annya mulai saat ini." Ucap Azra sambil menyerahkan map warna biru yang ada di tanganya untuk Annya.
Dan Annya dengan tidak mengertinya itu, hanya bisa diam mematung di tempatnya.
__ADS_1
"Aku pamit dulu Annya...mobil sudah menungguku di luar gedung, nikmati acaramu Annya...sampai jumpa lagi." Ucap perpisahan Azra.
Dan Annya tidak bisa meninggalkan pesta, karena Azra tadi sempat memintanya untuk mewakilinya di acara yang sedang berlangsung tersebut, Annya belum menyadari bahwa Azra sengaja membuat pesta penyambutan itu untuk menyambutnya, untuk menyandang pemilik baru aset aset yang dulu pernah di pindah tangankan atas nama mantan suaminya, atau si brengsek Rama.
Annya terkejut seketika saat pembawa acara mengumumkan...Annya sebagai pemimpin baru mini market ternama dan juga pemiliknya.
Ia pun langsung membuka map yang ia bawa, map yang tadi Azra berikan untuknya.
Didalamnya terdapat foto copy dan berkas berkas penting yang sudah atas namanya, nama Annya Bintara, kemudian terselip surat di dalamnya, pelan pelan Annya pun membukannya lalu membacanya.
"Annya...ini kado terakhir untukmu, ini kan yang pernah kau minta padaku, aku dengan senang melakukannya untukmu, bukan atas perintahmu, dan aku pun tidak meminta imbalan apapun darimu.
Mulai saat ini...hati hati dengan laki laki, jangan mudah terayu dan tergoda, aku selalu berdoa yang terbaik untukmu, berkas yang aseli aku sudah suruh orang untuk menyimpannya di rumahmu, setelah acara, akan ia serahkan kuncinya padamu, nikmati hidupmu mulai sekarang.
Annya...maafkan ke egoisanku...mungkin saat kau membuka surat ini, aku sudah duduk di pesawat dalam penerbanganku, aku tidak akan mengganggumu lagi,
ku harap kau menyukai kado dariku."
Ucap surat yang Annya baca, dan seketika semua yang ia pegang terjatuh, hanya kertas ucapan dari Azra yang ia genggamnya dengan erat, dengan linangan air mata ia berlari pergi menuju pintu keluar.
Namun apalah daya Annya, kini Azra benar benar pergi meninggalkanya, karena kebodohan dan ke egoisanya, dengan isakan dan sesak di dadanya, rasa hatinya yang tersayat sayat...sungguh memilukan.
Ia terduduk dengan air mata menggalir deras di kedua matannya, kedua kakinya serasa tanpa tulang penyangga, ia ambruk dengan kedua lutut lemas di deoan gedung acara, suaranya tertelan seakan tidak ada.
__ADS_1