
...Zia...
Nomor tidak di kenal? Siapa? tanyaku saat nomor asing mengirimi sesuatu pada handphone ku. Awalnya aku tidak ingin membukanya, tapi nada pesan masuk bertubi-tubi membuatku menjadi penasaran. Ku raih ponsel itu.
Aku membuka pesan yang sepertinya bukan pesan tertulis itu tanpa merasa aneh. Namun saat membukanya dengan jelas, aku melihat banyak foto yang membuat ku berdebar kencang ingin marah. Itu foto Hanen dengan Kayla. Jadi saat ini Han bukan sedang bertemu teman bisnis tapi bertemu dengan perempuan itu?
Han, kamu ... masih bertemu dengan wanita itu tanpa sepengetahuanku? Aku pejamkan mata. Aku marah, tapi rasanya ingin menangis juga percuma. Ini bukan pertama kalinya. Walaupun tidak ada tangisan dan air mata, tapi hatiku tetap sakit.
Kini film drama romantis tidak lagi menjadi suguhan yang menyenangkan. Mood jadi buruk setelah melihat pesan itu. Aku tidak harus pasrah mendapat foto seperti ini. Setidaknya aku bisa bertanya pada orang yang mengirim foto padaku. Tanganku bergerak cepat. Menekan tombol panggil pada nomor yang baru saja mengirimkan pesan.
Tidak ada yang menjawab. Aku mencoba sekali lagi. Masih sama. Orang di sana tidak ingin menjawab panggilan teleponku. Apa ia orang suruhan Kayla, atau ... ia adalah Kayla sendiri? Perempuan itu masih menginginkan Han?
Tanpa sadar tanganku mengelus lembut perut buncitku. Seperti mencoba menenangkan perasaan tidak senang saat melihat apa yang di lakukan papanya di belakang.
Ponsel di tanganku berdering. Ini membuatku terhenyak karena sedang termenung. Ada nama mama.
"Sayang ... kamu dimana?"
"Di rumah, Ma."
"Benarkah? Lalu kenapa Han sulit sekali di hubungi?" gerutu mama. Mungkin Han sengaja mematikan ponselnya untuk menyembunyikan keberadaannya bersama Kayla.
"Tapi Han tidak di rumah, Ma."
__ADS_1
"Malam begini? Lalu kamu sendirian sayang?" tanya mama khawatir.
"Ada bibik kok Ma," kataku. Ya. Aku tidak sendirian. Ada pembantu yang menemani di kamar belakang. Pembantu yang di datangkan dari rumah mertua untuk bekerja di sini.
"Kemana sih Hanen itu. Bukannya menemani istrinya yang sedang hamil malah keluyuran. Mama mau kesana mengantar kue brownis yang mama buat. Mama pikir Hanen bisa kesini untuk mengambilnya, ternyata itu anak enggak ada di rumah."
"Mama bisa menyuruh pak sopir. Nanti aku akan tunggu di luar. Atau besok pagi, Zia akan ke rumah mama." Aku mencoba mencari cara agar mama tidak muncul di rumah ini. Pikiranku tidak sedang dalam keadaan baik. Tentu saja aku ingin ke kamar dan tidur daripada harus bertemu dengan orang lain.
"Mama juga sekalian ingin lihat keadaan kamu sayang ...," ujar mama yang tanpa sadar membuatku kecewa. Padahal di datangi mertua mungkin adalah anugerah. Karena bisa saja di luar sana banyak menantu yang tidak di harapkan mertuanya. Bukan maksud menolak kedatangannya beliau, tapi suasana hatiku tidak mendukung untuk berbasi- basi.
"Kalau begitu, akan Zia tunggu." Akhirnya aku terpaksa pasrah. Membiarkan beliau berniat mengunjungiku. Ku hela napas lelah. Masih teringat soal foto Han bersama Kayla. Ada apa denganmu Han? Ingin mengulang lagi memori lama? Ingin menyakitiku lagi?
**
Aku menunggu mama datang. Sekaligus menantikan kepulangan Han. Namun ku tepis keinginan untuk bertemu dia. Jika foto-foto itu benar, sekarang pastilah dia sedang bersenang-senang. Terserah. Ini bukan pertama kalinya aku di sakiti. Aku akan kuat.
Kakiku berhenti melangkah karena itu bukan mama. Kubiarkan ia membuka pagar dan mulai berjalan masuk ke halaman. Gara sedikit terkejut saat menemukan aku di depan teras.
"Kenapa ada di luar, Zi?" tanya Gara cemas. "Diluar dingin. Kamu harusnya di dalam. Ini hanya brownies. Kamu tidak perlu menunggunya dengan serius."
"Ya," sahutku singkat. Ku ulurkan tanganku untuk meraih bungkusan berwarna di tangan Gara. Aku ingin meraih bawaan itu dan segera masuk tanpa perlu mempersilahkan pria ini mampir. Sungguh mengejutkan Gara menjauhkan bungkusan itu dariku. Kepalaku mendongak.
"Kamu tidak mempersilakan aku masuk dulu, Zi?" tanya Gara dengan bola mata menatap dalam-dalam ke arahku. Ini membuatku menunduk.
__ADS_1
"Ini mulai malam. Kamu harus pulang." Aku tidak bisa menatap bola matanya saat mengatakan ini. "Lagipula Han tidak ada."
"Aku tahu," jawabnya membuat aku terkejut. Bola mataku tertuju ke arahnya tanpa terkendali. Tahu? Tahu darimana? "Ijinkan aku duduk beberapa menit di sini. Di kursi teras ini," tunjuk Gara pada kursi di dekat kita berdiri. Bola matanya memohon padaku dengan sangat. Hingga aku akhirnya tidak bisa menolak.
"Duduklah."
"Terima kasih." Gara tersenyum lega. Ia duduk lebih dulu dan meletakkan bungkusan yang di bawanya di atas meja kecil diantara dua kursi yang ada di teras. Aku ingin masuk ke dalam meminta bibik membuatkan minuman. "Duduk saja. Tidak perlu melakukan apapun. Biarkan bibik tidur." Dia tahu. Akhirnya aku ikut duduk di kursi. Ku luruskan pandangan tidak ingin menoleh ke arahnya. "Semua baik-baik saja, Zi?" tanya Gara lirih tiba-tiba.
"Ya."
"Benarkah?"
"Kenapa meragukan kebahagiaanku?" tanyaku sambil memberanikan diri melihat ke arahnya. Aku tidak setuju. Gara menatapku. Sepertinya sejak tadi ia tidak melepaskan pandangannya padaku.
"Aku cemas, Zi." Bola matanya teduh saat mengatakannya. Oh, Gara. Kamu tidak harus menunjukkan ekspresi seperti itu.
"Ada Han sebagai suamiku. Kamu tidak perlu mencemaskan aku, Ga. Dia akan melakukannya." Ku buang pandangan ke arah depan agar tidak terhanyut dengan tatapan lembut miliknya.
"Justru karena Han adalah suamimu, aku ragu dia bisa melakukannya," kata Gara dengan tekanan yang dalam. Aku menoleh padanya dengan mengerutkan kening.
"Berhenti mengatakan itu, Ga."
"Kamu tidak tahu apa saja yang ia lakukan saat tidak bersamamu. Seperti sekarang saat ia tidak di rumah," kata Gara dengan bola matanya yang berapi-api. Aku menutup mulut rapat-rapat. Aku tahu Ga. Aku tahu. Aku tahu apa yang di lakukan Han malam ini.
__ADS_1
"Dia bersama Kayla, Zi."
***