Getir

Getir
Bab. 81


__ADS_3

Sungguh mengejutkan Kayla muncul di depan kantor Gara. Bahkan ia meminta bertemu dengan pria ini. Meski satpam sudah menolak permintaannya untuk bertemu dengan Gara, tapi Kayla memaksa.


 


"Maaf, Nona. Pak Gara tidak bisa di temui. Beliau bukan orang sembarangan yang bisa di temui sewaktu-waktu. Anda harus punya janji terlebih dahulu," kata satpam berusaha memberi penjelasan.


 


"Hh ... Baiklah. Baik. Katakan saja sekarang pada Gara, Kayla sedang ingin menemuinya," kata Kayla.


 


"Sudah saya jelaskan tadi, kalau ..."


 


"Kamu belum memberitahunya. Cobalah telepon ruangannya. Setelah mendengar namaku, aku yakin dia mau menemuiku," kata Kayla memaksa.


 


"Tapi ..."


 


"Aku bilang coba saja!" desak Kayla dengan mata melebar dan geregetan. Satpam itu menghela napas. Memberi kode pada temannya di meja resepsionis untuk menelepon ke ruangan sekretaris Gara.


 


Setelah beberapa menit berbincang, dia memberitahu bahwa Kayla boleh naik ke lantai atas menemui Gara.


 


"Anda boleh menemui tuan Gara di ruangannya," kata satpam memberitahu.


 


"Benar kan, seperti yang aku bilang. Kalau kamu telepon mulai tadi kan jadi tidak ribet, huh." Kayla melenggang masuk ke dalam pintu lift dengan elok. Dia yakin bahwa Gara akan mau menerimanya.

__ADS_1


 


Ada apa gerangan Kayla muncul di perusahaan ini untuk menemui Gara? Rencana apalagi ini?


 


Sementara itu di ruangan Gara, pria ini terdiam dengan kening berkerut.


 


Kenapa Kayla ingin menemuiku? batin Gara berpikir. Ini agak aneh. Karena seharusnya dia menemui Han. Perempuan itu kekasih kakaknya.


 


Tok! Tok!


 


"Masuk!" seru Gara untuk orang di balik pintu. Akhirnya pintu pun terbuka perlahan.


 


 


"Sebenarnya aku malas menerima mu di ruanganku Kayla. Karena aku tidak perlu mengotori ruanganku dengan sampah," kata Gara langsung memakai perempuan ini.


 


"Kata-katamu sungguh kasar dan menyebalkan. Oke, tidak masalah. Toh, kamu sangat ingin penasaran bukan, kenapa aku datang menemui mu bukan menemui Hanen?" tanya Kayla dengan senyum mencemooh.


 


Perempuan ini duduk di sofa meskipun Gara tidak mempersilakannya. Dia tidak peduli. Karena Gara tidak akan berbasa-basi dengannya.


 


"Ya. Karena aku ingin tahu apa yang di rencanakan mu, aku memberikan waktu untuk perempuan yang sangat tidak aku sukai muncul dan duduk di sini," kata Gara dingin.

__ADS_1


 


Kayla tergelak mencemooh.


 


"Mulutmu sangat pedas Gara. Tentu saja aku bukan wanita yang kamu sukai. Kamu membenciku. Karena yang kamu cintai hanya Zia. Istri dari kakakmu. Bukan begitu?" Tebakan Kayla tentu saja benar. Gara mencintai Zia. Sangat mencintainya.


 


Gara mendengus. Ia tidak bangkit dari duduknya. Ia tidak mau duduk di dekat wanita ini.


 


"Bicaralah apa yang ingin kau bicarakan, Kayla," kata Gara.


 


"Kamu tidak ingin duduk di sofa dulu? Kurasa duduk di situ membuat kita tidak bicara dengan tenang dan santai," kata Kayla menunjuk sofa di depannya.


 


"Aku tidak perlu duduk di sana untuk mendengarkan mu. Jangan banyak tingkah, bicara saja jika kamu ingin bicara. Jangan memerintahkan aku untuk duduk di sana atau apapun. Aku tidak mau di perintah, kau tahu?" desis Gara seraya memajukan tubuhnya.


 


"Oh, begitu ... Terserah kamu saja." Kayla menanggapi dengan mencebikkan bibir dan mengangkat bahunya tidak peduli. "Kamu lumayan tegas Gara. Berbeda dengan kakak mu yang plin plan." Wajah Kayla seakan muak dengan pria itu. "Kenapa aku tidak tahu, kamu lebih cool daripada Hanen. Seharusnya aku mendekati mu bukan dia." Kayla menjentikkan jarinya.


 


"Aku tentu tidak sudi di dekati olehmu, Kayla." Gara tersenyum mencemooh. "Jadi cepat katakan apa yang kamu inginkan. Aku tidak punya waktu banyak untukmu. Jika tidak, aku akan meminta sekuriti untuk menyeret mu keluar."


 


"Oh, tenang ... tenang, Gara. Oke, aku akan bicara sekarang." Kayla tidak bisa berlama-lama. Gara bukan orang yang sabar untuknya. "Aku ingin membuat kesepakatan."


...___________...

__ADS_1



__ADS_2