Getir

Getir
Aku tahu


__ADS_3

"Kamu masih di sini?" sapa Han pada adiknya. Sapaan ini membuyarkan tatapan kita berdua. Bola mata Gara bergeser melihat Hanen.


"Ya. Kita baru akan pergi," sahut Gara. Perempuan di samping Gara tersenyum.


"Dia ..." Han rupanya juga belum tahu siapa perempuan itu.


"Mina," sahut perempuan itu memperkenalkan dirinya. Aku mengerjap karena bola mata Mina menatapku. Tatapan yang tidak hanya sekedar baru bertemu. Mina seperti mengenalku. "Ini pasti Zia, istri Hanen yang cantik." Aku tersenyum saat dia menyebut namaku. Sekedar menunjukkan keramahan pada orang baru.


"Ya," sahut Hanen seraya menarik bahuku mendekat ke arahnya. Bola mata Gara mengikuti tangan Han yang menyentuh ku.


"Selamat atas kehamilannya. Kalian akan menjadi ayah dan ibu," sambung Mina mengucapkan selamat.


"Terima kasih," ucapku.


"Kamu pergi sekarang?" tanya Han pada Gara. Pria itu mengangguk tanpa kata-kata. "Tidak mengobrol sejenak?" Spontan aku menoleh ke arah Han. Mengobrol? Dengan Gara? Entah apa yang dipikirkan Han. Dia ingin membanggakan kehamilan ini? Menunjukkan bahwa dirinya memang atas hatiku DNA tubuhku? Mendadak aku kesal dengan tawaran Han.


"Maaf. Gara harus segera pergi. Dia punya urusan pekerjaan yang penting denganku," ujar Mina memberi penjelasan dengan sopan. Aku terkejut. Gara membiarkan perempuan itu menjawab pertanyaan untuknya. Ini seperti bukan Gara biasanya. Aku bahkan terkejut melihat perempuan itu melingkarkan tangannya di lengan Gara dan mengajaknya menjauh dari kita.


Tanpa sadar manik mataku mengikuti kemana mereka pergi. Bahkan tubuhku berputar melihat mereka yang masih saja berjalan dengan berimpitan. Mataku mengerjap lagi. Aku tidak percaya.


"Zi," tegur Han membuatku berjingkat. Aku melupakannya. Fokusku tadi hanya pada Gara.


Ku lihat Han menatapku. Bisa dipastikan dia sudah memperhatikan aku sejak tadi. Karena mata itu seperti sedang terluka. Ku basahi bibirku karena sedikit gugup. "Kita masuk?" ajaknya lembut. Menyingkirkan rasa sedih yang terlintas sekilas di raut wajahnya.


"Ah, iya." Ku putar tubuhku menghadap pintu. Lalu masuk ke dalam rumah membiarkan Gara dengan perempuan yang terasa tidak asing. Dia siapa? Apa aku pernah mengenalnya? Han membimbing bahuku melangkah masuk.



...Gara...


.......


.......

__ADS_1


.......


"Lepaskan lenganku," ujarku setengah menggeram melihat lenganku di peluk Mina. Sungguh kurang ajar menurutku dia melakukan itu.


"Oh, maaf," ucap Mina. Meskipun aku ketus saat memintanya melepas lenganku, dia terlihat biasa saja. Bahkan meminta maaf. Ku usap lenganku seakan dia adalah hama yang menempel di pakaianku. Sepertinya dia melihat semua tingkah menyebalkan itu. Namun perempuan itu hanya tersenyum tipis dan memutar. Masuk ke dalam pintu mobil yang lain.


Dia memang ikut dalam mobilku tadi. Ini bukan semata-mata keinginanku. Mama memintaku menjemput di depan apartemennya. Aku tidak bisa membantah.


"Apa maksudmu tadi?" tanyaku jengkel karena tingkahnya. Dia sudah memeluk lenganku.


"Yang mana? Mengajakmu pergi atau memeluk lengan mu?" tanya Mina di luar dugaan. Dia tampak tenang menghadapiku yang begitu memanas karena jengkel.


"Jangan mengulangi tingkah menyebalkan seperti tadi. Aku tidak akan segan jika kamu meremehkan aku," tandasku geram. Aku sudah mulia menyalakan mesin dan hendak menjauh dari halaman rumah mama sebelum mendengar dia bertanya.


"Kenapa baru marah? Bukankah kamu bisa menolak ajakan ku pergi dari sana bahkan melepas tanganku dari lenganmu dengan paksa.


Aku tidak bisa. Aku memang seperti butuh bantuan untuk lenyap dari depan mereka. Pengecut. Aku berubah jadi pengecut.


"Bukankah seharusnya kamu berterima kasih?" tanya Mina membuatku heran. Ku matikan mesin dan menoleh ke arahnya.


"Bukankah aku tadi menyelamatkan mu?" ujar Mina seakan menjadi pemegang kendali diriku.


"Menyelamatkan dari apa?" Mobil urung berjalan karena aku tidak lagi ingin bergerak.


"Jangan berpura-pura. Perempuan itu. Istri kakakmu," jawab Mina yang langsung membuatku diam. Tubuhku membeku sejenak.


"Aku tidak mengerti." Aku masih mencoba menghindar.


"Tidak perlu bersembunyi. Aku mengerti." Mina mengatakannya dengan yakin. Bola matanya menatap dengan kepercayaan diri yang tinggi.


"Bicara yang jelas. Jangan membuatku marah," ujarku kesal mendengarnya bertele-tele.


"Kamu mencintainya? Perempuan itu." Mendengar ini aku terkesiap. Bisa di pastikan sekarang ini aku menunjukkan wajah terkejut. "Benar, kan?" ulang Mina ingin mempertegas.

__ADS_1


"Jangan bicara macam-macam." Tanganku bergerak menyalakan mesin. Aku ingin menjauh dari sini. Sekarang juga. Mina tidak bereaksi apa-apa. Aku semakin gelisah. Apa yang perempuan ini katakan? Aku mencintai Zia? Oh, Astaga. Begitu terlihatkah sampai Mina yang termasuk orang baru bisa menemukannya?


Sesampainya mobil di area perusahaan, Mina masih diam. Ini bukan membuatku tenang. Segala kebungkamannya membuatku makin resah. Aku gelisah sendiri.


"Katakan lagi apa yang kamu bicarakan tadi," kataku saat tiba di ruangan. Mina yang sudah duduk di sofa mendongak.


"Kamu memikirkannya?"


"Berhenti bersikap seolah tahu segalanyaMina. Aku bersikap baik karena kamu putri teman keluargaku. Selain itu, aku tidak akan segan melemparmu keluar ruangan jika aku mau." Amarahku naik. Aku sendiri terkejut. Namun Mina memang menyebalkan.


"Jangan terlalu serius. Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat."


"Apa yang kamu lihat?"


"Kenapa bertanya lagi? Kamu mencintainya bukan? Istri kakakmu itu. Atau kalian berdua memang sejak awal saling mencintai, tapi terpisah karena keluarga menjodohkannya dengan Hanen?" Mina menyimpulkan dengan cepat. Pantatku duduk di atas kursi. Helaan napas keluar dari mulutku. Aku merasa lelah. Terbebani. "Aku tidak punya urusan dengan itu. Jadi tidak perlu khawatir kalau aku akan membocorkan semuanya."


"Hanen mengetahuinya." Brengsek! Kenapa mulut ini justru jujur. Pada dia? Orang baru ini? Terserah! Aku menghela napas lagi.


"Aku terkejut." Mina memandangku dari tempat duduknya dengan pandangan iba.


"Aku tidak butuh dikasihani. Buang caramu memandangku sekarang." Gara menuding bola mata Mina dengan kasar. Meski jarak mereka tidak dekat, Gara mampu mengekspresikannya dengan akurat.


"Kamu tidak butuh di kasihani. Benar. Dia hanya seorang perempuan saja tidak akan mampu membuatmu berantakan. Bukannya kamu bisa mendapatkan yang lain."


Aku mendengus mendengar itu. Aku tidak bisa menjawab. Zia yang awalnya hanya kakak iparku mulai memenuhi otakku. Setiap waktu. Dia bukan perempuan biasa. Aku mencintainya. Bodohnya aku merasakan itu setelah melewati malam panas dengannya.


"Kenapa membantuku?" tanyaku mencoba menghilangkan rasa sedih karena berita bahagia milik mereka.


"Tidak ada."


"Sejak kapan kamu tahu soal aku dan dia," kataku. Tanpa perlu aku menyebut siapa, Mina mengerti siapa yang aku maksud.


"Sejak di restoran itu. Aku yang awalnya tertarik padamu merasa di abaikan. Aku pikir aku bukan tipe perempuanmu, tapi setelah melihat binar mata waktu itu. Kemudian setelah pesta kemarin, aku sadar. Aku datang terlambat. Di hatimu sudah ada seseorang yang singgah. Aku terkejut saat tahu itu adalah istri kakakmu. Hanen." Mina mengungkap semuanya.

__ADS_1



__ADS_2