
Wajah-wajah pria di dapur mulai kebingungan. Zia meminta maaf di depan semua dan menitikkan air mata. Itu mungkin hal yang memilukan baginya. Keduanya langsung berdiri dan hendak mendekat, tapi Rara yang berdiri dekat dengan Zia, lebih dulu bisa mendekati kakak iparnya. Dia langsung menyentuh kedua bahu Zia untuk menenangkan.
"Sebaiknya aku yang mengantar kak Zia ke kamar. Sementara kakak berdua tetap di sini." Rara mengambil alih untuk menenangkan Zia. Ini lebih adil di bandingkan jika salah satu dari mereka yang mendekat dan menenangkannya.
Masih dengan isak tangis, Zia berjalan dengan bimbingan adik iparnya. Sesampai di sana, Rara terkejut saat mendapati ada dua buah ranjang. Walaupun Rara sudah bisa membayangkan keadaan pernikahan mereka, dia tidak pernah terpikir keadaan kamar tidur mereka.
Rara membimbing Zia untuk duduk di atas salah satu ranjang mereka. Isak tangis Zia mulai mereda. Perempuan itu mengusap airmata dengan punggung tangannya.
"Maaf, Kak. Aku tidak bermaksud berkata buruk sama Kak Zia tadi," ucap Rara sambil memegang bahu Zia.
"Aku tahu. Namun aku tetap merasa buruk dengan diriku sendiri. Aku sudah melakukan kesalahan besar, Ra." Suara Zia serak.
"Semuanya bukan salah Kak Zia. Akar dari semua ini mungkin sebenarnya dari orangtuaku."
"Mereka salah memilih menantu ya, Ra? Aku bukan perempuan baik yang pantas untuk putra mereka." Zia tersenyum pedih.
"Bukan. Mereka hanya tidak bisa berkomunikasi dengan kak Han dengan baik. Soal menjodohkan mungkin memang sedikit kolot. Namun mereka memilih kakak juga bukan asal. Mereka tahu kebaikan kakak dan keluarga kak Zia. Hanya saja mereka tidak terlalu paham soal Kak Han."
"Han memiliki Kayla. Dia membenciku karena sudah membuat wanita itu tersingkir. Dia sengaja menikahiku untuk menyakitiku."
"Aku tidak tahu bagaimana wanita bernama Kayla sebenarnya. Namun, jika di suruh memilih, aku tetap memilih Kak Zia karena aku juga pernah mengenal keluarga Kak Zia."
"Terima kasih."
"Lalu bagaimana dengan Kak Zia sekarang?"
"Soal apa?"
"Mereka berdua. Kak Han dan kak Gara. Mereka berdua sedang memperebutkan kak Zia."
"Jika di suruh memilih, mungkin aku akan memilih Gara yang jelas menyayangiku dan tidak ada wanita lain dalam hidupnya." Rara mengangguk. Dia tahu yang sekarang bersih adalah Gara. "Namun ... Hanen adalah suamiku. Aku tidak bisa mengabaikan itu. Aku tidak mau mengecewakan ibu dan orangtua kalian. Jika seandainya aku di lepas oleh dia, aku akan menuju ke Gara."
"Kakak ... tidur dalam ranjang yang terpisah?" tanya Rara hati-hati.
__ADS_1
"Ya," ujar Zia seraya melihat ke arah dua buah ranjang mereka. "Sebenarnya kita bahkan tidak tidur dalam satu kamar. Hanen memindah ranjangku kesini karena kedatangan kalian berdua. Dia tidak mau ada yang tahu bahwa menikahiku hanya di atas kertas."
"Kak Hanen tidak ada niatan, maaf ... menceraikan kak Zia? Jika sejak awal tidak ada cinta, hal itu bisa terjadi bukan?"
"Dia menegaskan bahwa dia tidak akan menceraikanku. Kamu tahu bagaimana perasaanku? Aku tidak di inginkan, tapi aku juga tidak di buang. Posisiku hanya sebagai pajangan di depannya."
Berarti ada hal yang membuat kak Hanen memaksakan diri untuk tetap memperistri kak Zia, tapi apa itu?
"Aku heran, kenapa kak Hanen tiba-tiba marah saat melihat Kak Zia dan kak Gara, ya? Bukannya dia tidak mencintai Kakak?"
"Dia ... dia bilang tidak ingin seseorang merebutku darinya."
"Merebut? Apakah kak Han sekarang ... " Rara terdiam sambil berpikir sendiri. "Jika kak Han sekarang ingin memperbaiki hubungan kalian bagaimana?"
"Memperbaiki? Apa itu mungkin?"
"Aku juga tidak tahu. Hanya saja, jika memang begitu ... Rara mohon sama Kak Zia untuk melepas kak Gara."
"Ra, itu ..."
"Justru jika aku melepas Gara, akulah yang menjadi manusia egois, Ra. Aku sudah membuatnya terlibat dalam kegetiran rumah tanggaku. Jika sekarang aku memilih Han yang memang ingin memperbaiki hubungan pernikahan kita, itu berarti aku hanya mendekati Gara karena di abaikan Han. Itu akan menyakitinya."
"Sakit mungkin lebih baik daripada harus menunggu hubungan kalian yang masih menggantung."
...----------------...
Di meja makan, Hanen dan Gara masih terdiam. Rencana sarapan pagi tidak terlaksana dengan baik. Masing-masing dari mereka tidak ada lagi keinginan untuk itu. Pikiran mereka terus saja pada Zia. Perempuan yang baru saja meminta maaf sambil menangis.
Keduanya tertunduk dan larut dalam pikiran masing-masing.
"Tinggalkan Zia," ujar Han memulai percakapan.
"Kenapa harus?"
"Dia istriku, Ga. Tidak perlu bertanya lagi kenapa, kamu sudah tahu itu."
__ADS_1
"Kamu sungguh rakus. Ingin memiliki Zia dan Kayla. Jika masih mencintai Kayla, lepaskan Zia. Dia berhak bahagia."
"Apa dia bahagia denganmu?"
"Saat ini yang menyayanginya adalah aku. Jadi, ya. Dia bahagia denganku." Gara menegaskan itu. Han terdiam.
"Dia di jodohkan denganku. Jadi dia berhak menjadi milikku."
"Dia bukan hanya butuh status Han. Dia butuh kasih sayang. Dan itu tidak dia dapatkan dari kamu. Lebih baik kamu saja melepaskan Zia. Aku akan menghadap ke mama dan papa untuk memintanya menjadi istriku." Gara sudah bertekad.
Brak! Han menggebrak meja. Setelah itu dia berdiri seraya melihat Gara dengan marah.
"Tidak! Jangan pernah meminta Zia pada mama dan papa. Dia tidak bisa lagi di nikahi oranglain! Dia milikku!" teriak Hanen menggema di ruang makan. Rara yang sudah kembali dari kamar Zia mendengar itu. Dugaannya mereka masih bertengkar adalah benar.
"Kakak ... berhentilah. Rara mohon," pinta Rara.
"Bagaimana Zia? Dia masih menangis?" tanya Gara cemas. Han hanya melihat ke arah Rara. Bukan tidak peduli, dia kalah cepat untuk bertanya dari Gara.
"Tidak. Dia hanya merasa tidak nyaman berada di sini, saat kalian masih bertengkar," sahut Rara. Semua diam. Tiba-tiba Han berdiri menuju pantry. Dia melakukan sesuatu di sana. Gara dan Rara memperhatikan. Sedang apa Han?
Setelah berbalik, mereka baru tahu Han sedang menyiapkan makanan dalam satu nampan penuh. Sepertinya dia sedang menyiapkan sarapan untuk Zia. Karena setelah itu, Han membawa nampan keluar dari ruang makan.
"Kak Gara enggak berhak melakukan apapun," cegah Rara yang tahu Gara akan ke kamar Zia untuk melihat keadaan perempuan itu.
"Aku semakin khawatir padanya, Ra."
"Aku mengerti, tapi sudah ada kak Han sebagai suaminya."
"Suami di atas kertas?" tanya Gara mencibir.
"Entahlah. Kita lihat saja nanti. Apakah kak Han akan berubah atau tidak. Jika tetap saja seperti itu, aku akan mengadu pada mama dan papa."
"Jadi kamu membelaku?" Rara menoleh pada Gara lurus.
"Tidak. Aku tidak membela siapapun. Sebagai perempuan aku tidak setuju dengan sikap kak Han. Siapapun itu, baik itu kak Zia atau bukan, aku tetap akan melakukan hal yang sama," ujar Rara tegas. "Karena aku juga perempuan. Jika itu aku, aku juga akan menderita. Aku tidak mau itu."
__ADS_1