
Mendengar mama menyuruh Rara memanggil Zia, Hanen dan Gara langsung bereaksi. Mereka terperanjat kaget. Bola mata mereka langsung mencoba mencari tahu. Kenapa mama harus memanggil Zia dalam persidangan pertengkaran mereka berdua? Meskipun kenyataannya memang Zia-lah pemicu pertengkaran mereka, tapi dalam benak mereka mama masih belum tahu.
"Kenapa Mama memanggil Zia?" tanya Gara tanpa basa-basi. Mama menoleh pada Gara. Memandang ke arah putra keduanya dengan lama.
"Zia adalah menantu Mama. Tidak ada salahnya mama membutuhkan dia di sini sekarang." Papa juga tidak mengerti apa yang di maksud istrinya. Beliau hanya berusaha mengikuti apa yang akan di lakukan istrinya.
"Jika Mama dan Papa akan bertanya banyak hal tentang keributan di ruang tengah, seharusnya mama tidak perlu memanggil Zia kesini," ujar Hanen ikut memprotes.
"Dia istrimu. Dia perlu di sini untuk di beri wejangan oleh mama demi membuat kamu menjadi lebih baik. Seringkali peran istri di perlukan dalam situasi ini."
"Ini keributan kita berdua, Ma. Aku dan Kak Han. Aku rasa Zia tidak ada hubungannya dengan perkelahian kita berdua." Gara langsung menyatakan Zia tidak patut di panggil dan duduk di ruang baca bersama mereka.
Trek!
Pintu ruang baca terbuka. Muncul Rara dan Zia dari balik pintu. Kedatangan wanita ini menambah ketegangan yang tercipta di sekeliling Han dan Gara. Ekor mata mama melirik ke arah kedua putranya. Beliau yang tahu bahwa ada sesuatu di antara kedua putranya dan Zia, berusaha mengamati.
Zia sendiri merasa tidak tenang. Melihat dua pria yang duduk di sana, dia tahu bahwa akan ada hal yang tidak terduga di sini. Dadanya berdegup kencang. Tegang.
"Zia ... silakan duduk." Mama mempersilakan menantunya untuk duduk di sofa.
"Ya, Ma," sahut Zia dengan suara sedikit samar. Dia sudah merasa tidak nyaman sejak Han memukul Gara di depan keluarganya. Juga soal isi percakapan mereka. Rara berdiri di samping mamanya. Papa hanya memperhatikan. Walaupun masih belum menemukan jawaban atas tanda tanya besar di sini, beliau dengan sabar menunggu.
"Karena semua sudah ada di sini, mama akan bertanya pada kalian berdua. Ada masalah apa sebenarnya antara kalian bertiga?" tanya mama.
Napas Zia langsung tercekat mendengar pertanyaan dari mertuanya. Han dan Gara membeliak tegang. Tanpa berbicara, masing-masing dari mereka paham apa yang sebenarnya di tanyakan mama mereka. Zia menundukkan pandangan ke arah jari-jarinya. Cemas.
__ADS_1
Bola mata Gara melihat ke arah adiknya, Rara. Dia yakin adiknya sudah bicara banyak hal pada orangtuanya. Rara hanya membalas tatapan Gara dengan mengangkat bahu. Gara mendesis, menyayangkan.
Han sendiri terdiam di tempat duduknya. Dia mencoba setenang mungkin. Memejamkan mata sebentar, seraya mengambil napas. Kemudian menghempaskannya perlahan. Mendongak dan memandang Zia yang kini berada di seberangnya.
Zia ... cobalah percaya aku.
"Siapa yang di maksud Mama?" tanya Gara berusaha mengaburkan kenyataan, bahwa mereka sudah tahu apa yang di maksud mama adalah Zia. Mama menghela napas.
"Ada apa dengan kamu, Han dan Zia?" tanya mama berusaha kuat. Beliau sebenarnya tidak tahan untuk langsung bertanya soal hubungan Gara dan Zia, tapi beliau merasa tidak boleh terpancing emosi. Mama berpikir, harus tenang.
Papa yang tidak menduga bahwa pertanyaan itu yang di tanyakan mama, mengerutkan kening. Dalam diam beliau berpikir sendiri tentang suatu hal yang sedang di bahas ini.
Zia sendiri masih menunduk mendengar pertanyaan mertuanya. Sepertinya semua ini sudah terungkap. Semua hal tidak tepat mulai terkuak, desah Zia dalam batinnya.
"Ini hanya tentang aku dan Gara. Zia tidak ada hubungannya dengan pertengkaran kita." Han mulai membantah. Mama menghela napas.
"Apa yang tidak tepat, Ma?" tanya Gara.
"Kamu. Kamu dan Zia," sebut mama yang tidak ingin lagi menyimpan kenyataan itu. Gara langsung menoleh pada Zia. Perempuan yang masih melihat ke arah jari-jarinya. Zia menelan pun salivanya sendiri mendengar itu. Tangan Gara mengepal kuat-kuat. Gara paham Zia pasti sangat takut dan malu.
Hanen juga melihat ke arah Zia. Menghembus napas dengan kasar lalu berdiri. Bola mata Gara melebar saat Han langsung menghampiri Zia. Mama memiringkan kepala ke Rara sebentar. Berniat mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi karena saat itu Han memberikan telapak tangannya pada wanita itu. Zia mendongak.
"Berdiri Zi. Kita harus pergi, Zi. Kamu tidak perlu berada disini. Mama sudah menuduhmu sembarangan." Ini adalah hal yang baru dari Hanen. Pria yang selalu jadi penurut di depan orangtuanya, kini justru menuding mamanya sendiri. Zia hanya menengadah, menatap Han dengan nanar.
Han langsung menyambar tangan Zia tanpa permisi. Lalu menariknya pelan untuk membuatnya berdiri. Zia menggeleng.
Gara masih mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia tidak ingin meledak-ledak. Setidaknya saat ini Han benar. Jika Han mampu menyembunyikan fakta bahwa dirinya dan Zia baik-baik saja, mama akan berhenti bertanya.
__ADS_1
Meski awalnya dia yang memulai membawa soal tabiat buruk Han ke permukaan, hingga menyeret nama Zia. Namun ketika melihat wanita itu sekarang sangat takut, Gara tidak tega.
"Duduk Han," perintah papa.
"Tidak Pa. Aku harus membawa Zia, istriku, untuk keluar dari ruangan ini." Han berusaha meyakinkan Zia bahwa dia harus keluar. Namun tubuh Zia enggan ikut Han pergi. Dia terlampau ketakutan saat ini. Hingga membeku di tempatnya duduk.
"Jangan bersikap seolah-olah kamu suami yang baik, Han," desis Gara. Pria ini kesal dengan sikap Han yang bagaikan pahlawan. Rasa cemburunya naik.
Han menoleh ke arah Gara dengan dingin. "Berhenti Gara. Kamu tahu akibatnya jika kamu terus saja menghujatku." Han memberi peringatan. Dia ingin Gara berhenti memojokkannya. Karena itu berarti Gara juga memojokkan Zia.
"Karena itulah dirimu sebenarnya, Hanen ..." ujar mama langsung menuding putranya. Hanen memandang mamanya dengan tidak percaya.
"Apa maksud mama?" tanya Han berusaha menutupi kebenaran itu.
"Jangan mengaburkan kenyataan kalau kamu bersalah, Han. Berkat sikap tidak pedulimu pada Zia istrimu, kamu membuat celah bagi orang lain untuk masuk dalam rumah tangga kalian." Han tertegun mama mengatakan itu. Gara merasa bahwa dirinya akan terbawa juga. "Dan kamu Gara, yang membaca celah itu, ingin masuk dan menjadi pelindungnya. Kamu ingin melindungi Zia." Kali ini mama melihat ke arah Gara. Dugaannya benar. Walaupunpun begitu Gara sempat terkejut. Namun Gara berusaha mendengarkan kalimat mamanya dengan bola mata tenang.
Dari sini, papa sudah bisa membaca arah pembicaraan istri dan kedua putranya. Papa menemukan ada kesalahan besar di sini.
"Kalian berdua sudah melangkah jauh dari batas yang seharusnya," ujar mama sedih. Papa mengusap-usap lengan istrinya. Zia merasakan bola matanya panas dan nanar. "Kenapa kalian berdua bisa jadi seperti ini?" sesal mama. Air mata mama menetes.
"Tenanglah, sayang ...," hibur papa. Punggung tangan mama menyeka airmata yang menetes. Melihat itu Zia terenyuh. Saat ini dalam bayangannya di depan itu adalah ibunya sendiri. Dia jadi ikut dalam kesedihan mertuanya. Zia melepaskan tangannya dari genggaman Han.
"Zi ..." Han berusaha menghentikan wanita ini.
"Jangan hentikan aku. Aku harus meminta maaf kepada semuanya," ucap Zia pelan. Wanita ini mulai berdiri. "Maafkan Zia, Mama dan Papa. Ini semua kesalahan Zia," ucap Zia yang langsung menyita perhatian semua orang yang ada di ruang baca. "Karena aku, semuanya jadi berantakan. Sekali lagi maafkan aku, Mama dan Papa."
__ADS_1