
...POV ZIA...
.......
.......
"Aku harus menutup kisah itu. Bukan publik yang aku khawatirkan, tapi kamu. Terutama keluargamu." Hanen mengatakannya dengan berapi-api. Hingga aku sendiri takjub dia membelaku mati-matian.
Pria ini bermaksud melindungi ku dan keluargaku dari aib yang sudah aku buat sendiri. Ada rasa haru melewati dadaku.
Aku terdiam mendengar Hanen bicara. Kakiku melangkah untuk kembali duduk. Kisah Gara dan aku memang harus di sembunyikan.
Mulutku tidak bisa membantah tentang itu. Yang paling aku takutkan adalah keluarga angkat ku. Aku tidak bisa melakukan apa-apa meski itu menyakitkan untukku. Terlalu memalukan aib ini terdengar oleh mereka.
"Aku tidak terima, tapi aku harap kamu bisa membuat Kayla segera pergi mengusik mu," kataku berlalu masuk ke dalam kamar. Hanen menyusul ku ke kamar. Padahal aku tidak ingin di dekati dahulu. Ingin sendirian.
"Sekali lagi maafkan aku, Zi," kata Hanen di depan pintu. Tubuhku masuk ke dalam kamar tanpa menutup pintu. Karena aku tahu ada Han di sana. Entah dia masuk ke dalam kamar mengikuti ku atau tetap di tempatnya, aku tidak tahu. Yang aku ingin hanya naik ke atas ranjang, berselimut, dan menutup mata.
Hubunganku dengan Hanen terasa sulit. Karena banyak hal yang ingin di lindungi, aku kebingungan sendiri. Apa yang harus aku lakukan?
__ADS_1
...***...
...POV HANEN...
Ponselku terus berdering. Aku yakin itu Kayla. Karena dia ingin membuat hidupku tidak tenang dengan terus mengusikku. Aku sadar semua ini adalah kesalahan ku. Dari sikapku yang brengsek, aku membuat dia wanita terluka.
Kayla pasti dendam padaku yang dulu menyayanginya dan akan menjadikannya ratu, kini berbalik mengabaikan dan membuangnya. Sekarang, aku harus patuh padanya demi menjaga wanita itu mengungkap pada publik soal perselingkuhan istri dan adiknya.
Setelah menekan bel berulang kali, baru pintu itu terbuka. Rambut wanita ini masih basah. Bahkan dia masih memakai piyama mandinya. Sepertinya Kayla ingin menggoda ku dengan kemolekan tubuhnya.
"Maaf, aku lama. Aku yakin kamu masih hapal kode apartemen ku ini. Jadi kenapa tidak langsung masuk saja?" kata Kayla bersikap seakan kita masih seperti dulu. Aku tahu dia mencemooh ku.
"Tidak. Aku akan tunggu di sini. Sebaiknya kita pergi."
__ADS_1
"Pergi? Kata siapa aku akan mengajakmu pergi?" Kening Kayla mengerut sebentar. "Aku ingin di temani kamu di sini. Di apartemen ini," lanjut Kayla dengan wajah santai. Bola mataku menatap Kayla lurus-lurus. "Jangan banyak berpikir, lebih baik masuk saja." Kayla melenggang masuk. Membiarkan aku kembali menggeram kesal.
"Lebih baik kita keluar saja Kayla." Aku bersikeras dengan tetap berada di depan pintu. Kayla yang sudah berjalan dekat sofa berhenti dan membalikkan tubuhnya. Lalu berjalan mendekat ke arahku dan memandang ku dengan tatap wajah tidak suka.
"Kamu membantahku?" tanya Kayla. Aku diam sambil memperhatikan wanita ini. Mungkin tidak tepat. Namun aku memang sedang membantahnya. "Jangan membuatku marah, Han. Sudah aku bilang kamu harus menuruti semua keinginanku. Kalau tidak, aku akan mengumumkan pada publik kalau Zia sudah berselingkuh dengan adikmu," tekan Kayla.
Wanita ini sudah menganggap dirinya di awang-awang. Kayla yakin bahwa dirinya sanggup memanfaatkan rasa cinta Hanen pada Zia. Bukan menginginkannya lagi, tapi Kayla hanya ingin Han menderita.
Hanen bagai robot yang patuh. Dia pun masuk sambil mengumpat di dalam hati.
Suasana apartemen masih sama seperti dulu. Saat aku suka di manja oleh wanita ini. Rasa bersalah kembali menyiksaku. Maka dari itu, aku mau menerima kembali Zia meskipun sudah berselingkuh dengan Gara. Karena kita sama.
Oh, tidak. Tidak sama. Zia melakukannya karena aku mengabaikan cintanya. Sementara aku melakukannya karena ingin bersenang-senang. Padahal dia mencintaiku.
..._____...
__ADS_1