
"Silakan kalian bicara saja, aku akan mencicipi makanan di sana," kata Zia yang ternyata tetap memilih membiarkan kita bicara. Dia sengaja memberi ruang pada kita berdua untuk bicara leluasa. Meski begitu, aku tidak nyaman. Seakan Zia tahu apa yang akan di katakan Juno selain soal Kayla.
"Kita bisa bicara bertiga, Zia. Kamu bisa ikut mendengarkan jika Juno memaksa bicara." Aku harus tetap mempertahankan Zia berada di sini. Bibir Zia tersenyum lembut. Aku menyukai itu. Senyuman itu kini sering menghiasi bibirnya untukku. Tangannya juga mengelus pelan lenganku.
"Aku benar-benar ingin makan sedikit dessert. Biarkan aku bebas menikmatinya sebentar," pinta Zia sambil memohon pelan.
"Baiklah. Jangan pergi jauh."
"Aku bukan anak kecil, Han. Hentikan itu. Memalukan." Zia mengibaskan tangannya sambil tersipu mendengar kalimatku. Bibirku tersenyum. Mungkin Juno saja yang terbengong-bengong melihat interaksi kita berdua. Aku dan Zia.
"Kamu enggak apa-apa?" tanya Juno membuyarkan kesenangan ku melihat Zia berjalan memperlihatkan punggungnya.
"Apa?" tanyaku dengan tatapan tidak senang.
"Kamu. Sikap mu. Sikapmu pada Zia." Juno menunjuk pada tingkah mereka berdua barusan.
"Apa yang salah dengan itu?" tanyaku tidak peduli. Sebenarnya aku tahu, hanya saja berpura-pura tidak mengerti.
"Sangat salah, Han." Saat Juno mengatakan itu aku meliriknya tajam. "E ... itu salah karena aku tahu tentang siapa yang kamu cintai. Itu bukan dia tapi Kayla. Namun setelah melihat sikap kamu barusan, aku jadi bingung."
"Tidak perlu bingung. Cukup melihat saja," kataku dengan tenang. Lalu melihat ke arah Zia yang ternyata sungguh-sungguh ingin menikmati hidangan. Dia terlihat lucu dan menggemaskan saat mengambil satu buah kue kecil dan melahapnya. Bibirku tersenyum tanpa sadar.
"Aku dengar soal peralihan hak waris perusahaan kosmetik itu. Jadi ... kamu tidak lagi menginginkannya?" tanya Juno membahas lagi keinginanku dulu.
"Tidak."
"Ini mengejutkan bagiku," ujar Juno terlihat frustasi sendiri. Ya. Itu impianku. Dalam impian itu aku menginginkan Kayla menemaniku. Itu dulu. Sebelum aku menyadari bahwa aku memang seharusnya bersama Zia bukan Kayla. Perempuan pilihan orangtuaku. "Lalu kamu mengabaikan Kayla?"
"Begitulah."
__ADS_1
"Itu kejam, Han." Tidak ku sangka, Juno membela perempuan itu. Yah ... tidak di pungkiri kalau Juno memang lebih dekat dengan dia daripada Zia. Mereka teman dekat.
"Ya. Saat aku memilihnya, itu juga kejam bagi Zia. Aku menyakitinya."
"Namun, Kayla dulu yang kamu cintai."
"Jangan mendikte soal hatiku, Jun. Terdengar egois, tapi aku harus memilih bukan?"
"Lalu kamu memilih Zia dan membuang Kayla juga impianmu mewarisi perusahaan kosmetik?" tanya Juno.
"Ya. Itu pilihanku."
"Soal apa lagi itu? Kenapa harus tidak menjadi pewaris perusahaan saat kamu memilih Zia yang jadi syarat untuk memiliki perusahaan?" tanya Juno yang sebenarnya sangat penasaran soal itu.
"Tidak ada. Peraturan berubah dengan tiba-tiba." Tentu tidak mungkin aku mengatakan bahwa ada suatu hubungan terlarang antara Zia dan Gara. Akibat aku mengabaikannya, Zia mencari sendiri cara menyenangkan dirinya.
"Itu sangat tidak bijaksana. Kayla sangat terluka dengan sikapmu." Juno menunjukku dengan wajah kesal. Tidak ada pembantahan soal itu. Aku diam saja. Lalu melihat lagi ke arah Zia. Dia menunjukkan ponsel di tangannya. Ponselku berdering. Ada sebuah pesan darinya.
"Tidak. Aku tidak akan pergi. Aku akan menemanimu."
"Tidak perlu." Lalu dia memberi kode dengan tangannya ingin pergi. Rupanya mengirim pesan dengan istri begitu menggembirakan. Aku sempat menghilangkan momen itu.
...Gara...
.......
.......
.......
__ADS_1
Gara masih duduk bersama Mina dan beberapa orang penting lainnya. Ketika saat itu kedua matanya melihat Zia melangkah terpisah dari Hanen dan yang lain.
"Mau kemana?" tanya Mina yang heran melihatku akan beranjak pergi dari lingkaran perbincangan yang bahkan tidak semua orang bisa bergabung.
"Ada hal penting," jawabku pelan.
"Penting? Lebih penting dari bicara dengan mereka?" tanya Mina pelan dengan terkejut. Dia melihat ke sekelilingnya. Menunjukkan bahwa orang-orang yang bersama mereka bukanlah orang biasa. Tidak mudah bicara dengan mereka. Ini adalah kesempatan yang harus di manfaatkan saat bisa bicara dengan mereka ini.
"Tentu saja," jawabku yakin. Mina mengerjapkan mata tidak percaya.
"Kamu yakin akan meninggalkan mereka, di saat mereka sudah berniat berbincang denganmu?" tanya Mina lagi seakan ingin menasehati ku.
"Jangan mendikteku, Mina," desisku seraya berbisik.
"Oh, maaf. Aku hanya mengingatkanmu." Mina ternyata memilih mundur. Dia tidak terus saja mendesakku untuk tidak pergi dari perbincangan ini. Jadi wanita ini benar-benar memikirkan soal kepentingan bisnis saja. Bukan ingin mengekangku.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan," jawabku lalu mendekati orang-orang penting itu. Berbicara sejenak kemudian pergi setelah mereka mengangguk setuju. Mina hanya memperhatikanku dari belakang saat aku melangkah pergi.
Ku yakini langkah kaki Zia menuju lorong ini. Namun aku tidak bisa menemukannya. Melihat lorong yang kosong aku kebingungan. Mendadak panik dan ingin berteriak memanggil namanya dengan lantang. Ketika itu muncul dirinya yang keluar dari pintu toilet di tikungan lorong.
"Zia ..." kataku lirih. Melihat aku yang berdiri tepat di tengah jalan yang akan di laluinya, Zia berjingkat pelan. Dia terkejut. Lalu kakinya melangkah dengan cepat ingin menghindar. "Aku tidak akan menyakitimu, Zia. Tidak," kataku memohon. Kulihat langkahnya terhenti. Dia mau mendengarkan ku. "Maaf, Zia. Maaf. Beribu maaf aku ucapkan padamu dari hatiku. Aku bersalah padamu. Aku menyakitimu. Aku sudah bertindak gila dan tidak berpikir jernih." Zia menunduk dan diam. Namun aku tahu dia masih mendengarkan semua kalimatku.
Perlahan kepalanya mendongak. Itu menumbuhkan rasa senang di hatiku. Zia mau melihat ke arahku. Setelah dia memalingkan wajahnya dariku tadi, aku merasa tidak sanggup melihatnya memalingkan wajahnya dengan sengaja. Aku belum siap.
"Sudah?" tanya Zia datar. Kurasakan denyut menyakitkan di hatiku. Pertanyaan dengan sentuhan dingin itu penyebabnya.
"Belum. Masih banyak yang ingin aku katakan padamu, tapi sepertinya kamu tidak ingin mendengarkan lagi." Padahal aku ingin menyembunyikan rasa pilu ini, tapi entah kenapa tidak bisa. Zia diam dengan tetap melihatku.
"Bicaralah lagi. Setelah itu, berjanjilah kita akan bersikap biasa seperti dulu lagi." Saat mengatakan itu aku lihat dia menelan ludah. Seakan kesulitan mengatakannya. Dia juga sedang berusaha. Berusaha memperbaiki keadaan diantara kita yang sudah di buatnya seperti ini. Bukan aku saja yang kesulitan, tapi dirinya juga.
"Aku akan bicara jika kamu mengijinkan." Aku harus bisa memanfaatkan ini. "Aku mencintaimu, Zia." Kulihat manik matanya melebar. Dia terkejut. Aku juga. Tidak menduga apa yang keluar dari bibirku adalah ini. Namun aku tidak menyesal. Aku memang mencintainya. "Meskipun kamu memilih kembali pada Han dan memperbaiki hubungan pernikahan kalian berdua, aku tetap mencintaimu. Itu tidak akan berubah, Zi."
__ADS_1