
"Dimana ... Zia?" Suara Hanen yang lemah terseret-seret saat bicara. "Dimana istriku?"
Mama menutup mulutnya karena tersadar. Tidak terpikir oleh beliau bahwa seharusnya beliau memberitahu kabar baik ini pada menantunya.
"Zia masih ada di kamarnya," ujar mama.
"Iya Han. Sebentar lagi dia akan kesini." Papa menimpali.
"Karena Kak Zia hamil, kamar perawatannya berbeda." Rara segera menambahi kalimat mama. Dia takut kakaknya akan tambah sedih ketika tahu istrinya tidak segera muncul untuk melihat dirinya yang sudah bangun dari siuman.
"Maafkan mama sayang ... Mama belum sempat memberitahu." Mama langsung menyatakan rasa bersalahnya.
"Aku akan menjemputnya sekarang," ujar Rara berinisiatif. Sorot mata Hanen tampak bahagia. Pasti itu yang dia harapkan.
"Ya, jemputlah dia. Zia pasti senang mendengar kabar suaminya sudah bangun." Tuan Laksana setuju.
"Ya, Pa." Rara mengangguk lalu keluar kamar.
***
__ADS_1
Ternyata Zia tengah menjalani pemeriksaan ibu hamil. Jadi ketika dia ke kamar Zia, Rara harus menunggu lebih dulu.
Pemeriksaan lumayan membuang waktu karena Rara hanya bisa menunggu pintu kamar perawatan di buka. Dia duduk di kursi depan kamar seraya mulai scroll handphone secara acak. Dia tidak sabar mengabarkan berita sadarnya Kak Hanen.
Waktu yang di habiskan untuk pemeriksaan ibu hamil ini menghabiskan waktu sekitar setengah jam. Tubuh Rara langsung tegak lurus ketika dokter keluar dari kamar. Dokter tersenyum pada Rara. Kepala Rara mengangguk pelan membalas sapaan dokter padanya.
Tangan Rara memutar kenop pintu dan berjalan masuk.
"Halo, Kak Zia," sapa Rara ketika Zia masih terbaring di atas ranjangnya.
"Oh, Rara. Aku senang kamu datang." Rara tidak berbohong soal rasa senangnya. Setelah ibu dan Kak Mila pulang, ia kembali merasa sepi. "Aku pikir aku sendirian sekarang."
"Kak Gara enggak ada di sini?" tanya Rara. Dari keadaan di dalam yang hanya berisi dokter kandungan dan asistennya tadi, Rara tahu kalau Gara tidak ada di dalam sini. Namun dia hanya pikir pria itu belum muncul saja.
"Ya. Tidak bisa aku tutupi kalau yang perhatian pada Kak Zia adalah Kak Gara. Di saat mama terus saja mencurahkan rasa khawatirnya pada kak Hanen, hanya Kak Gara yang berada di samping Kak Zia," ujar Rara membuat Zia tertegun gadis ini bicara seperti itu. "Maaf."
"Aku mengerti. Aku tidak mengharapkan apa-apa. Mama tidak marah besar saja karena aku membuat masalah aku patut bersyukur. Apalagi hanya tidak memberi perhatian padaku. Aku rasa mama terlalu baik tidak mengusirku. Jadi aku rasa tidak ada yang perlu aku keluhkan." Wajah Zia sangat pasrah ketika bicara. Dia sudah membuat keputusan.
Rara melihat senyum Zia yang menyimpan rasa sedih yang mendalam.
"Oh, aku punya kabar baik untuk Kak Zia." Rara langsung membahas hal lain.
__ADS_1
"Kabar baik?"
"Ya. Kak Hanen siuman. Aku di minta mama untuk ..."
"Han? Han ... si, siuman?" tanya Zia terbata-bata.
"Ya. Kak Hanen sudah siuman," ujar Rara lembut.
"Kamu bisa antar aku untuk melihatnya?"
"Ya, tentu. Papa memintaku menjemput Kak Zia untuk melihat Kak Hanen."
"Baiklah. Ayo cepat kita ke sana. Aku ingin segera bertemu dengannya." Zia sangat antusias. Rara mengangguk. Ia mengambil kursi roda di pojok ruangan. Lalu membantu Zia untuk duduk. Selanjutnya mendorong kursi roda menuju pintu. "Oh, sebentar Kak Zia."
"Ada apa?" tanya Zia tanpa menoleh ke belakang ketika Rara menghentikan dorongannya pada kursi roda.
"Ada yang tertinggal. Aku juga lupa belum memberi tahu kabar baik ini pada kak Gara. Sebentar, aku mau meneleponnya dulu," jawab Rara.
"Ya," kata Zia mengerti. Rara menekan tombol panggil di kontak Gara. Jadi dia belum tahu kalau kakaknya sudah siuman?
"Kenapa Kak Gara tidak bisa di telepon ya?" keluh Rara seraya menurunkan ponsel dari telinganya. Zia hanya mendengarkan. Rara mencoba lagi menghubungi kakaknya. Namun hasilnya sama saja. "Memangnya Kak Gara tidak menghubungi Kak Zia sama sekali?" tanya Rara seraya memiringkan kepalanya untuk melihat ke arah Zia yang duduk di depannya.
__ADS_1
...----------------...