
"Mama seperti telah salah mendidik kalian berdua." Mama terlihat sedih. Gara diam tidak menjawab.
"Tidak. Mama tidak salah. Semuanya salahku," sahut Han yang muncul di belakang mereka.
Mendengar suara itu, Gara dan mama menoleh ke belakang.
"Semua keadaan ini berawal dari aku. Jangan menyalahkan siapa-siapa Ma. Terutama menyalahkan diri mama,” ujar Han yang bergabung ikut duduk.
Mama terkejut.
"Bagaimana Zia?" tanya mama.
"Dia sudah tiduran dengan tenang," jawab Han.
"Jadi ini perbuatan siapa?" tanya mama melihat ke Gara dan Han bergantian. Sejak awal sebenarnya beliau ingin bertanya karena penasaran. Skandal Gara tidak di ketahui siapa-siapa kecuali keluarga, kenapa sampai mencuat ke publik?
Han diam. Dia masih mengatur napas karena sepertinya membicarakan perempuan itu membuatnya ingin marah.
__ADS_1
Gara menarik gelas jus dan meminumnya pelan. Mulutnya gatal untuk mengatakan semuanya langsung. Namun dia tidak perlu melakukannya karena bisa jadi suasana tidak menyenangkan akan muncul. Mama akan pusing dan stress.
Mama tetap diam tidak mendesak. Beliau dengan sabar menunggu putranya bicara.
"Kayla yang menyebarkan berita ini karena marah aku membuangnya dan memilih Zia," ungkap Han.
"Kayla kekasih mu dulu?" tanya mama tidak menduga. “Kamu masih berhubungan dengannya?”
"Tentu tidak, Ma.”
"Hhh ... Mama tidak akan memaafkan mu jika kamu mengulanginya lagi, Han.”
“Mama sudah berpikir ke sana, tapi ... ya sudahlah. Sekarang fokus ke Zia. Kesehatannya sepertinya tidak stabil. Selain karena dia hamil, juga karena kabar ini. Jadi perlakukan dia dengan baik-baik, Han. Karena pikiran ibu berpengaruh besar pada perkembangan bayi. Kamu harus tahu itu," nasehat mama.
"Han tahu, Ma." Han bergerak menuju pantry.
"Kamu ngapain?" tanya mama heran.
__ADS_1
"Aku mau menyediakan air untuk Zia. Dia bisa langsung minum saat bangun nanti," sahut Han. Pria itu bergegas kembali ke kamar sambil membawa tempat air minum dan gelas.
"Bagaimana denganmu?" tanya mama pada Gara.
"Ada apa dengan ku?" tanya Gara balik. Ia heran.
"Mama pikir ini ulah mu," tuding mama. Gara mengerjapkan mata. "Jika Zia terlihat syok, kamu justru terlihat tenang dengan munculnya berita skandal kalian." Mama geregetan.
"Aku ini pria, Ma. Juga belum menikah. Skandal seperti itu tidak berpengaruh untukku," jawab Gara. Yang dia khawatirkan adalah Zia. Dia tidak peduli dengan pandangan orang padanya. “Lagipula aku juga syok, hanya saja tidak perlu menunjukkan pada semua orang.”
"Benarkah? Atau sebenarnya kamu justru senang skandal ini mencuat ke publik?" tebak mama. Gara tersenyum tipis. Seakan meremehkan tebakan mamanya. Namun tidak ada bantahan artinya itu iya. Mama terkesiap.
"Sepertinya aku harus kembali ke kantor," kata Gara mulai bergerak ingin pergi. Ia melihat ke arloji di pergelangan tangannya.
"Sebenarnya apa yang kamu harapkan dari hubungan terlarang itu, Gara?" tanya mama pilu. Gara terkejut mendapat pertanyaan itu. Sungguh tidak menduga akan ada pertanyaan semacam ini.
"Soal aku dan Zia?" tanya Gara. Mama mengangguk. Gara menghela napas sejenak. "Aku mencintainya, Ma. Aku mencintai Zia. Mungkin lebih besar dari yang terlihat. Apa yang aku harapkan?" Gara menjeda kalimatnya. "Aku menginginkan dirinya seutuhnya. Jika takdir mengijinkan, aku ingin menikahinya. Menjadikan dia istriku dan pendamping ku selamanya," tutur Gara dengan senyuman tipis, tapi terasa mengiris hati.
__ADS_1
...____...