Getir

Getir
Bab. 86


__ADS_3

Han menatap tangannya yang di tepis Gara sekejap, setelah itu dia melihat ke wajah saudaranya lagi.


"Aku tahu tujuan mu pasti Zia. Namun justru karena itu, seharusnya kamu tidak berada di sini, Gara," ujar Han menegaskan. Bola matanya melebar. Rahangnya juga mengetat karena menahan marah.


"Tidak berada di sini?" Gara menyipitkan matanya. Seakan kalimat barusan tidak tepat keluar dari mulut pria ini. “Ini tentang aku dan Zia."


"Apa kamu bodoh? Kenapa masih bertanya? Saat ini kabar Zia berselingkuh dengan mu sudah menyebar. Jika ada reporter yang begitu senang mengusik keluarga Laksana, mereka akan membuat berita baru tentang kamu dan Zia lagi. Karena mereka yakin memang ada hubungan spesial antara kamu dan Zia." Han menjelaskan dengan geram.


Bibir Gara tersenyum mencemooh. "Bukankah memang ada hubungan spesial antara aku dan dia. Kisah itu ada. Kamu tahu itu," tunjuk Gara dengan tatap penuh luka.


Hanen diam. Dia menata nafasnya yang naik turun.


"Lalu kamu dengan sengaja ingin menunjukkan pada semua orang agar mereka tahu, hingga akhirnya mereka membuat Zia terluka, begitu?" ketus Han seraya mendekatkan wajahnya masih dengan geram. Bahkan dia mencengkeram kerah kemeja Gara.

__ADS_1


Gara diam. Tatap mata mereka beradu. Saat ini bola mata Han juga terluka. Gara mengalihkan pandangan pada Zia yang terbaring.


Aku tidak mungkin ingin melihat mu terluka dan bersedih, Zia. Tidak ada dalam mimpi sekalipun melakukan hal itu. Aku ingin kamu bahagia. Seandainya bisa, aku ingin kamu bahagia dengan ku.


"Cih! Ini menyebalkan." Gara membuang muka dengan kesal. Ia menepis tangan Han yang mencengkeram kerah kemejanya.


Kata-kata Han benar. Tidak seharusnya dia berada di sini. Itu akan makin menyulitkan Zia. Namun rasa cemas yang membumbung tinggi ini tidak mampu terelakkan lagi. Ia ingin bertemu Zia.


"Kita keluar. Dan sebaiknya kamu segera pulang,” kata Han seraya menyentuh pundak Gara.


"Jadi kamu siap di cemooh banyak orang di perusahaan? Kemungkinan mereka juga tahu tentang ini." Han mengingatkan.


"Aku tidak peduli. Terserah semuanya mau bicara apapun. Lagipula mereka tidak akan berani mengatakan langsung di depanku," kata Gara remeh.

__ADS_1


"Terserah kalau begitu. Cepat kamu pergi dari sini, itu lebih baik," kata Han. Gara berdecih lagi mendengar pengusiran Han yang begitu jelas.


"Kakak?" Rara yang baru saja dari minimarket depan rumah sakit terkejut. Rupanya Gara tidak benar-benar mendengarkannya.


Wajar saja. Sejak dulu Gara seperti ini. Bertindak sesuka hati. Berbeda dengan Han yang terlihat patuh pada orang tua.


"Oh, Rara. Aku pamit pulang." Gara tersenyum tipis pada adiknya. "Aku tidak bisa bebas melihat keadaan Zia semau ku. Itu karena berita tadi, juga karena dia," tunjuk Gara pada Han yang berada di depan pintu dengan pandangan geram.


"Ya, sebaiknya Kak Gara pulang. Itu akan membuat banyak orang menyudutkan kakak Zia." Rara mengemukakan pendapatnya. Ini untuk menenangkan Gara agar pergi dari sini dengan tenang.


Rara tahu Han pasti akan menghalangi Gara untuk menemui istrinya. Melihat mereka tidak saling memukul saja Rara sudah merasa lega. Apalagi saling mengerti untuk mengalah.


...____...

__ADS_1


 


 


__ADS_2