
"kau....kau....kenapa masih disini...kenapa...,"ucap annya terperanjat...dari duduknya sambil mencoba secepat kilat ia beranjak berdiri dari duduknya dan akan berlari,namun secepat kilat pula azra berhasil menangkap lengannya.
"annya...sebegitu bencinya kau pada laki laki...aku tidak seperti mantan suamimu annya...kau mau berlari kemana lagi?kau mau sembunyi dimana lagi?"ucap azra dengan nada sedikit membentak disana.
"bugh...."terdengar suara annya terjatuh dan lututnya membentur pinggiran trotoar dan langsung mengeluarkan darah.
"akh....sakit....sakiiit..."teriak annya seketika sambil memegangi lututnya.dan seketika itu pula azra membopong tubuh kurus annya menuju ke dalam mobil nya,mendudukkannya di jok belakang kemudi.
"pak cepat jalan menuju rumah saya,"ucap azra seketika pada supir mobilnya.
"tidak...tidak tuan...bagai mana dengan lukisan lukisan saya tuan?saya turun disini...saya...mau turun..."
ucap annya dengan berontakan berontakannya.
"annya....kamu bisa diam nggak...aku sudah suruh orang untuk mengurus lukisan lukisanmu itu...kalau perlu...aku beli semua,"ucap azra yang membuat annya duduk terdiam.
__ADS_1
setengah jam sudah mobil melaju dengan kencang menuju rumah azra,annya menatap sekeliling,ia melihat jalanan yang di lewati mobil adalah jalan setapak...lalu mobil berhenti tepat di depan kolam dengan tengah tengah nya jalan yang menghubungkan jalan dan rumah terpencil yang begitu indah itu sebuah jembatan kecil yang hanya muat untuk di lewati tiga orang yang berjajar saja.
"rumah kaca yang transparan terlihat dari luar segala yang ada di dalamnya begitu minimalis nya hingga membuat mata terpana."ucap annya dalam hati saat ia tepat turun di pinggir jembatan penghubung.
"kau bisa jalan annya?"tanya azra seketika yang membuyarkan ke kagumannya pada sebuah bangunan bertingkat dua yang indah itu.
"ah...aku bisa kok bisa..."ucap annya seketika.
lalu keduanya pun berjalan melewati jembatan itu dengan tangan azra memapah tubuh annya,
lalu azra pun mengajak annya untuk masuk dan duduk di atas sofa ruang tamu.
"ini rumahmu tuan?"tanya annya pada azra namun hanya di sambut anggukan dan senyum tampannya.
"kau tinggal sendiri di tempat se besar ini tuan?"tanya annya lagi pada azra.
__ADS_1
"iya annya aku tinggal sendiri...adikku berada di luar negeri sedang kuliah di sana,"ucap azra lagi sambil membawa kotak p3k untuk mengobati luka annya.
"ini sepertinya hanya kegores sedikit annya...nggak apa apa kan kita nggak ke rumah sakit?aku yang akan merawat lukamu...karena aku yang sudah membuatmu terjatuh dan jadi seperti ini,"ucap azra seketika sambil meberikan obat pada luka annya dan menarik kaki annya terlebih dahulu ke atas pahanya di pangkunya kaki annya itu.
"tuan...aku bisa sendiri...aku mohon jangan seperti ini...aku tidak terbiasa tuan...."ucap annya seketika karena annya benar benar baru mengalaminya,dahulu pun calon suaminya tidak pernah berlaku perhatian apa lagi romantis.
"apa kau tidak bisa membedakan mana yang sungguh sungguh tulus dan mana yang hanya tipuan annya?"
tiba tiba ucap azra yang menyadarkan lamunan annya tentang hubungan palsu masa lalunya.
"tuan....aku...."ucap annya yang belum sepenuhnya ia lanjutkan.namun sudah terlebih dahulu di sahut azra.
"cukup annya...sampai kapan kau akan memanggilku tuan tuan tuan dan tuan?aku benar benar tidak sanggup lagi mendengarnya,kita hanya terpaut empat tahun dan kau memanggilku tuan seakan aku sepuluh tahun lebih tua darimu."ucap azra dengan nada sedikit ngegas.
"lalu...aku harus panggil anda siapa?aku benar benar tidak tahu siapa anda...aku tidak mengenal anda...aku tidak mengerti mengapa anda mengenal saya,"
__ADS_1
ucap annya yang tanpa ia sadari azra sudah selesai mengobati luka di kakinya dan menurunkannya perlahan dari atas pangkuan azra.