
"Udara sangat dingin. Dengan pakaianmu yang tipis tentu tidak akan kuat menahan dingin," ujarnya usai membuat tubuhku terasa hangat karena jas yang di berikannya.
"Terima kasih," ujarku seraya menunduk menerima jas pria ini yang sudah berpindah ke tubuhku.
"Cepat masuk mobil," perintah Gara. Aku tidak menolak. Ku ajak kakiku melangkah masuk ke dalam mobilnya. Gara juga ikut masuk dan duduk di bangku kemudi di sebelahku.
Aku tidak berani menoleh ke arahnya. Canggung. Hanya pemandangan dari jendela di sebelahkulah yang jadi obyek bola mataku. Jas ini membuatku membeku. Sikapnya yang lembut membuatku diam.
"Tidak lapar? Aku yakin kamu belum makan tadi di tempat pesta." Ku teriakkan yes dengan keras dalam hati. Aku memang belum makan sejak berangkat tadi. "Aku rasa kamu bukan tipe cewek yang menahan makan malam demi tubuh bagus."
Itu benar. Meskipun terus saja makan malam tubuhku tidak menambah banyak.
"Ini sudah malam."
"Walaupun sudah malam, perut tidak harus kelaparan bukan?"
"Tidak banyak resto yang buka. Hanya warung kecil dan lesehan di pinggir jalan yang ada," kataku yakin. Mungkin jam menunjukkan hampir pukul 12 malam atau lebih karena jalanan sudah mulai sepi.
"Kenapa? Saat perut lapar, dimanapun aku bisa makan." Gara membelokkan mobil ke arah warung tenda yang berjejer di sebelah kanan jalan. "Apa kamu yang tidak bisa makan di tempat seperti ini?" tanya Gara setelah mendapat tempt oarkir untuk mobilnya.
"Aku bukan ningrat. Tentu saja bisa makan di warung tenda seperti ini." kataku mungkin judes. Namun dia tersenyum.
"Syukurlah, selera kita sama," ucapnya senang. "Jangan turun," cegah dia saat melihatku akan membuka pintu.
"Kenapa?" tanyaku heran. Tadi dia mengajakku makan. Sekarang dia melarangku turun. Apa maunya pria ini?
"Sebaiknya kamu tetap di sini sementara aku akan memesan makanan."
"Tetap di sini?" tanyaku heran.
"Ya. Bajumu akan terlihat mencolok jika harus turun. Cukup duduk di sini saja. Aku tidak mau mereka melihatmu." Kepala Gara menoleh ke arah perempuan-perempuan malam yang memakai pakaian ketat sambil bergelayut mesra pada pria.
Aku baru sadar. Ini larut malam. Akan terlihat mencolok aku turun dan masuk dalam warung tenda. Mungkin, aku akan terlihat seperti wanita malam berkat pakaian pestaku. Gara sengaja melindungiku dari pandangan orang-orang di sekitar.
__ADS_1
Tubuhku beringsut. Semua pasti mengira yang tidak-tidak. Ponselku berdering lembut. Sebuah dering khusus pesan. Nama Han muncul di layar menyentak kedamaianku.
"Dimana kamu?"
Ku pandangi pesan itu. Tidak segera ku balas. Karena singkat, pesan itu bisa aku baca keseluruhannya tanpa perlu membuka pesan itu. Dimana Han tidak bisa tahu bahwa aku sudah membaca pesannya.
"Kenapa tidak membalas?"
Kenapa perlu bertanya. Dia saja pergi tanpa aku tahu tujuannya.
"Kau sedang bersama siapa?"
Kali ini pertanyaan aneh. Dia tidak pernah ingin tahu aku dengan siapa. Pintu mobil terbuka. Aku menoleh. Gara muncul dengan dua bungkus dari styrofoam. Pria ini membawa makan malam untukku.
Ku abaikan pesan dari Han.
Lalu kita makan bersama di dalam mobil. Ponsel Gara berdering. Setelah melihat ke arah layar ponsel, dia menekan tombol terima.
"Ya. Ada apa, kak?"
"Ya. Kak Zia bersamaku." Itu pasti Han. "Ponselnya ada di sini. Dia sedang berada di toilet POM bensin." Gara berbohong. Dia sengaja mengarang cerita. "Aku akan segera mengajaknya pulang. Kita memang sedang menuju rumah. Ya." Percakapan berakhir. Gara tidak mengatakan apa-apa setelahnya. Pria ini hanya makan mie gorengnya. "Makanlah nanti keburu dingin. Enggak nikmat saat makanan menjadi dingin."
"Ah, iya." Aku ikut melanjutkan makan. Kenapa dia tidak mengatakan apa-apa? Ponselku bergetar. Ku ambil dan melihat nama Han lagi di layar. Pria itu kenapa terus saja memaksaku membaca pesannya? Panggilan tidak terjawab juga muncul berkali-kali di layar. Bukankah sudah menjadi kebiasaanya tidak peduli padaku.
"Cepat pulang!"
***
Ku lihat Han tidak tidur saat aku tiba di rumah. Apa dia sengaja menungguku? Ah, pria ini mana mungkin menungguku.
"Kamu baru saja pulang?" tanya Han yang duduk bersandar di atas ranjangnya.
"Ya. Seperti yang kamu lihat." Aku tidak menoleh. Hanya menjawab pertanyaannya. Sepertinya Han tengah mengamatiku.
"Mama meneleponku berulang kali. Apa yang kamu katakan padanya?" Aku yang melepaskan jas dan meletakkan di atas ranjang menoleh.
__ADS_1
"Soal dirimu yang tidak muncul di pernikahan saudaranya? Itu yang kamu tanyakan?" Han mengangkat bahu dengan malas.
"Ya."
"Aku bilang kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu yang menumpuk hingga tidak bisa datang pada acara pesta tadi. Jawabanku sesuai dengan keinginanmu?" tanyaku seperti menyindir. Karena bisa di pastikan pria ini bukan sibuk dengan pekerjaan kantor, melainkan dengan Kayla.
"Jas siapa itu?" tanya Han sambil memicingkan mata. Aku tahu bahwa aku masuk ke dalam kamar masih dengan jas milik Gara yang ku pakai. Namun aku lupa, bahwa seharusnya tadi aku langsung melepasnya saat tiba di rumah. Bukan justru memakainya hingga masuk kamar seperti ini.
"Ini? Milik Gara," jawabku memilih jujur. Karena jelas sekali ini jas laki-laki. Tidak mungkin aku mengatakan jas milik papa atau bahkan milikku. Karena tidak akan apa-apa jika aku mengatakannya.
"Gara? Dia memberikanmu jasnya?" tanya Han merasa heran. Ada raut wajah aneh di sana.
"Ya." Aku melipat jas itu.
"Kenapa dia harus melepas jasnya demi kamu?"
"Karena aku membutuhkannya. Dengan pakaianku seperti ini jelas udara dingin menusuk kulitku. Dia berbaik hati meminjamkannya padaku."
"Kalian mulai saling meminjam seperti itu?" tanya Han sinis dan mendengkus. Itu cemoohan.
"Meminjam seperti itu apanya? Ini hanya sebuah jas." Aku tidak suka cara bicara Han.
"Dari mana saja kamu hingga kedinginan? Pesta sudah usai sejak tadi, tapi kamu baru muncul sekarang. Bahkan dengan jas milik seorang pria di bahumu." Aku diam dan menoleh padanya.
Terheran-heran dengan dengkusan milik pria ini, aku menghela napas. "Aku tidak tahu kamu mulai bertanya tentangku. Padahal yang aku tahu kamu terlalu sibuk dengan dia. Perempuan itu. Kayla," tuding ku.
"Seharusnya kamu menjawabku. Bukan justru mengatakan hal di luar apa yang aku tanyakan padamu."
"Oke. Aku dari rumah sakit. Ibuku sakit. Yang bisa mengantarku hanya Gara. Kenapa? Karena hanya dia yang ada di dekatku dan bisa aku mintai tolong untuk mengantarkanku. Sementara kamu sendiri yang di kenal orang sebagai suamiku, entah berada dimana. Aku tidak tahu." Aku mulai kesal.
"Jadi sekarang Gara yang bisa kamu andalkan?" Han mulai tersenyum sinis. "Jadi mangsamu kali ini adalah Gara?"
"Mangsa? Sungguh aneh. Jikalau kamu sendiri sebagai keluarga Laksana enggan menikah denganku dan justru mencari kesenangan dengan wanita lain, apa mungkin Gara yang juga keturunan Laksana akan berminat padaku? Kalian satu darah. Baik kamu maupun Gara mungkin sama." Aku tersenyum sarkas karena marah. Amarahku memuncak. Apalagi mengingat ibu yang sakit. Hati dan ragaku terasa sangat lelah hingga aku perlu menumpahkan semua uneg-uneg.
Gara yang melintas di bawah balkon kamar mereka mendengar. Mendengar dengan jelas apa yang di katakan Zia barusan. Pintu kamar mereka memang terbuka sedikit. Meskipun tidak lebar, tapi dengan suara Zia yang tegas dan keras, membuat kalimatnya terdengar keluar.
__ADS_1