Getir

Getir
Pemilik perusahaan


__ADS_3


...Dua minggu setelah keputusan di ruang baca....


Kayla dengan gaya anggunnya berjalan melintasi lorong menuju ruang Hanen. Wanita ini ingin segera menemui pemilik perusahaan ini, yaitu Hanen. Dia sudah putuskan untuk terus maju meski Han sudah membuangnya. Karena dia mendengar berita kepemilikan yang barum.


"Anda tidak bisa masuk secara paksa, Nona," ujar seorang lelaki yang kini menjadi tangan kanan pemilik yang baru.


"Kenapa? Kamu pasti tidak tahu bahwa aku adalah kekasih atasanmu. Pemilik perusahaan ini," ujar Kayla dengan raut wajah angkuh.


"Maaf, mungkin saya keliru. Namun pemilik perusahaan kami tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Jadi bisa di pastikan Anda berbohong."


"Bohong kamu bilang? Yang benar saja. Atasanmu hanya beralasan," dengkus Kayla. Aku yakin dia ingin menghindar dariku karena sudah berhasil menguasai Zia sepenuhnya. Sialan pria itu. Aku tidak akan tinggal diam. "Minggirlah. Aku harus menemui atasanmu."


"Tidak bisa Nona. Atasan kami tidak bisa di ganggu. Anda harus membuat janji."


"Janji? Sungguh sombong pria itu. Padahal dia dulu terus saja menemuiku tanpa perlu ada janji. Sekarang ... setelah dia menjadi pemilik sah perusahaan ini, dia memperlakukanku bagai tamu asing." Kayla menjadi sangat geram.


Ponsel di saku pria di depan Kayla berdering.


"Iya Pak. Nona Kayla masih ada di hadapan saya." Kayla menoleh pada pria itu saat mendengar namanya di sebut. Pasti itu Han yang meneleponnya. Kayla tersenyum. "Baik Pak. Akan saya antar ke ruangan Anda." Sesuai dengan dugaannya. Hanen tidak akan lama menghindar darinya. Pria itu telah jatuh cinta padanya. "Saya akan mengantar Anda," ujar pria itu pada Kayla.


"Memang sejak awal seharusnya kamu mengantarku. Bukan menghalangiku menemui atasan kalian." Pria tadi mengangguk dan melebarkan tangan mempersilakan Kayla menuju ruangan paling ujung.


Dada Kayla membuncah senang sekarang orang-orang ini melayaninya dengan baik. Langkah Kayla pun terasa ringan. Senyumnya mengembang. Harapannya kembali muncul ke permukaan. Hanen akan menjadikan dirinya kekasih lagi.


Hingga akhirnya langkah mereka tiba di depan pintu ruang kerja utama. Pria itu membuka pintu dan mempersilakan Kayla masuk.


"Silakan Nona."


"Terima kasih sudah mengantarku dengan baik." Kayla menyunggingkan senyum dan melangkah masuk ke dalam ruang kerja. Seorang pria tengah duduk di kursi kerjanya sambil memunggungi meja. "Aku tahu kamu pasti menerima kedatanganku, Han," ujar Kayla sesaat setelah pintu di tutup.


Kursi itu berputar. Senyum menawan menghias di atas bibir pria ini. Kayla yang semula tersenyum, kini segera menghentikan senyumannya. Pria itu bukanlah Hanen, tapi Gara.


"K-kamu?" tanya Kayla terkejut.


"Ya. Aku Gara."

__ADS_1


"K-kenapa kamu ada di sana? Kemana Han? A-ada apa sebenarnya ini?" Kayla kebingungan dan mulai melihat ke seluruh ruangan dengan panik.


"Tidak ada apa-apa. Kenapa kamu begitu panik?" tanya Gara yang melihat keterkejutan Kayla begitu berlebihan.


"Menurut perjanjian orangtua kalian, bukannya Hanen akan jadi pemilik perusahaan ini jika dia menikahi Zia?"


"Kamu juga tahu soal perjanjian itu? Hanen kurang ajar. Dia sengaja merencanakan ini semua sejak awal." Gara mengepalkan tangannya dengan geram.


"Benar. Seharusnya semuanya berjalan lancar sesuai dengan apa yang di katakan Han, tapi apa ini? Kenapa kamu yang berada di sini?"


"Karena aku adalah pemilik perusahaan ini. Jadi aku berhak berada di sini."


"Tidak mungkin. Hanen yang akan menjadi pemiliknya. Bukan kamu. Begitu yang di janjikan orangtuamu."


"Tutup mulutmu Kayla! Kamu orang luar. Kamu bukan siapa-siapa. Tidak ada hak bagi kamu untuk bicara banyak soal kepemilikan perusahaan ini!" hardik Gara. Kayla terdiam. "Jika sudah selesai urusanmu, kamu boleh pergi. Atau aku harus menyuruh orang-orangku menyeretmu keluar?" desis Gara dingin.


"T-tidak. Tidak perlu. Aku bisa pergi sendiri." Kayla memilih mundur.


"Dan perlu kamu ingat satu hal, Kayla. Jangan pernah mengusik Hanen dan Zia. Aku tidak akan pernah segan untuk membuatmu tersiksa jika kamu melakukannya," ancam Gara.


"K-kamu serius? Bukannya kamu dan Zia ..."



Hampir setiap hari Gara punya kegiatan baru belakangan ini. Dia selalu mendatangi sebuah kawasan perumahan baru. Pria ini selalu menyempatkan beberapa menit untuk tinggal dan melihat ke arah sebuah halaman rumah kecil tapi penuh dengan nilai estetika.


Seperti saat ini, ada seorang wanita tengah duduk di depan sebuah taman mungil. Bibir Gara selalu tersenyum melihatnya. Bukan hanya kebahagiaan yang terlukis di dalam senyuman itu. Disana juga ada gurat sedih yang terpancar. Meskipun begitu, ada kepuasan tersendiri saat wanita itu mulai tersenyum entah karena apa.


Gara segera merunduk, tatkala sebuah mobil berwarna rose metalic mendekat ke arah rumah itu. Dengan sigap Gara menyalakan mesin dan pergi meninggalkan kawasan itu.


Sore ini, Rara yang baru pulang dari bekerja, ingin mampir sebentar.


"Selamat sore Kak Zia," sapa Rara dari dalam mobilnya.


"Hei, Rara." Zia terkejut dengan kemunculan adik iparnya. "Kamu datang berkunjung?" Wanita ini berdiri dan menjauh dari taman.


"Sebenarnya bukan berkunjung, tapi karena kebetulan lewat sini, jadi sekalian mampir."

__ADS_1


"Terserah. Apapun itu kamu sudah di sini. Ayo masuk." Rara tersenyum. Zia membuka pintu pagar agar Rara bisa memasukkan mobil dalam halaman rumahnya. Setelah memarkir mobilnya, Rara turun. Zia menyambut adik iparnya dan membawanya masuk ke dalam rumah.


"Sebaiknya kita mengobrol di dapur saja. Sekalian aku kupaskan buah untukmu."


"Wahh ... tidak apa-apa, Kak? Aku merepotkan, nih ...," ujar Rara.


"Ayolah. Kamu memang sering merepotkanku." Rara tergelak. Setelah meletakkan tas di atas sofa, Rara ikut Zia ke belakang. "Mau minum apa?" tanya Zia sambil memunggungi adik iparnya untuk mengambil gelas di rak atas.


"Apapun deh."


"Jangan bilang apapun." Zia memutar tubuhnya dan menoleh ke Rara. "Aku akan memberimu air putih saja jika apapun pasti kamu terima."


"Memangnya tamu bisa minta macam-macam? Aku bukan tamu bawel, Kak." Rara berlagak cemberut.


"Hei ... kamu kan bukan sekedar tamu, tapi tamu istimewa." Zia menanggapi. Rara tersenyum.


"Baiklah. Awas kalau enggak ada yang aku pesen, ya ... Aku mau cokelat panas." Rara mulai benar-benar meminta sesuatu yang tidak biasa.


"Tumben?" tanya Zia heran. Rara mengangguk.


"Aku ingin itu. Kak Zia janji akan memenuhinya."


"Okee ... Akan aku buatkan."


"Beneran ada, nih ... cokelat panasnya?" tanya Rara takjub sendiri dengan kesanggupan Zia memenuhi keinginannya.


"Ada. Bukannya kita sering punya kesamaan soal minuman."


"Benar juga. Asyik nih..." Rara girang. Zia segera mencari bubuk cokelat di rak ujung. Bola mata Rara melihat punggung Zia agak lama. Sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu saat ini. "Kakak lihat mobil hitam di seberang rumah tadi?" tanya Rara. Sebenarnya dia mau tutup mulut, tapi entah kenapa mulutnya tidak bisa diam untuk tidak ngomong. Rara mulai membula sendiri apa yang ingin di tutupinya.


"Mobil hitam?" Zia berusaha mengingat. "Enggak. Aku enggak lihat. Kenapa?" tanya Zia heran.


"Emmm ... " Justru di saat Zia sudah ingin tahu, mulut Rara malah ingin bungkam.


"Kamu kenal? Temanmu?" serbu Zia. Raut wajah Zia sudah sangat penasaran sekarang.


"Bukan. Bukan teman. Sepertinya itu ... kak Gara."

__ADS_1



__ADS_2