Getir

Getir
Bab. 113


__ADS_3

Hanen menegakkan tubuhnya seraya menatap istrinya yang tertawa bahagia. "Baiklah. Aku akan mandi dan ganti baju dulu. Tidak. Kamu tidak perlu ikut," cegah Hanen pada Zia yang akan ikut masuk ke kamar. "Karena bisa saja aku tidak akan hanya mandi dan ganti baju jika kamu ikut masuk."


Zia melebarkan matanya. Ia tahu apa yang di maksud Hanen. Pria itu tersenyum nakal seraya menowel pipinya.


***


Seusai makan malam.


"Bagaimana kalau kita keluar jalan-jalan?" tanya Han mendadak mendapat ide.


Zia mengerjap. "Jalan-jalan?" Sudah lama mereka berdua tidak memikirkan untuk kegiatan berdua seperti itu. "Boleh." Zia setuju. Mereka pun segera berganti pakaian. Tidak lama mereka sudah siap.


"Tunggu, kenapa pakaianmu tidak berlapis?" tegur Hanen ketika melihat Zia hanya memakai dress di bawah lutut dengan banyak kancing di depan. Dia melihat itu begitu mudah di lewati oleh angin malam seperti sekarang.

__ADS_1


"Itu membuatku gerah. Tubuh ibu hamil semakin berumur sering gampang gerah, Han ..." Zia berusaha memberi pengertian.


"Iya, tapi kamu harus tetap memakai jaket di luar bajumu." Hanen mendekat ke lemari dan mencarikan jaket atau mantel sebagai luaran. Zia membiarkan Han mencarikan untuknya. Akhirnya pria itu menemukan outer dengan bahan sepanjang lutut untuknya. "Kamu harus memakai ini." Pria itu menyerahkan pada Zia. Perempuan ini patuh.


Setelah di rasa sudah siap, mereka berangkat.


"Sebaiknya kita kemana?" tanya Hanen yang sepertinya tidak punya tujuan. Dia hanya mengatakan itu dengan spontan tadi. Kepalanya menoleh pada istrinya yang duduk di samping.


"Hmmm ..."


"Tidak." Zia menggelengkan kepalanya tidak setuju. "Kamu bilang akan mengajakku jalan-jalan. Seharusnya kita melakukan kegiatan dengan jalan kaki." Zia melihat ke sekitar.


"Benar, tapi apa itu sehat untuk ibu hamil?" tanya Hanen khawatir.

__ADS_1


"Itu sehat. Justru dokter menyarankan ibu yang sedang hamil untuk sering-sering jalan kaki," jelas Zia.


"Bagus kalau begitu. Bagaimana kalau jalan-jalan di sepanjang joging track itu," tunjuk Hanen. Zia menoleh ke arah yang di tunjuk pria ini. Lalu kembali melihat ke arah Hanen sambil tersenyum setuju.


Hanen membantu istrinya turun dari mobil. Lalu mereka berjalan masuk ke area joging track yang di kelilingi taman bunga. Han menggenggam jari jemari Zia. Mereka berjalan menyusuri sungai kecil buatan yang ada di samping kiri joging track ini.


"Sepertinya ini kencan kita pertama kali setelah menikah," ujar Zia. Hanen melirik sebentar kemudian melihat lurus ke depan.


"Ya. Ini memang pertama kalinya." Hanen makin erat menggenggam tangan istrinya. "Maafkan aku Zia," ujar Hanen pelan. Zia tersentak kaget. Dia mendongak ke arah Han yang lebih tinggi darinya.


"Apa yang kamu katakan?" tanya Zia dengan sikap tenang.


"Karena aku, kita tidak melakukan banyak hal yang biasanya di lakukan suami istri," jawab Hanen dengan rasa penyesalan yang teramat dalam. "Aku sibuk dengan duniaku bersama yang lain tanpa memedulikan kamu sama sekali."

__ADS_1


"Masa itu sudah berlalu. Sebaiknya jangan mengungkit lagi. Kita berdua sama-sama hitam. Tidak ada yang bersih atau suci. Jadi sangat adil jika berhenti membicarakan hal semacam ini," kata Zia tegas. Langkahnya berhenti tepat di depan Hanen.


..._____...


__ADS_2