
"Bayi kamu tidak apa-apa?" tanya Kak Mila.
"Ya. Dokter bilang bayiku tidak apa-apa."
"Bagaimana itu bisa terjadi Zia?" keluh Kak Mila sedih. Zia terdiam. Ibu melirik Mila untuk berhenti bertanya. Karena Zia tidak ingin membahasnya. Jika tidak, kesalahan Han akan muncul ke permukaan lagi. Karena kecelakaan ini ada hubungannya dengan kekasih pria itu.
"Sekarang yang terpenting adalah ke depannya. Kamu dan suami mu harus bisa menjalani hidup dengan baik. Apalagi ada anak yang sebentar lagi lahir," kata ibu mengalihkan pembicaraan mengenai Hanen yang awalnya tetap bersama Kayla_kekasihnya meskipun sudah menikah dengan Zia.
"Ya," sahut Zia. Gara yang melihat Zia sejak tadi, menghela napas pelan. Ponsel Gara berdering. Sesaat tatapan Zia dan kakaknya menuju ke arah pria itu. Gara menghadap keluar jendela seraya menerima telepon.
Kak Mila menyentuh perut Zia pelan.
"Kira-kira dia laki-laki atau perempuan, Zi?" tanya Kak Mila.
"Entahlah. Sepertinya laki-laki sih."
"Laki atau perempuan sama saja. Yang penting lahir sehat." Ibu menimpali. Zia tersenyum.
"Benar juga. Apalagi ini anak pertama," kata Kak Mila seraya tersenyum.
"Ugh," erang Zia merasa bayinya bergerak sangat aktif.
"Kenapa Zi?" tanya Mila terkejut. Ibu juga ikut menoleh kaget. Gara menoleh dengan cepat. Padahal pria ini sedang berbincang di telepon dengan seseorang, tapi rupanya erangan Zia membuatnya terkejut dan cemas. Ia ingin bertanya, tapi sepertinya keberadaan ibu di sini membuatnya urung.
__ADS_1
"Bayimu hanya bergerak atau mulas?" tanya ibu. Beliau mungkin sudah paham karena pengalaman.
"Bayinya bergerak sangat aktif, Bu. Jadi itu sedikit terasa sakit," jelas Zia seraya meringis.
"Syukurlah. Kalau bayi mu aktif, itu mungkin artinya dia sehat." Ibu menepuk kepala putrinya lembut dan penuh sayang. Tak sengaja Kak Mila memperhatikan Gara. Ia melihat tatap mata cemas ketika Zia mengerang sakit dari pria itu. Sepertinya Mila paham bahwa Gara begitu mencintai adiknya.
***
Kamar Hanen tampak lengang. Jika biasanya ada mama yang terus menunggui putranya, kini perempuan paruh baya itu tidak ada di dalam kamar. Sekarang hanya terlihat Rara yang tertidur di atas sofa yang berada mepet dengan dinding dekat pintu.
Sementara itu di lorong menuju ke kamar Han, Laksana dan istrinya berjalan beriringan.
"Wati memang datang menjenguk kemarin. Kamu tahu apa yang terjadi ketika ia datang?" tanya mama.
"Mendadak, Wati membungkukkan badannya sambil mengucap maaf. Aku sangat terkejut, Pa."
"Bukannya kecelakaan Hanen bukan salah dia?" Laksana mengerutkan keningnya.
"Benar. Makanya aku terkejut ketika dia meminta maaf begitu."
"Mungkin dia merasa bersalah soal Gara dan Zia."
"Aku juga sempat berpikir begitu. Jadi aku mencoba maklum."
"Mama!" seru Rara yang mendadak muncul dari dalam kamar Hanen.
__ADS_1
"Ada apa, Ra?" tanya mama heran dan terkejut. Mendadak beliau di serang rasa was-was. Laksana juga melihat ke arah putrinya.
"Kak Hanen ... Kak Hanen siuman Ma!" Mendengar itu, mama langsung mempercepat langkahnya untuk segera sampai di kamar putranya. Papa juga ikut melakukannya. Dengan tergesa-gesa, mereka berdua masuk ke dalam kamar. Di sana mereka melihat mata Hanen yang sudah terbuka. Pria itu tengah kebingungan melihat ke sekitar.
"Hanen ..." lirih mama yang langsung menghambur ke bibir ranjang, lalu memeluk putranya. "Syukurlah kamu siuman, Hanen ..." Tangis mama pun merebak. Rara ikut terisak di samping mamanya. Laksana langsung meraih kepala putrinya dan memeluknya. Ada rasa syukur yang tiada tara melihat ini. Suasana haru menyelimuti seluruh isi kamar.
***
Setelah dokter melakukan pemeriksaan terkait dengan bangunnya Hanen, keluarga kembali di ijinkan menemani setelah tadi di minta keluar. Mama tak henti-hentinya menitikkan air mata haru.
"Jangan menangis terus, Ma," pinta Laksana.
"Tapi aku bukan sedang bersedih, Pa. Mama ini sedang bahagia," protes mama.
"Benar. Kita ini sangat bahagia." Rara mendukung mamanya seraya melihat ke arah kakaknya.
"Iya, Papa juga bahagia karena Hanen sudah siuman."
Sementara itu Hanen masih menatap mereka dengan tatapan sendu dan lemah.
"Kamu masih ingat mama kan Hanen?" tanya mama cemas. Karena takut putranya amnesia setelah siuman. Pria ini mengangguk lemah. Mama mengangguk lega. Bola mata Han bergerak kebingungan. "Ada apa sayang?"
"Dimana ... Zia?"
...----------------...
__ADS_1