Getir

Getir
Bab. 73


__ADS_3

"Bibi kupaskan buahnya ya?" tawar bibi. Kepala ku mengangguk. Sebuah dering ponsel terdengar. Ku yakin itu bukan ponselku, karena nada deringnya terlalu kuno untukku. Pasti itu punya bibi. "Non, sebentar lagi ya ... Anak saya yang di kampung menelepon."


 


"Ya, Bi."


 


Bibi berjalan keluar dari dapur. Sepertinya itu pembicaraan penting. Bahuku terangkat memaklumi. Aku bangkit dari duduk dan menuju lemari pendingin yang ada di sebelah kanan.


 


Ku buka pintu kulkas dan menemukan buah itu di dalam sana. Agak banyak. Jiwaku yang tadinya sendu kembali ke rumah ini, mendadak riang. Ini favoritku. Ku ambil tiga buah. Sedikit rakus, tapi tidak ada kata rakus untuk alpukat.


 


Karena sudah pernah tinggal di rumah ini, aku masih ingat tempat dimana barang-barang di letakkan. Karena tidak ada perbedaan jauh dengan dulu. Semua masih sama.


 


Pisau bisa ku temukan dengan mudah. Lalu mengupas alpukat dengan tenang. Buah ini sangat mudah di kupas karena buahnya sangat lembut. Ku cuci tanganku dan membiarkan satu alpukat masih belum di kupas. Aku mencari susu di atas lemari dapur. Namun masih belum aku temukan.


 


Suara pintu di buka terdengar. Karena dari pintu depan, aku yakin itu Rara.


 


"Ra, mau jus alpukat? Aku mau ..." Kalimatku terhenti karena yang ada di depan sana bukan Rara, melainkan Gara. Pintu yang terbuka tadi tenyata bukan Rara.


 


Bola mata Gara menatap takjub dengan keberadaan ku di sini. Sudah pasti. Karena tidak ada dugaan kita akan bertemu di rumah ini. Rumah lama dengan banyak kenangan baik dan buruk.


 

__ADS_1


"Apa kabarmu, Zia?" tanya Gara yang aku yakin juga kebingungan dengan aku yang berdiri di dapur. Itu pertanyaan klise buatku, tapi memang lebih tepat bertanya kabar daripada pertanyaan lainnya.


 


"Baik," jawabku.


 


...***...


 


...POV GARA...


 


Beberapa menit sebelum Gara muncul di depan Zia.


 


 


Rumah dalam keadaan lengang. Penghuni rumah ini hanya dia dan Rara. Juga beberapa orang yang bekerja membersihkan rumah dan sebagainya.


 


Kakiku hendak menuju kamar Rara, tapi urung karena mendengar suara perempuan samar-samar dari dapur. Akhirnya ku belokkan kakiku untuk menuju dapur.


 


Mungkin bocah itu sedang makan siang dengan lahap. Atau dia sedang berniat latihan memasak demi suami tercintanya kelak.


 


Tanganku memegang handle pintu dapur perlahan. Bermaksud menghindari suara bising karena ingin mengejutkan Rara di dapur. Namun ternyata tanganku cukuplah banyak tenaga hingga membuat suara pintu terdengar keras.

__ADS_1


 


"Ra, mau jus alpukat? Aku mau ..."


 


Suara itu mengejutkanku saat belum berbalik. Dan lebih mengejutkan lagi saat tubuh itu berbalik menghadap ke arah ku.


 


Itu Zia. Perempuan yang membuat hatiku hancur lebur. Lalu mengubahku melawan Hanen yang biasanya aku abaikan. Perempuan yang membuat dadaku berdebar kencang saat menatapnya.


 


Aku berdebar-debar.


 


"Apa kabarmu, Zia?" tanyaku tidak bisa lagi memikirkan apa yang ingin di katakan. Aku yakin kita sama-sama terkejut karena berjumpa. Semua yang ada pada dirimu masih sama, Zi. Hanya perut itu yang berubah. Sedikit membuncit karena bayi dalam kandungan itu kian besar.


 


Pisau masih dalam genggaman Zia. Dan kulihat buah alpukat yang sudah di kupas di mangkuk. Juga buah alpukat yang masih utuh. Sepertinya belum sempat di kupas.


 


Kemana Rara? Apakah dia ada di kamarnya? Zia pasti tidak nyaman dengan kemunculanku. Sebaiknya aku mencari Rara.


 


Namun ternyata hatiku lebih sejalan dengan kakiku. Tubuhku ingin menuju Zia.


...____...


__ADS_1


__ADS_2