Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Membeli Bakso


__ADS_3

Keysha dan Andra baru saja selesai dengan pekerjaannya. Keysha baru selesai melakukan operasi dan Andra baru saja selesai dengan polikliniknya. Andra menunggu dokter cantik itu keluar dari ruangan operasi. Tak lama, Keysha pun terlihat berjalan keluar. Andra tersenyum melihat wajah wanita yang akan menjadi istrinya dalam beberapa hari lagi itu.


"Dokter Keysha?" Panggil Andra dengan profesional.


"Dokter Andra?" Keysha menghentikan langkahnya tepat di hadapan calon suaminya itu.


"Ayo kita pulang bersama!" Ajak dokter Andra yang membuat Keysha langsung tersipu.


"Seperti ABG saja," Keysha tertawa kecil.


"Kan wajahku masih kaya ABG!" Dokter Andra menatap wajah wanita yang akhir-akhir ini selalu hadir di dalam mimpinya.


"Tingkat kepercayaan diri anda setebal kulit durian, Dok!" Keysha tertawa.


"Ayo kita pulang bersama!" Dokter Andra mengulang lagi ajakannya.


"Ayo, Dok! Kebetulan aku tidak bawa mobil," Kesyha menyetujui.


Kedua insan yang tengah dimabuk asmara itu pun berjalan meninggalkan area rumah sakit. Andra dan Keysha masuk ke dalam mobil yang terparkir di basement rumah sakit. Mereka melaju meninggalkan kawasan rumah sakit elit itu. Tanpa mereka tahu, Vebby yang baru memarkirkan mobilnya di basement melihat Keysha dan Andra pulang bersama.


"Sebenarnya ada hubungan apa mereka?" Vebby berkata dengan marah. Ingin sekali Vebby menyusul kedua dokter itu, tapi ia mengingat jika polikniknya akan segera dibuka.


"Kita mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu?" Tanya Andra yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.


"Aku lapar, Dok. Pengen makan yang pedes-pedes. Sudah lama tidak makan bakso," pinta Keysha dengan lembut.


"Baiklah. Kita ke kedai bakso ya?" Andra hendak mengemudikan mobilnya menuju kedai bakso mewah favoritnya.


"Aku ingin makan bakso biasa saja, Dok. Lebih enak bakso yang di dorong dari pada di kedai," pinta Keysha lagi.


"Baiklah," Andra langsung menyetujui.


Andra berputar-putar mencari pedagang bakso gerobakan. Setelah sembilan belas menit mencari, Andra melihat pedagang bakso yang tengah mangkal. Andra menepikan mobilnya di area tanah yang luas. Kebetulan tanah itu dekat dengan tukang bakso itu. Keysha dan Andra pun segera turun dari mobil. Mereka melihat pedagang bakso yang memaki topi itu tengah memasukan garam ke toples kecil.


"Mang, baksonya dua porsi ya?" Andra memesan.


"Baik," jawab pedagang bakso itu sambil menoleh ke arah Keysha dan Andra.


Wajah ketiga orang itu langsung terkejut ketika bersitatap. Ya, pedagang bakso itu adalah Zayyan. Mata Keysha terbelalak, begitu pun dengan Andra dan juga Zayyan.


"Keysha?" Akhirnya Zayyan menyebut nama mantan istri yang dikhianatinya itu.


"Sedang apa kamu di sini?" Keysha bertanya dengan dingin.


Meski sudah tidak mencintai Zayyan. Akan tetapi, tetap saja hati Keysha begitu terluka melihat wajah pria yang pernah hidup bersamanya bertahun-tahun itu. Keysha seolah mengingat setiap detail ketika Zayyan memporak-porandakan rumah tangga mereka. Luka lama yang telah mengering itu seakan terbuka kembali.


"Aku sedang berjualan bakso, Key," jawab Zayyan dengan menundukan wajahnya.


Bukan merasa malu karena Keysha mempergokinya saat berjualan, akan tetapi Zayyan malu atas semua tindakan yang pernah ia lakukan. Terutama ketika menuduh Keysha lah yang mandul. Padahal faktanya dirinya lah yang mandul, tapi Keysha tidak pernah membuka rahasia itu walaupun wanita itu tahu kebenarannya. Keysha benar-benar menjaga hati Zayyan walaupun mereka sudah bercerai. Penyesalan Zayyan semakin dalam ketika mengingat semua kelakuan b*jatnya bersama Shella.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak nyaman, ayo kita mencari tukang bakso lain!" Ajak Andra yang langsung pulih dari keterkejutannya.


"Jangan, Key, Dok! Kalian duduklah. Saya akan membuat dua porsi yang kalian minta. Kalian duduklah!" Zayyan langsung mengambil dua buah kursi plastik dari atas gerobak dan meja berukuran kecil. Pria itu lalu menyimpan kursi itu tepat di belakangnya.


Andra pun duduk di kursi itu. Akan tetapi, Keysha masih berdiri di tempatnya.


"Duduklah, Key! Dia sudah menghargai kedatangan kita," bisik Andra.


Andra seolah tidak ingin calon istrinya itu membuat orang lain sakit hati, kendati orang itu adalah Zayyan, orang yang paling menyakiti hati Keysha. Andra ingin Keysha bisa berdamai dengan masa lalunya walaupun itu berat dan membutuhkan waktu yang lama. Kesyha pun akhirnya duduk di kursinya. Ia melihat punggung Zayyan yang sedang membuat dua porsi bakso untuknya dan juga untuk Andra. Di hatinya Keysha bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan mantan suaminya sehingga dia memilih menjadi tukang bakso? Keysha hanya penasaran saja. Tapi satu yang Keysha yakini adalah jika Zayyan dan Shella sudah berpisah, karena saat di rumah sakit, Keysha tidak pernah melihat wanita itu dikunjungi oleh seseorang.


"Ini Key, Dok!" Zayyan langsung menyimpan dua mangkuk bakso di meja kecil.


Keysha menatap mangkuk miliknya. Ia melihat mangkuk itu hanya berisi bihun dan tauge. Lalu, di mangkuk itu tidak ada seledri. Rupanya Zayyan masih mengingat hal yang Keysha suka dan tidak suka


"Terima kasih," Andra tersenyum.


Andra tidak mempersoalkan mengapa Zayyan masih tahu kesukaan Keysha. Mereka adalah dua orang yang pernah hidup bersama, dan Andra tidak mempersoalkan hal semacam itu. Andra cukup bijak dalam menempatkan dirinya kini. Keysha dan Andra pun makan dengan hening. Keysha akan menambahkan sambel lagi di baksonya, akan tetapi lengan Andra mencegahnya.


"Kita akan menikah. Memangnya kamu mau saat akad, perutmu tiba-tiba mulas?" Andra tersenyum seolah tanpa beban.


"Tidak akan. Perutku sudah kuat," Keysha hendak merebut botol sambel itu lagi.


"Sudah cukup ya sambelnya segitu!" Andra tidak bisa dibantah.


"Baiklah," akhirnya Keysha tersenyum. Sementara Zayyan sangat terluka melihat hal itu. Kini, bukan dirinya yang ada di samping wanita cantik itu. Betapa bodohnya Zayyan yang sudah menyia-nyiakan wanita seperti Keysha.


"Mang, bakso ya dua. Makan di sini!" Tiba-tiba ada dua orang pelanggan yang akan makan bakso. Kedua orang itu adalah ibu dan anak.


Zayyan langsung memberikan dua mangkuk bakso yang diinginkan pembelinya. Setelah memberikan dua mangkuk bakso, Zayyan segera berjongkok dan ia mencuci mangkuk-mangkuk dan gelas yang kotor di ember kecil. Sesekali Zayyan menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang digantungkan di leher. Keysha dan Andra tertegun melihatnya. Mereka seolah sama-sama penasaran, apa yang di alami oleh Zayyan hingga ia kehilangan jabatannya di perusahaan itu? Akan tetapi, Andra sudah cukup memahami dengan kondisi yang ada. Pasti pandemi adalah penyebabnya.


Prang....


"Aduh, Mang! Baksonya tumpah!" Keluh ibu-ibu yang tengah memakan bakso saat mangkuk baksonya terjatuh.


Zayyan refleks berlari ke arah pelanggan itu. Zayyan langsung berjongkok mengambil mangkuknya yang sudah pecah belah di tanah.


"Duh, panas!" Pelanggan itu mengibas-ngibaskan kakinya di depan Zayyan yang sedang mengambil pecahan mangkuk.


"Lagian kenapa sih Mang, itu kuahnya banyak banget? Jadi, kan panas ke tangan saya dan tumpah!" Omel ibu tadi tanpa merasa kasihan kepada Zayyan.


"Pokoknya saya gak mau bayar ya!" Oceh pelanggan tadi masih dengan nada kesal. Sementara anaknya yang masih berseragam SMA itu masih menikmati baksonya dengan lahap.


"Lho gak bisa gitu dong, Bu!" Andra yang tengah menyantap baksonya berdiri dari duduknya.


"Ibu kan yang numpahin bakso itu. Jadi, ibu yang harus bayar dong!" Andra menatap ibu itu dengan sengit. Merasa tidak suka dengan adegan penindasan yang ada di depan matanya.


"Lagi pula pedagang bakso ini kan kasih piring plastik di bawah mangkuknya, Bu. Itu untuk apa? Supaya tidak panas kan? Ibunya aja yang teledor!" Keysha ikut membela. Bukan karena Zayyan yang diperlakukan seperti itu, akan tetapi siapa pun yang diperlakukan semena-mena seperti itu sudah pasti akan Keysha bela.


"Kenapa kalian ini? Bersekongkol ya?" Ibu tadi memelototkan matanya.

__ADS_1


"Bu, saya bisa lho mediasi masalah ini di kantor polisi. Sebaiknya ibu bayar dan minta maaf!" Pinta Andra.


Mendengar kata-kata polisi, ibu tadi pun langsung panik. Ibu itu lantas mengeluarkan dompetnya dan membayar kepada Zayyan.


"Nih saya bayar. Saya minta maaf ya?" Ibu itu berkata dengan raut wajah terpaksa.


"Tidak apa-apa, Bu," Zayyan menerima uang itu.


"Ayo pulang!" Ibu itu menarik tangan anaknya yang baru selesai menghabiskan baksonya.


"Terima kasih sudah membela saya," Zayyan berkata dengan tulus kepada Andra.


Andra mengangguk. Andra dan Keysha pun duduk kembali dan menghabiskan bakso yang masih tersisa di mangkuk. Setelah mereka selesai makan, Keysha dan Andra pun bangkit dari duduknya, bersiap untuk pulang.


"Berapa?" Tanya Andra kepada mantan suami dari calon istrinya itu.


"Dua puluh empat ribu," Zayyan berucap.


Andra mengeluarkan lima lembar uang pecahan seratus ribu.


"Ini banyak sekali, Dok!" Zayyan menatap uang itu dengan bingung.


"Itu buat ganti mangkuk yang pecah tadi," timpal Andra dengan tersenyum.


"Terima kasih," bibir Zayyan bergetar.


"Hiduplah lebih baik, Zayyan! Ambil semua hikmah dari semua yang telah terjadi," Keysha berucap dengan pelan kepada mantan suaminya itu.


"Sekalian kamu ada di sini, aku ingin meminta maaf atas semua yang terjadi. Aku belum sempat mengucapkan maaf. Semoga pernikahanmu berjalan lancar!" Zayyan menatap Keysha dengan berkaca-kaca.


"Terima kasih. Sudah lama aku sudah memaafkanmu. Bangunlah dan tata kembali hidupmu!" Pesan Keysha, kemudian ia berjalan lebih dulu meninggalkan Andra


"Terima kasih, baksonya enak! Kami pamit," Andra menepuk pelan bahu Zayyan dengan senyuman.


"Sama-sama. Lain kali mampir lagi ke sini," Zayyan merasa terharu akan kebaikan dokter di depannya.


"Iya. Nanti kami kembali lagi untuk membeli bakso. Kami pulang," Andra berjalan menjauhi Zayyan dan mengejar langkah Keysha.


Sesampainya di dalam mobil, Keysha dan Andra diam beberapa lama. Kesyha tampak mengerjapkan matanya seperti menahan air matanya untuk tumpah.


"Menangislah!" Andra berkata dengan lembut.


"Maaf! Aku hanya kasihan melihat dia. Kasihan sekaligus teringat akan pengkhianatan yang dia lakukan," Keysha terisak.


"Lupakan semuanya! Lupakan tentang masa lalu menyakitkan itu. Kita akan bahagia sekarang dan biarkan langkah mantan suamimu lebih lapang dengan cara kau memaafkannya seratus persen," Andra menasehati.


"Rasa marah, benci, dendam yang ada di dalam hati hanya akan membakar semuanya. Bukan waktu yang mampu menyembuhkan luka. Luka akan mengering dengan cepat asal tidak disiram air lagi dan lagi. Ikhlaskan semua yang telah terjadi. Dia pun sudah menyesali semuanya," Andra lagi-lagi menasehati Keysha dengan lemah lembut.


"Aku memang sudah memaafkannya. Tapi terkadang ingatan itu hadir saat melihat wajahnya. Tapi mulai detik ini, akan aku kubur semua hal menyakitkan itu. Aku berharap kehidupan dia lebih baik dari sekarang. Aku pun berharap rumah tangga yang akan kembali aku mulai adalah rumah tangga yang selamanya akan aku bina," Keysha menatap Andra dengan tatapan penuh cinta.

__ADS_1


"Aamiin. Sudah pasti aku yang terakhir. Kalau begitu, ayo kita makan es krim!" Andra melajukan mobilnya meninggalkan lapang kosong itu.


__ADS_2