Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Menyelamatkan Diri


__ADS_3

Ine bertemu dengan Hadi di apartemen pria itu. Wanita itu mengadu atas semua yang terjadi pada wajahnya. Ine berharap Hadi dapat membawanya ke klinik kecantikan atau ke dokter spesialis kulit yang mumpuni untuk menyembuhkan masalah wajahnya. Akan tetapi, bukannya memenuhi keinginan Ine, Hadi kini seolah berbalik meninggalkan Ine.


"Kamu sudah tidak cantik lagi. Sepertinya wajahmu bakal permanen seperti itu," Hadi menyimpulkan. Pasalnya kerusakan wajah Ine terlihat sangat parah. Kulit wajah wanita itu terlihat mengelupas dan bersisik.


"Kamu gak bisa gini dong, Mas! Aku udah layanin kamu selama ini. Lagi pula ini perbuatan istri kamu yang ngasih cream abal-abal ke aku," Ine tampak emosi.


"Denger ya, Ne! Kamu layanin aku pun aku bayar semua jasamu itu. Aku kasih uang dan barang-barang mahal. Lagi pula kenapa kamu nyalahin Fira? Kan kamu bisa aja nolak pas dia ngasih cream itu!" Hadi menaikan intonasi suaranya.


"Tega banget ya kamu ngomong gitu!" Mata Ine melotot.


"Pokonya aku gak mau tahu, kamu harus bawa aku ke dokter kulit mahal dan profesional. Kalau perlu, bawa aku berobat ke luar negeri!" Ine mendesak.


Hadi tampak tersenyum mendengar permintaan Ine. Tak lama, pria itu tertawa terbahak-bahak.


"Atas dasar apa kamu meminta hal mahal seperti itu?" Hadi menantang Ine


"Aku sudah memutuskan hubungan kita berakhir sampai di sini saja. Aku ji*jik melihat wajahmu yang seperti itu," Hadi mengambil keputusan yang langsung membuat Ine mendidih menahan amarah.


"Kurang ajar kamu ya! Setelah keadaan aku seperti ini, kamu ninggalin aku!" Ine bangkit dari duduknya. Ia memukuli Hadi dengan beringas.


"Dengar!" Hadi mengambil tangan Ine yang memukulinya. Pria itu mencengkram tangan Ine dengan kuat.


"Hubungan kita selama ini tak lebih hanya sebagai partner di atas ranjang. Aku bisa membuangmu kapan pun aku mau. Aku tidak menikmati tubuhmu secara gratisan. Sudah beruntung aku tidak meminta kembali uang dan barang-barang mewah yang aku berikan padamu!" Hadi berkata emosi.


"Enyahlah dari kehidupanku sekarang!" Hadi mendorong tubuh Ine hingga wanita itu jatuh tersungkur di lantai.


"Aku akan membuat kamu menyesal sudah memperlakukan aku begini! Aku akan memastikan kau datang padaku dan memohon di kakiku untuk kembali bersama," Ine berteriak.


"Jangan terlalu percaya diri! Tidak akan ada yang mau dengan wanita buruk rupa sepertimu!" Hadi menyeringai.


"Enyahlah dari hadapanku sekarang!" Hadi menyeret tangan Ine untuk keluar dari apartemennya.

__ADS_1


Setelah sampai pintu, Hadi mendorong Ine keluar. Rencana Hadi saat ini adalah akan kembali kepada istrinya, Fira. Akan tetapi, tanpa sepengetahuan darinya, Fira sudah mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan agama. Fira pun sudah memberikan aduan kepada perusahaan kapal pesiar di mana Hadi bekerja. Fira sudah mengirimkan bukti-bukti perselingkuhan Hadi dan juga Ine.


Melalui kuasa hukumnya, Fira memberikan somasi kepada pihak perusahaan kapal pesiar. Somasi itu berisi jika Hadi tidak dipecat, Fira akan membuka hal ini ke publik dan memviralkannya. Fira akan membuat utas di twitter dan menyebutkan perusahaan kapal pesiar tempat Hadi bekerja. Karena takut reputasinya jatuh, pihak perusahaan melakukan rapat internal dan memutuskan akan memberhentikan Hadi sebagai kapten kapal di kapal pesiar elit itu. Tentu saja Fira ingin Hadi ikut hancur bersama Ine, karena bagaimana pun, seorang pelakor tidak akan masuk jika sang suami kuat akan kesetiaannya.


Setelah di usir Hadi, Ine berjalan dengan lunglai. Ingin sekali Ine memeriksakan wajahnya ke dokter spesialis kulit. Akan tetapi, selama ini uang yang Ine dapatkan dari Hadi habis dipakai main slot dan j*udi online. Ine sudah bertaruh ratusan juta dan hasilnya selalu saja kalah. Ine menyetop taksi. Ia memilih untuk pulang ke apartemennya.


Bak sudah kecanduan, Ine mulai berpikir dari mana dirinya mendapatkan uang untuk berangkat ke dokter kulit yang mahal dan bagaimana dirinya tetap bisa bermain slot. Ine menyalakan sebatang rokok. Ia menghirup benda yang memiliki kandungan nikotin itu dengan frustasi. Ine tampak berpikir keras. Sejurus kemudian bibirnya tersenyum kala melihat Fuji masuk ke dalam apartemen miliknya.


"Dari mana kamu?" Hardik Ine kepada putri bungsunya itu.


"Dari kampus lah, dari mana lagi?" Fuji berkata dengan wajah kelelahan. Seperti biasa, Fuji baru mendorong motornya karena kehabisan bahan bakar.


"Nanti malam kamu ikut mama!" Ine menatap tajam putrinya.


"Ke mana, Ma?" Fuji berkata dengan penasaran.


"Ikut aja! Jangan banyak tanya!"


"Apa kamu bilang?" Ine merasa geram.


"Aku minta uang buat sidang, Ma. Kalau mama keberatan ga apa-apa, Uji wisuda tahun depan aja. Yang penting uang sidang dulu aja biar Uji dapet ijazah," Fuji mengulang ucapannya.


Ine langsung berdiri dari duduknya. Ia menghampiri Fuji yang terlihat lebih kurus. Ine langsung menjambak rambut Fuji dengan beringas.


"Anak kurang ajar! Bisa-bisanya kamu minta duit di tengah keadaan ibumu yang seperti ini!" Ine terus menjambak rambut putrinya walau Fuji terdengar meringis kesakitan.


"Ma, ampun! Lepasin rambut Uji, Ma!" Fuji terisak dan memelas.


"Selama ini kamu cuma beban buat mama. Seandainya kamu tidak pernah lahir. Mama tidak akan susah kaya gini. Dasar anak pembawa si*al!" Ine terus menjambak Fuji dengan membabi buta. Bahkan beberapa helai rambut Fuji terlihat terlepas dari kulit kepalanya.


"Ampun, Ma! Lepasin!" Fuji terus mengiba.

__ADS_1


"Ke sini kamu!" Ine menyeret Fuji ke kamarnya dan mendorong tubuh gadis malang itu hingga terjungkal ke lantai.


"Malam ini kamu dandan yang cantik. Kamu pengen dapat uang kan?" Ine tersenyum penuh tipu muslihat.


Tak lama Ine pun masuk ke kamarnya dan masuk kembali ke dalam kamar Fuji.


"Malam ini kamu harus pake baju ini!" Ine melempar dress mini ke wajah anaknya.


"Jangan bilang mama mau jual aku!" Fuji terus terisak.


"Jual? Fuji, kamu terlalu suudzon sama mama. Walaupun mama marah sama kamu, tapi mama tetaplah seorang ibu. Mana mungkin mama jual putrinya sendiri," Ine menyeringai. Tak lama Ine pun berlalu dari kamar putrinya.


"Ini gak bener, mama pasti rencanain hal jahat," Fuji bergumam sembari merapikan rambutnya yang berantakan akibat dari jambakan ibunya.


Sore hari, Fuji mengendap-endap ke dapur untuk mencari makanan. Saat ia lewat di depan kamar Ine, Fuji mendengar percakapan ibunya dengan seorang pria di sebrang telfon.


"Yakin dia masih gadis?" Fuji dapat mendengar ucapan orang di sebrang telfon karena Ine meloudspeaker panggilan telfonnya.


"Yakin seratus persen deh," Ine menjawab.


"Kalau beneran masih kesegel harganya mahal. Bisa dilelang 500 juta," ucap pria itu.


"500 juta?" Mata Ine berbinar.


"Iya. Apalagi kalau cantik, masih muda. Incaran sugar daddy. Banyak yang pesen gadis cantik dan rapi masih kesegel. Pokoknya entar malam bawa deh anak kamu ke klub!" Pinta pria itu.


"Oke. Jam delapan aku bawa dia," Ine tersenyum.


Air mata meleleh di pipi Fuji yang mulus. Benar dugaannya jika Ine akan menjual dirinya kepada pria hidung belang. Fuji tidak bisa berpura-pura terus tidak tahu. Fuji dengan cepat masuk kembali ke kamarnya. Ia langsung membereskan bajunya dan memasukannya ke dalam koper. Keinginan Fuji sudah bulat. Ia harus lari sejauh mungkin dari wanita jahat yang mengatakan dirinya adalah seorang ibu. Fuji terus mengemas semua pakaian dan barang-barang yang bisa ia bawa.


Tanpa berpikir panjang, Fuji segera keluar dari apartemen Ine. Ia harus menyelamatkan dirinya. Walaupun dirinya terlahir dari keluarga pelakor, tapi Fuji sangat tidak mau dirinya berakhir di tangan sugar daddy yang menjadikan dirinya selingkuhan atau istri simpanan. Fuji sudah sekolah setinggi ini. Tidak akan ia biarkan dirinya berakhir di tangan pria hidung belang. Fuji mencegat angkot yang melintas. Ia dengan cepat menaikan kopernya ke dalam angkot. Fuji tampak gelisah, ke mana dia harus pergi saat ini? Tidak mungkin Fuji tinggal di kolong jembatan. Tiba-tiba satu nama melintas di kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2