Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Nasehat Fikri


__ADS_3

Fikri menatap Fuji yang tengah berderai air mata. Tentu saja gestur wanita itu begitu sangat ketakutan dan tertekan. Fuji terlihat terus meronta, mencoba melepaskan diri dari dua pria yang sedang memegangi tangannya.


"Fik, tolong!!" Fuji berteriak nyaring. Ia begitu ketakutan saat ini.


"Lepaskan gadis itu!" Fikri menajamkan alisnya.


"Jangan ikut campur!!" Bos yang bernama Bram berteriak.


"Ikut campur? Kalian ini sedang menawan seorang gadis. Masa saya tidak boleh ikut campur? Dan satu lagi, gadis ini adalah teman saya!" Fikri berkata dengan penuh wibawa.


"Ibu dari gadis ini sudah menjual dia kepadaku. Jadi, dia milikku!!" Bram tidak mau kalah.


"Oh begitu. Berarti kalian ini adalah sindikat penculikan orang? Atau penjualan organ tubuh? Asal kalian tahu, saya bekerja di Badan Intelejen Negara. Saya bisa melacak orang seperti kalian dengan mudah," Fikri berbohong.


Fikri berusaha menakut-nakuti orang yang ada di hadapannya. Karena jika mereka terlibat adu jotos, tentu saja Fikri akan kalah, karena satu berbanding tiga bukanlah lawan yang imbang. Fikri tidak ingin sok jago. Lagi pula dirinya lebih memilih untuk menghindari kekerasan dalam menolong Fuji.


"Bawalah dia! Dan lihatlah esok! Esok hari kalian akan tertangkap. Saya akan berkonsultasi dengan kejaksaan agar menuntut kalian dengan pasal penculikan, pelecehan, dan penjualan organ tubuh manusia. Saya jamin kalian akan mendekam lama di balik jeruji besi," Fikri berkata dengan tenang. Ia harus menggunakan kecerdikan untuk menghadapi tiga pria jahat di hadapannya.


"Fik, minta tolong pada papamu yang seorang kapolda!" Fuji berteriak. Tentu saja ia sudah mengetahui alur kebohongan yang Fikri jalankan untuk menolongnya.


"Kamu bener, Ji! Aku hubungin papaku. Biar mereka tidak lepas mudah nanti. Lalu, aku akan menyuruh pamanku yang seorang sipir penjara untuk menyiksa mereka di tahanan!" Fikri menatap Fuji, seolah-olah ia tengah mengobrol santai dengan gadis itu.


"Gimana, Bos? Hari ini kabur pun, kita akan ketangkap. Orang itu orang hukum. Terlalu berbahaya, Bos!" Anak buah Bram yang sedang memegangi tangan Fuji berkata dengan takut. Pegangan di tangan Fuji sedikit mengendur.


"Jangan biarkan gadis ini lolos!" Bram masih keukeuh dengan pendiriannya walaupun dirinya agak ragu setelah mendengar ucapan Fikri. Fuji terlihat semakin ketakutan.


"Oke kalau begitu. Lihatlah besok apa yang akan aku lakukan! Kau pikir aku bercanda? Dan satu lagi. Aku bisa melacak keberadaan keluarga kalian dengan mudah! Keluarga kalian bisa jadikan tawanan," Fikri tersenyum miring.


"Bos, aku masih sayang anak istri. Aku gak mau ambil resiko," anak buah Bram melepaskan tangan Fuji. Bram terlihat semakin gusar. Ia pun memang melihat Fikri bukanlah orang sembarangan.


"Lepaskan gadis ini!!" Bram berteriak. Ia sungguh tidak ingin berurusan dengan hukum. Bram ingin bermain yang aman-aman saja tanpa melibatkan hukum.

__ADS_1


"Ayo pergi!!!" Ucap Bram dengan nada yang jengkel kepada kedua anak buahnya. Mereka langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan area diskotik.


"Ine. Cari wanita itu! Aku ingin uangku kembali!!" Geram Bram dengan penuh emosi saat ia sudah berada di dalam mobil. Mereka langsung mengarahkan mobil menuju kediaman Ine.


Sementara Fuji langsung berlari ke arah Fikri. Ia menangis tersedu. Fuji ingin sekali memeluk Fikri. Tapi sekuat tenaga Fuji tahan. Fuji begitu ketakutan. Ia amat takut dijadikan wanita malam atau sebagainya oleh orang-orang tadi.


"Tenanglah! Kamu aman," Fikri menatap Fuji dengan iba.


"Makasih ya, Fik. Makasih udah nolongin aku," Fuji menangis tergugu.


"Ayo kita duduk di sana!" Fikri menunjuk sebuah kursi yang ada di dekat mobilnya. Mereka langsung berjalan ke arah kursi itu. Fuji sesekali mengusap air mata yang terus saja mengalir tanpa permisi. Fikri membuka mobilnya. Ia mengambil sesuatu dari dalam mobil.


"Minum! Biar kamu lebih tenang," Fikri memberikan botol air mineral ke arah Fuji.


"Makasih, Fik," Fuji menerima masih dengan isak tangisnya. Fuji langsung meneguk air itu sampai tersisa separuh.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" Fikri bertanya walaupun tadi ia mendengar jika Fuji dijual oleh ibunya.


"Apa dia ibu kandung kamu?" Fikri bertanya. Pasalnya ia sungguh tidak mengerti mengapa ada seorang ibu yang rela menjual anak gadisnya kepada pria jahat.


"Dia wanita yang lahirin dan besarin aku," Fuji menoleh ke arah Fikri dengan mata yang mulai bengkak.


"Fik, kenapa aku harus dilahirin dari rahim wanita macam dia? Kalau aku bisa milih, lebih baik aku gak lahir dari wanita kejam kaya dia!!" Fuji mencurahkan semua emosinya. Wajar saja jika Fuji berkata demikian, wanita yang ia panggil mama nyatanya tega menjualnya seperti sebuah barang.


"Ji, kita emang gak bisa menentukan dari keluarga mana kita lahir, dari siapa kita lahir, tapi satu hal yang harus kamu tahu, Allah memberikan ujian kepada kamu lewat ibu kamu, agar kualitas iman kamu meningkat. Banyak orang yang di uji dengan ujiannya masing-masing. Ada yang diuji dengan anak, harta kekayaan, kesehatan, dan sekarang kamu di uji dengan ibu kamu," Fikri menasehati Fuji panjang lebar.


Tentu saja Fikri berkata demikian karena keluarganya pun merasakan bagaimana di uji oleh seorang anggota keluarga. Keluarga Fikri memang diuji oleh Zayyan. Prilaku Zayyan yang main serong dengan Shella sempat membuat nama baik keluarganya tercoreng. Bahkan keluarga Fikri sempat jadi bahan cemoohan saat video Zayyan dan Shella viral di sebuah akun gosip. Untungnya semua sudah berlalu. Fikri pun kini selalu berdoa semoga saja kakak tertuanya itu menjadi orang yang lebih baik.


"Allah gak pernah salah menentukan nasib setiap makhluknya, Ji. Allah kasih ujian ini karena Allah tahu kamu mampu melewatinya," tambah Fikri.


"Aku kaya lagi diem di ubin masjid, seger!" Fuji tersenyum sambil menangis mendengar ceramah dari Fikri. Ia menyeka air matanya.

__ADS_1


"Kayanya emang ibu aku satu-satunya ibu jahat di dunia ini, Fik!" Fuji masih terdengar terisak.


"Bagaimana pun buruknya ibu kamu, tapi dia tetap seorang ibu. Ibu yang melahirkan kamu dan membesarkan kamu. Mungkin saat ini beliau sedang dalam kekhilafan yang besar. Minta sama Allah semoga ibu kamu diberikan hidayah, bisa taubatan nasuha! Lalu, bersyukurlah, Ji! Allah selalu nyelamatin kamu. Alhamdulillah malam ini kamu selamat. Itu yang terpenting saat ini," Fikri mencoba menghibur gadis yang ia sewa sebagai ojek langganannya setiap senin itu.


"Aku takut, Fik!" Fuji menangis kembali.


Peristiwa tadi memang sangat berbekas dan menyayat hati Fuji dengan begitu dalam. Walaupun ucapan Fikri memanglah benar, seburuk-buruknya Ine, Ine tetaplah ibu dari Fuji. Wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan Fuji. Darahnya mengalir pada tubuh Fuji. Akan tetapi, demi keselamatan dirinya, Fuji memilih untuk tidak bertemu lagi dengan Ine. Bukan memutuskan tali silaturahmi atau pun memutuskan hubungan ibu dan anak, tapi Ine sudah jelas membahayakan diri Fuji dan ingin menjerumuskan Fuji ke dalam lembah dosa besar yang terkutuk.


Fikri hanya diam. Ia membiarkan Fuji menangis untuk mengeluarkan semua emosinya. Fikri pun paham bagaimana sakitnya Fuji saat ini. Fikri menunggu hingga gadis itu tenang dan puas menangis.


"Udah puas nangisnya?" Fikri menatap Fuji yang kini sedang mengeringkan matanya.


"Udah lebih baik," jawab Fuji dengan suara yang parau. Sesekali gadis itu terlihat menyeka ingus yang keluar.


"Kalau gitu, aku anterin kamu pulang ya?" Fikri menawari.


Walaupun bagi dirinya Fuji adalah orang baru, tapi tetap saja Fikri sangat kasihan dengan gadis itu. Fikri pun sempat berpikir mengapa ada ibu yang tega menjual anak gadisnya sendiri? Tapi bukankah di zaman ini banyak prilaku yang semakin tidak masuk akal? Termasuk keluarganya yang diuji dengan Zayyan. Zayyan pun dulu lebih memilih wanita yang asal usulnya tidak jelas seperti Shella dibanding dengan istri sahnya. Sungguh tidak masuk akal.


"Aku bawa motor kok, Fik. Kalau aku ikut kamu, motor aku kasian sendiri di sini," Fuji menolak dengan halus.


"Yakin mau pulang sendiri?" Fikri memastikan.


"Yakin. Makasih tawarannya ya?" Fuji berkata dengan tulus.


"Iya sama-sama. Mana motor kamu?" Fikri menoleh ke arah kanan dan kiri mencari keberadaan motor Fuji.


"Motor aku di depan, Fik. Aku pergi ya?" Fuji berdiri dari duduknya.


"Biar aku antar," Fikri ikut berdiri.


Pria itu langsung berjalan mengikuti langkah Fuji. Fikri harus memastikan gadis itu keluar dari area parkir diskotik dengan aman. Setelah Fuji naik ke motornya dan berlalu dari sana, Fikri pun berjalan kembali ke arah mobilnya. Tujuannya adalah polsek tempat di mana pamannya sedang di mintai keterangan.

__ADS_1


Sementara di rumah, Shella kini sedang kesakitan dan tidak berdaya. Shella rupanya akan segera melahirkan anak pertamanya. Shella terus berteriak memanggil adiknya, Fuji. Shella berharap Fuji segera datang dan membawanya ke rumah sakit. Di tengah kesakitannya, Shella merasa sangat senang karena dirinya kini akan segera hidup dengan bebas.


__ADS_2