Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Mengharap Belas Kasih Rena


__ADS_3

Lutut Shella seketika lemas tatkala Rena berdiri di hadapannya dengan wajah yang begitu bengis.


"Saya tanya, mau apa kalian datang ke rumahku?" Rena berteriak. Kedua matanya memerah menahan amarah yang siap untuk di ledakan saat ini juga.


"Ma, ada apa ini?" Hanan datang tiba-tiba dari dalam rumah. Ia sempat kaget melihat kedua tamu yang tak diundang berdiri di hadapannya seraya menarik koper yang besar dan banyak.


"Ini lho, Pa! Lihat ada dua orang yang tak berguna datang ke rumah kita!" Rena masih saja berteriak.


Rena tidak peduli omongannya di dengar oleh tetangga. Kemarahannya begitu memuncak kala melihat wanita yang sudah menghancurkan bahtera rumah tangga putranya. Bahkan kemarahan Rena semakin menjadi kala mengingat ibu Shella adalah Ine, musuh bubuyutannya.


"Kita bicarakan di dalam Ma. Malu sama tetangga," nasihat Hanan yang hanya dijawab Rena dengan decakan lidah.


"Ma, jangan biarkan keluarga kita semakin digunjingkan!" Hanan membujuk istrinya.


"Jika bukan karena suamiku, tidak sudi rumahku di injak wanita najis sepertimu!" Rena memutar bola matanya dan masuk ke dalam rumah. Hanan pun mengekor di belakangnya.


"Wanita najis? Ibumu keterlaluan, Sayang!" Shella merajuk.


"Diamlah! Ayo masuk!" Zayyan mulai merasa bosan dengan polah Shella.


Zayyan dan Shella pun masuk. Mereka ber empat duduk di sofa yang sangat mewah hingga membuat Shella tertegun. Mata Shella fokus memperhatikan barang-barang antik dan mahal yang ada di rumah Rena. Lalu, tatapannya beralih pada sofa yang sedang Shella duduki.


"Sofa ini kan asli dari Woll Australia. Ternyata bagus juga selera mertuaku yang cerewet ini! Batin Shella terpesona.


"Kalau bertamu ke rumah orang, jangan segala di lirik dong! Gak sopan itu namanya!" Sindir Rena yang membuat Shella gelagapan.


"Jadi ada apa kalian datang ke sini?" Tanya Hanan tajam. Ekspresi wajahnya menunjukan wajah yang angkuh dan tidak ramah.


Shella dan Zayyan saling berpandangan. Mereka menundukkan wajahnya. Tak berani menatap Hanan dan Rena. Apalagi Zayyan, ia sangat malu datang kepada keluarganya karena mengemis ingin meminta tempat tinggal. Namun apa daya, Zayyan benar-benar terdesak.

__ADS_1


"Aku ingin menumpang sementara di rumah ini, Ma! Aku sudah tidak mempunyai tempat tinggal. Setelah Keysha mengambil semua aset kami," lirih Zayyan bak seorang harimau yang kehilangan taring dan kukunya.


"Apa? Sekali lagi kamu ngomong, Zayyan! Coba ulang!" Rena tampak mengorek telinganya dengan jari.


"Izinkan Zayyan dan Shella sementara tinggal di sini, Ma!" Ulang Zayyan.


"Hebat ya? Kemarin kamu sombong sekali pada mama. Merasa sangat hebat! Sampai mama gerebek kalian kamu tak ada mengejar mama!" Air muka Rena masih saja murka, ia masih berteriak seperti orang kesetanan.


"Mama salah paham, Ma. Waktu itu Zayyan mengejar mama. Tapi kalian sudah pergi," Zayyan berkata dengan jujur. Memang waktu itu Zayyan mengejar Rena dan Keysha. Ia juga tak memperdulikan tatapan heran orang-orang yang melihatnya karena berlari sambil bert*lanjang dada.


"Halah! Mama gak butuh penjelasan kamu, Zayyan! Kamu sudah mengecewakan mama. Apalagi sekarang kamu membawa jal*ng ini ke rumah mama! Membawa najis berat ini ke rumah mama! Apa pikiran kamu masih waras Zayyan?" Mata Rena melotot seakan mau meloncat dari tempatnya.


"Sabar, Ma!" Hanan mengelus bahu Rena. Sementara Shella tampak memainkan jari-jarinya yang terasa dingin dan berkeringat.


"Bayangin, Pa! Kalau tiap hari mama liat mereka, yang ada tensi mama naik terus," Rena menghembuskan nafasnya ke udara.


"Maaf, Zayyan! Tapi kalian tidak bisa tinggal di sini!" Putus Hanan tegas dan berwibawa.


"Anak kecil pergi ke kamar! Tidak usah ikut campur urusan orang dewasa!" Perintah Zayyan dengan mendelikan matanya tak suka.


"Biar mereka di sini saja, biar mereka tahu kelakuan kakaknya yang memalukan. Lagi pula rumah ini rumah mereka. Sedangkan orang yang sudah berkeluarga tidak berhak mendiami rumah ini! Sungut Rena monohok.


"Cepat kalian angkat kaki dari sini! Mama gak akan nerima kalian tinggal disini!" Lanjutnya lagi dengan bengis, seolah tidak ada ampun


"Ma, kemana kami pergi? Apa mama tega kami tidur di kolong jembatan, Ma?" Zayyan mengiba, ia sudah bingung harus pergi kemana. Hanya rumah Rena lah tempat singgahnya kini.


"Ya, itu urusan kakak! Kakak yang memilih wanita ini. Silahkan kakak ambil konsekuensinya!" Jawab Fikri dengan tak acuh.


"Kakak sedang tidak berbicara dengan kamu! Ma, pikirkan lagi! Apa kalian lupa siapa yang membangun rumah ini sampai mewah seperti ini?" Zayyan mulai mengungkit kebaikannya pada keluarganya.

__ADS_1


"Oh jadi kamu mau mengungkit? Anak kurang ajar! Walaupun kamu yang merenovasi. Tanah ini milik orang tua mama. Kalau kamu mau itung-itungan, bayar juga biaya selama mama ngandung, ngelahirin kamu, rawat kamu, nyekolahin kamu!" Murka Rena yang membuat Zayyan salah tingkah.


"Sudah. Sudah. Sebaiknya kamu pergi dari sini Zayyan! Kasihan mamamu terus saja berteriak dari tadi. Kamu mau mamamu kena hipertensi?" Bentak Hanan dengan geram.


"Ya, syukur-syukur ema-ema ini hipertensi dan stroke saja sekalian, terus mati deh!" Shella bermonolog dalam pikirannya.


"Ma, Pa? Shella minta maaf untuk semuanya. Tapi tidak bisakah kalian memberikan Shella kesempatan? Shella sedang mengandung anak dari Zayyan, cucu dari kalian," Shella berpura-lura memasang wajah sedihnya, melupakan sejenak harga dirinya. Walaupun di hatinya ia merasa muak melihat Rena dan keluarganya yang menurutnya sangat egois.


"Jangan panggil saya mama! Saya bukan mama kamu! Saya tidak pernah melahirkan jl*ang seperti kamu! Menantu saya cuma Keysha. Wanita baik, terhormat. Lalu berpendidikan dan mempunyai karier yang bagus. Bukan wanita rendahan seperti kamu. Dasar pelakor! Bisanya cuma ngancurin rumah tangga orang!"


"Ma, jangan keterlaluan!" Zayyan memperingatkan.


"Zayyan ke sini bukan untuk dihina, Ma. Zayyan ke sini hanya untuk meminta belas kasihan mama," lirih Zayyan sedih. Sebenarnya ia ingin meninggalkan Shella saja dan kembali kepada Rena. Namun lagi-lagi bayi yang dikandung Shella mengurungkan niatnya.


"Ya sudah, ayo kita pergi!" Shella menggengam lengan Zayyan. Seolah semesta tidak mendukung, tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya bersahutan dengan Guntur yang menggelegar.


Rena berusaha untuk Abai, namun hati nuraninya berkata lain. Setidaknya dia manusia yang mempunyai belas kasih, apalagi pada anak sulungnya yang sudah banyak membantu perekonomiannya.


"Ma? Mama tega Zayyan tidur kehujanan?" Zayyan mengiba.


"Baiklah, saya Izinkan kalian tinggal di sini. Tapi setelah bayi itu lahir kalian harus angkat kaki dari sini!" Akhirnya Rena mengambil keputusan, dipegangnya tangan Hanan. Hanan pun mengangguk mengiyakan keputusan Rena.


"Terima kasih, Ma. Terima kasih" mata Zayyan berkaca-kaca, ia memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.


"Ets, jangan senang dulu! Kalian di sini tidak tinggal cuma-cuma. Kamu dilarang menempati kamar kamu yang dulu, Zayyan! Kamar kamu udah mama rombak jadi perpustakaan Fikri dan Raika. Kamu tempati kamar belakang bekas kamar Bik Narsih, dan kamu Shella. Kamu wajib mengerjakan semua pekerjaan rumah ini. Paham? Saya gak mau ngasih tempat tinggal gratisan!" Perintah Rena sengit tak mau dibantah.


"Tapi, Ma. Aku lagi hamil," ucap Shella Terbata.


"Ya sudah jangan harap kamu tinggal dirumah ini!" Rena menyedekapkan tangannya di dada, Sementara Raika dan Fikri tersenyum kecil. Mereka sangat puas Rena memperlakukan Shella seperti itu.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu," Shella mengalah, ia tidak ada pilihan lain. Namun ia bertekad setelah anak ini lahir, Shella akan memulai kariernya lagi sebagai model. Menjadi gadis sosialita lagi sesuai apa yang dia rasakan dulu.


"Oh iya, kamu bisa makan kalau kami sudah selesai makan. Satu lagi! Jangan panggil saya Mama! Panggil saya Nyonya!" Rena berdiri dari duduknya dan berlalu dari sana.


__ADS_2