
Zayyan terbangun ketika matahari menembus jendela kamarnya. Pria itu menutup matanya dengan telapak tangan untuk menghalau silau sang mentari. Ditatapnya Shella yang masih tertidur dengan sangat pulas di sisinya.
Tatapannya beralih pada jam dinding yang tergantung dengan sangat cantik. Betapa terkejutnya Zayyan saat melihat jam sudah menunjukan pukul tujuh. Ia harus datang ke kantor sebelum pukul delapan kurang lima menit.
"Ya ampun, aku kesiangan!!" Teriak Zayyan yang membuat Shella refleks ikut bangun dari tidur nyenyaknya.
"Kenapa sih, sayang? Kok ribut banget?" Tanya Shella sambil menguap, ia lalu meregangkan tubuhnya untuk mengusir pegal.
"Aku kesiangan, sayang. Kamu cepetan masak ya!" Perintah Zayyan. Tanpa menunggu jawaban dari Shella, ia langsung memasuki kamar mandi dan mandi dengan terburu-buru.
Hari ini adalah hari pertama Zayyan bekerja dengan jabatannya yang baru. Ia tak boleh terlambat. Jika terlambat, Zayyan takut ia akan diturunkan lagi dari jabatannya. Hari ini juga Zayyan akan ada meeting yang sangat penting dengan perusahaan-perusahaan yang sudah bekerja sama dengannya.
Zayyan keluar dengan setelan bathrobe nya. Ia mengernyitkan kening melihat Shella malah asik bermain dengan ponselnya.
"Sayang, kamu tidak menyiapkan pakaian untukku bekerja?" Tanya Zayyan terheran-heran ketika melihat tidak ada baju yang disiapkan Shella.
"Aku masih cape, sayang. Kamu aja siapkan sendiri!" Shella menjawab tak acuh. Tatapannya masih saja terpaku pada ponsel miliknya yang mahal.
Zayyan mendecakan lidahnya dengan kesal. Namun ia tak memprotes kelakuan Shella hari ini. Zayyan tak mau berdebat se pagi ini dengan Shella. Zayyan langsung membuka lemari dan memilih kemeja yang senada dengan warna jasnya.
"Sayang, kamu tidak menyetrika pakaianku?" Tanya Zayyan lagi seraya menatap kemejanya yang sangat kusut.
"Aku tidak bisa menyetrika, sayang. Itukan pekerjaan asisten rumah tangga," jawab Shella manja.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Zayyan teringat dengan Keysha. Meskipun wanita itu sangat sibuk, namun Keysha selalu menyiapkan pakaian Zayyan dan memakaikan dasi untuknya. Keysha juga selalu memasak tiap hari dengan menu yang enak dan bervariasi. Wanita itu selalu menyempatkan diri untuk membaca buku resep masakan supaya bisa memanjakan Zayyan dengan masakannya. Tiba-tiba saja Zayyan sangat merindukan Keysha.
"Untuk saat ini kita harus berhemat, sayang. Jangan selalu ingin dilayani ART! Hari ini jabatanku dipindahkan menjadi direktur pemasaran," akhirnya Zayyan menceritakan keadaan genting di kantornya.
"Apa?" Mata Shella membola karena terkejut.
"Lebih baik besok kamu mulai bekerja, sayang! Aku takut kamu sering membolos seperti ini menurunkan performamu di kantor atau direktur utama bisa memecatmu," usul Zayyan yang membuat Shella seketika merengut.
"Aku masih mual dan pusing, sayang!" Cebik Shella dengan wajah yang sendu.
"Baiklah. Terserah kamu saja! Jika mau berhenti bekerja pun aku tak akan melarangmu," tukas Zayyan mengalah. Zayyan lalu memakaikan kemeja yang kusut itu di tubuhnya.
Zayyan menatap pantulan dirinya di cermin. Ia merasa begitu berantakan hari ini. Zayyan akan menyetrikanya dulu, namun niatnya urung dilakukan saat melihat jam terus berputar. Zayyan pun dengan terpaksa harus berangkat ke kantor dengan baju kusutnya itu.
"Sayang, pakaikan dasi untukku!" Perintah Zayyan yang sedikit meninggi karena kesal melihat dirinya yang berantakan. Untuk pertama kalinya Zayyan merasa kesal melihat penampilannya. Ia adalah pria yang perfeksionis. Zayyan merasa tak nyaman saat memakai kemeja kusut seperti ini.
Zayyan tak menjawab ucapan Shella. Pria itu bergegas turun ke lantai satu dan menuju dapur. Saat membuka tudung saji, betapa terkejutnya Zayyan, saat menatap meja makan itu kosong. Lagi-lagi ia hanya bisa menghela nafas dengan kasar. Amarahnya kini sudah menyeruak. Tapi ia harus menahannya semata-mata karena buah hati yang sedang dikandung oleh istri sirinya itu.
Akhirnya Zayyan membuka lemari es. Ia hanya melihat roti tawar dan sekotak keju dan susu. Akhirnya Zayyan mengambil roti itu. Ia memarut keju di atas roti sebagai toping dan menuangkan susu ke dalam gelas.
Sambil menikmati rotinya Zayyan menatap tangga. Berharap Shella turun dan mengantarkannya sampai depan pintu. Namun kekecewaan lagi-lagi ia rasakan. Sampai gigitan roti terakhir, Shella tak menunjukkan batang hidungnya.
Zayyan merasa dirinya tak ada bedanya saat bersama Keysha. Ia masih saja kesepian sekarang. Shella yang dulu perhatian kini seolah berubah menjadi tak peduli padanya. Namun Zayyan mengusir pikiran itu. Mungkin Shella sedang hamil. Mungkin ini bawaan bayi. Zayyan terus menghibur dirinya sendiri.
__ADS_1
Tanpa menunggu Shella, akhirnya Zayyan meninggalkan vila itu dengan langkah tergesa. Zayyan juga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia harus bisa sampai ke kantor sebelum jarum jam menunjukan pukul delapan kurang lima menit. Ia tidak ingin seseorang menjadikan keterlambatannya sebagai senjata untuk menghancurkan kariernya lebih dalam lagi.
****
Setelah dari restoran tadi, Nita mengajak Keysha untuk pergi ke karaoke. Awalnya Keysha menolak, namun karena paksaan Nita, Keysha terpaksa mengikuti Nita hari ini.
"Kita mau ngapain sih ke karaoke?" Tanya Keysha gusar. Ia yang super sibuk selalu menganggap tempat itu dengan tempat yang negatif, namun faktanya tak selalu seperti itu.
"Untuk bersenang-senang. Supaya ibu dokter yang cantik ini tidak cemberut terus," Nita mengemudikan mobil miliknya menuju tempat karaoke yang cukup terkenal di pusat kota.
Beberapa menit berlalu, mobil Nita memasuki pelataran karaoke. Mereka berjalan beriringan menuju ruang yang sudah Nita pesan.
"Sekali-kali kita bersenang-senang hanya untuk mengusir sedikit beban dan penat. Hidup tak harus melulu seperti itu. Nikmatilah hidup, Key!" Kata Nita seraya menuntun lengan Keysha untuk memasuki ruangan itu.
Nita menyalakan monitor. Ia lalu memilih sebuah lagu. Dipilihnya lagu jadul dari beberapa band di Indonesia.
"Ayo kita nyanyi bareng!" Nita melingkarkan tangannya di bahu Keysha. Sementara Keysha menatap acuh.
"Kamu saja! Aku tak suka bernyanyi," tolak Keysha halus. Namun matanya waspada memperhatikan sekitarnya. Ia merasa tak nyaman saja saat berada di tempat seperti ini.
Nita mulai bernyanyi lagu galau. Ia begitu menghayati nyanyiannya. Kemudian Nita menyanyi dengan setengah berteriak. Keysha jadi bingung siapa sebenarnya yang akan melepaskan beban? Nita atau dirinya?
Keysha kemudian duduk dan hanya menonton Nita bernyanyi. Nita menyanyi dengan nafas yang ngos-ngosan. Sudah beberapa lagu ia nyanyikan, sementara Keysha masih tak bergeming. Ia masih saja tak tertarik untuk bernyanyi.
__ADS_1
"Ayo dong, Key! Giliran kamu nyanyi, aku cape nih!" Nita duduk di sofa yang sudah disediakan. Rupanya ia sudah cukup lelah setelah menyanyi sambil berjingkrak-jingkrak.
"Aku gak berminat," sahut Keysha yang hanya dibalas oleh Nita dengan mata yang memelototinya.