Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Meminta Restu


__ADS_3

Andra melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, di mana di sana Sagara dan juga Dewi sedang menonton channel kesukaannya. Andra sudah memantapkan hatinya bahwa secepatnya ia harus segera memberitahu perihal niat baiknya dengan Keysha kepada kedua orang tuanya. Andra terus melafalkan doa dalam hati. Semoga saja tidak ada penolakan dari kedua orang tuanya, terutama dari Sagara.


"Ma, Pa?" Andra mendudukan dirinya di sofa yang berhadapan dengan kedua orang tuanya. Sekilas ia menatap televisi yang tengah menampilkan keindahan alam Afrika.


"Ada apa, Ndra? Tumben kamu turun?" Dewi menoleh kepada putranya yang kini tengah memakai baju piyama.


"Iya, Ndra? Ada apa? Apa televisi di kamarmu mati?" Sagara membetulkan letak kaca mata miliknya.


"Andra ingin membicarakan sesuatu yang penting," Andra berkata dengan mimik wajah yang serius.


"Serius?" Sagara dan Dewi saling berpandangan.


"Baiklah," Sagara akhirnya mengambil remote televisi dan mematikannya.


"Pa, Ma? Andra ingin meminta izin untuk meminang seorang wanita," Andra langsung berbicara ke inti pembicaraan. Ia memanglah bukan tipe orang yang suka berbasa-basi.


"Apa?" Sagara dan Dewi berteriak bersamaan.


"Iya. Andra meminta restu dari kalian. Tolong restui hubungan Andra dan Keysha!" Andra berucap kembali yang membuat keterkejutan semakin jelas di wajah Dewi, ibunya. Sementara raut wajah Sagara terlihat lebih tenang karena memang dirinya sudah tahu perihal wanita yang sedang ada di hati putranya.


"Mama gak sedang mimpi kan?" Dewi menepuk pipinya. Ia takut ini hanyalah mimpi belaka.


"Ma, Jangan becanda! Andra serius," wajah Andra merengut.


"Ndra, sudah kamu pikirkan matang-matang?" Tanya Sagara dengan penuh wibawa dan juga ketegasan dalam wajahnya yang mulai menua.


"Tentu saja. Andra juga sudah shalat istikharah. Setelah shalat, Andra semakin yakin jika Keysha adalah kebahagiaan yang Andra cari selama ini," Andra berkata dengan penuh keyakinan.


"Ndra, Keysha adalah orang yang sudah pernah membina biduk rumah tangga. Apa kamu yakin akan menikahi wanita yang berstatus janda?" Sagara memperjelas pertanyaannya.


"Pa!" Dewi hendak protes tapi lengan Sagara menginstrusikan agar Dewi diam terlebih dahulu.

__ADS_1


"Pa, Andra mencintai Keysha tanpa syarat. Andra tidak peduli dengan status dan latar belakangnya."


"Pa, jangan merendahkan status janda! Janda lebih terhormat dari pada wanita yang masih berstatus gadis tapi memiliki pergaulan yang sangat bebas. Ya kalau kata kekiniannya banyak status gadis tapi rasa janda," ucap Dewi dengan nada ketus. Merasa tidak suka saat Sagara membawa status seseorang.


"Ma, bukan itu yang papa tekankan. Tapi apa Andra siap menikah dengan seseorang yang pernah gagal dalam berumah tangga? Apa rumah tangga itu dijamin tidak akan hancur kembali? Apa putra kita siap dengan semua orang yang akan menggunjingnya? Terlebih mantan suami dari Keysha begitu sudah dikenal sebagai seorang peselingkuh. Papa takut Andra terkena masalah saja," Sagara mengeluarkan uneg-unegnya.


"Andra izin menyela!" Andra memandang Dewi dan Sagara bergantian.


"Pertama yang ditekankan di sini adalah Keysha sebagai seorang korban. Perceraian mereka terjadi karena mantan suaminya berselingkuh. Tentu papa ingat betul bukan? Yang kedua adalah Andra tidak sama dengan pria itu, Pa. Andra tidak akan pernah mengkhianati sebuah ikatan suci yang terjalin, apalagi pernikahan adalah ibadah seumur hidup. Dan yang ketiga mengapa Andra harus terkena masalah karena mantan suami Keysha? Andra akan menikahi Keysha, bukan menikahi mantan suaminya," Andra berucap tanpa jeda.


"Ndra, mama restui hubungan kalian!" Dewi langsung memberikan restu kepada putranya.


"Mama tahu Keysha adalah wanita yang baik. Mama tidak masalah dengan statusnya. Terlebih mama sudah sangat mengenal kedua orang tuanya. Mereka adalah keluarga yang baik," tambah Dewi yang membuat hati Andra sangat tenang akan ucapan ibunya.


"Ma!" Sagara menoleh ke arah istrinya.


"Papa mau mencari wanita yang seperti apa? Apa Papa terus menunggu hingga putra kita terus menua?" Balas Dewi dengan menohok.


"Bukan begitu," Sagara hendak berbicara.


"Ndra, bagaimana dengan Vebby?" Sagara masih bernegosiasi dengan putranya.


"Pa, Andra tidak memiliki ketertarikan sedikit pun terhadap Vebby. Tidak ada setitik pun tempat untuk Vebby di hati Andra. Semuanya sudah terisi dengan Keysha," Andra berkata dengan tegas.


"Vebby masih gadis, Ndra," Sagara melepaskan kaca mata miliknya.


"Masih gadis atau tidak, Andra tidak suka dengan Vebby. Kami hanya rekan kerja," bantah Andra.


"Pa, jangan memaksa!" Dewi mulai terpancing emosi.


"Ketahuilah Ndra, perasaanmu itu bukanlah cinta tapi itu obsesi," Sagara mengelap embun yang sedikit menutupi kaca matanya.

__ADS_1


"Maksud, Papa?" Andra bertanya dengan bingung.


"Dari mana dasarnya papa berkata demikian?" Dewi ikut menimpali.


"Papa tahu jika kamu tertarik dengan Keysha karena dia mirip dengan mendiang Nadien. Bukan begitu?" Sagara meluruskan tubuhnya dan masih menatap putranya dengan serius.


"Pa, papa salah. Pertama melihat Keysha memang Andra seakan melihat Nadien dalam dirinya. Akan tetapi, setelah mengetahui pribadinya, Andra tidak pernah melihat lagi sosok Nadien dalam diri Keysha. Andra mencintai Keysha sebagai jati dirinya Keysha, bukan karena Keysha yang mirip dengan Nadien," Andra berkata penuh dengan penekanan.


"Apa papa harus percaya?" Sagara memastikan.


"Pa, yang paling tahu diri putra kita adalah kita sendiri. Tentu papa tahu bagaimana kejujuran Andra," Dewi ikut meyakinkan suaminya.


Sagara tampak berpikir kemudian ia menyenderkan tubuhnya di sofa yang empuk itu.


"Pa, bagaimana? Apa papa merestui Andra?" Andra meminta kejelasan. Akan tetapi, Sagara masih diam dengan raut wajahnya yang tak terbaca.


"Pa, seandainya papa tidak merestui Andra, itu bukanlah masalah. Andra pria dan tidak memerlukan seorang wali. Andra akan tetap menikahi Keysha," Andra akhirnya mengucapkan kata pamungkas.


"Sebegitukah kamu mencintai Keysha hingga tidak perlu restu dari papa?" Sagara tersenyum samar.


"Pa, bukan seperti itu. Hanya saja papa seperti sangat sulit untuk merestui hubungan Andra dan juga Keysha," Andra menjawab dengan frustasi.


"Pa, biarkan putra kita yang menentukan kebahagiaannya sendiri!" Mata Dewi terlihat berkaca-kaca.


"Siapa bilang papa tidak akan merestui kalian?" Sagara tersenyum.


"Jadi?" Andra seolah memohon dengan sorot matanya.


"Papa merestuimu dan Keysha. Papa merestui hubungan kalian dan papa mengizinkan kamu secepatnya menikahi Keysha," Sagara berkata penuh kelembutan tapi tetap terlihat berwibawa.


"Pa, terima kasih," Andra berhambur memeluk ayahnya. Dewi pun menitikan air matanya karena terharu dengan sikap Sagara yang memilih mengutamakan kebahagiaan putranya.

__ADS_1


"Cukup sekali Keysha merasakan perceraian. Dampingi dia sampai maut memisahkan kalian! Jangan pernah berpaling darinya! Jangan membuat kesalahan yang sama dengan mantan suaminya!" Sagara memberikan petuahnya.


"Tentu, Pa. Tentu saja," Andra mengangguk dengan penuh haru


__ADS_2