
Rena keluar dari mobilnya dengan menenteng tas mewahnya. Wanita tiga anak itu berdiri di depan pintu kontrakan yang ditempati putra sulungnya. Ia melihat gerobak penuh dengan bakso dan bumbu-bumbu yang menggugah selera. Rupanya Zayyan berniat akan berjualan hari ini.
Rena terharu melihat perjuangan Zayyan untuk bertahan hidup. Walaupun terbiasa dengan hidup bergelimang harta tak menjadikan Zayyan manja saat ia sedang ditimpa kesusahan. Mungkin karena kerja kerasnya selama ini menjadikan mental Zayyan sekuat baja. Rena sangat mengenal Zayyan yang pekerja keras dan tak pernah mengeluh.
Rena mengetuk pintu. Rena tak mengabari terlebih dahulu pada Zayyan mengenai kedatangannya hari ini, kaeena Rena tahu jam delapan pagi Zayyan belum berangkat untuk berjualan bakso.
"Sebentar!" Teriak dari dalam, Rena sangat mengenali suara itu. Suara anak yang sangat ia rindukan.
Pintu terbuka, terlihat Zayyan menatap Rena dengan ekspresi yang terkejut. "Mama? Kok mama tahu aku tinggal di sini?" Tanya Zayyan masih dengan wajahnya yang diliputi keterkejutan melihat ibunya tiba-tiba ada di depan kontrakannya..
"Mama tanya pada orang-orang di sekitar sini," jawab Rena berbohong.
Padahal setiap hari wanita yang telah melahirkan Zayyan itu selalu mengirimkan orang-orang untuk memperhatikan putra sulungnya setiap hari. Zayyan mengambil tangan Rena, dan menciumnya dengan lama sebagai tanda jika dirinya begitu merindukan wanita yang sudah membesarkannya..
"Masuk, Ma!" Zayyan kemudian membuka pintu lebar-lebar. Ia lalu menggandeng tangan Rena untuk masuk ke dalam kontrakannya yang sempit.
"Maaf ya, Ma! Mama harus ke kontrakan Zayyan yang kecil," Zayyan berkata dengan sungkan. Ia lalu menyuguhkan satu gelas air putih tanpa cemilan.
Rena menggeleng. Dengan mata berkaca-kaca, ia memperhatikan putra sulungnya yang menurutnya mempunyai banyak perubahan. Tubuh Zayyan menjadi kurus terlihat dari pipinya yang tirus. Penampilannya pun sedikit berantakan. Kumis dan jenggotnya dibiarkan panjang begitu saja, namun tak mengurangi ketampanan pria itu. Zayyan masih saja tampan mirip dengan Hanan, sang ayah. Kemudian tatapan Rena terpaku pada sebuah surpet yang sangat tipis. Bagaimana bisa putranya beristirahat dengan nyaman sedangkan tempat tidurnya itu sangat mirip dengan karpet?
"Ma?" Suara Zayyan membelah keheningan mereka yang beberapa saat terjeda.
"Apa, Nak?" Timpal Rena dengan menatap putra sulungnya. Tatapan mata yang menyembunyikan kesedihan yang menghinggapi hatinya.
Zayyan kemudian mengambil tangan Rena, ia lalu menciumnya lama. "Maafkan Zayyan, Ma! Dulu Zayyan mengacuhkan mama hanya demi Shella," sesal Zayyan bersungguh-sungguh.
"Tidak apa-apa. Mama sudah memaafkan kamu Zay," Rena menggeleng, ia lalu menarik tangannya dan memeluk putranya dengan erat.
Anak dan ibu itu saling memeluk, saling menyalurkan rindu yang mereka tahan sekian lama. Mereka saling menangis terisak. Hingga membuat suasana di ruangan itu menjadi haru.
"Kamu tidak bisa merubah masa lalu, Nak! Tapi kamu bisa merubah hari ini dan diri kamu menjadi lebih baik lagi. Mama harap semua yang terjadi kepadamu menjadi pembelajaran untuk lebih berhati-hati dalam bertindak," pesan Rena yang dibalas anggukan oleh Zayyan.
__ADS_1
"Zayyan bertekad untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, Ma! Zayyan janji!" Tekad Zayyan dengan bersungguh-sungguh.
Mereka mengusap air mata masing-masing. Rena mengelus pipi putranya dengan perasaan sedih. Ia bingung harus memulai dari mana perihal hasil pemeriksaan yang pernah Zayyan jalani. Apakah Rena harus membatalkan tujuannya kemari? Tapi Zayyan berhak tahu, ini menyangkut masalah kesehatannya.
"Zayyan?" Rena kembali memulai percakapan, setelah mereka saling terdiam.
"Ya, Ma?"
Rena membuka tasnya, ia lalu mengeluarkan sebuah amplop berlogo rumah sakit tempat di mana Zayyan pernah melakukan tes. Dengan gemetar, Rena mengulurkan surat itu ke arah Zayyan.
"Apa ini, Ma?" Zayyan mengerutkan keningnya.
"Apakah kamu pernah melakukan tes kesuburan di rumah sakit tempat Keysha bekerja?" Tanya Rena dengan manik matanya yang terus memancarkan kesedihan.
Zayyan mengangguk. Tiba-tiba saja ia merasa gugup. Zayyan yakin surat itu adalah hasil dari tesnya waktu itu. "Ya, Dulu Zayyan diantar Keysha untuk tes kesuburan, Ma. Tapi hasilnya Zayyan belum pernah tahu," jawabnya pelan.
"Bukalah! Itu adalah hasilnya!" Titah Rena kemudian menyerahkan amplop itu ke tangan Zayyan.
"Jadi, Zayyan yang mempunyai masalah kesuburan, Ma? Lalu kehamilan Shella? Siapa ayah dari anak itu?" Tanya Zayyan dengan mata yang memerah, gemuruh emosinya bergejolak. Sejauh ini Shella telah menipunya habis-habisan.
Rena menggeleng, ia mengusap pelan bahu Zayyan. " Mama tidak tahu. Akan tetapi, firasat seorang ibu benar kan, Zayyan? Awalnya saja mama melihat Shella itu bukan perempuan baik! Dan ternyata benar. Dia perempuan murahan. Dia penipu!" Hardik Rena dengan penuh amarah.
Zayyan lekas bangkit dari duduknya, ia mengepalkan tangannya kuat. Sedetik kemudian, Rena langsung menahan Zayyan yang saat ini sedang dikuasai emosi.
"Kamu mau kemana, Nak?" Tanya Rena, air matanya tak bisa ia bendung lagi. Rena menangis.
"Lepaskan, Ma! Aku akan menemui j*Lang itu. Aku ingin memberinya pelajaran. Jika perlu, aku akan m3mb*nuhnya dengan kedua tanganku sendiri!" Maki Zayyan dengan penuh emosi. Ia berusaha menggapai pintu, tapi Rena menahannya. Rena memeluk putranya dengan erat.
"Tolong kendalikan emosimu, Nak! Kita tidak tahu keberadaan wanita ular itu! Mama pun tidak ingin kamu berhubungan lagi dengan dia. Sudah cukup dia membuat kamu menderita!"
"Tapi Zayyan butuh penjelasan mengapa dia tega melakukan hal ini pada Zayyan, Ma! Padahal Zayyan memberikan apa yang ia mau selama ini!" Geram Zayyan yang masih diliputi dengan amarah yang meluap-luap.
__ADS_1
"Sekeras apapun kamu meminta penjelasan, dia tidak akan pernah mau mengaku. Sudahlah jangan berurusan dengannya lagi! Mama yakin, nanti dia akan menerima hukumannya," nasihat Rena, ia berusaha meredakan emosi putra sulungnya. Rena membimbing Zayyan menuju surpet, dan memaksa Zayyan duduk di sana.
"Berarti Zayyan mandul, Ma? Zayyan tidak akan memiliki keturunan? Jadi, selama ini bukan Keysha yang bermasalah pada kesuburannya?" Lirih Zayyan dengan suara parau. Dalam hati, Zayyan sibuk memaki dirinya sendiri karena terlalu bodoh menyalahkan Keysha.
"Ya, tapi sepengetahuan mama Azoospermia bisa disembuhkan dengan operasi. Tapi mama kurang tahu detailnya bagaimana. Kita harus memeriksakannya ke dokter yang lebih tahu masalah ini," papar Rena dengan gamblang.
"Zayyan bodoh, Ma! Mengapa Zayyan bisa terjerat godaan Shella? Zayyan bodoh sudah meninggalkan Keysha demi perempuan itu!" Zayyan terus menyalahkan dirinya sendiri.
"Sudahlah, Zay. Barkan semua berlalu! Keysha pun sudah meminta izin pada mama untuk menikah lagi!"
"Apa? Keysha akan menikah?" Bibir Zayyan bergetar.
Pria itu merasa syok untuk kedua kalinya. Namun tak ada yang bisa Zayyan lakukan, selain menyesali hal yang telah terjadi. Andai waktu bisa berputar, mungkin Zayyan akan memperbaiki semua kesalahannya. Zayyan akan selalu setia kepada Keysha seumur hidupnya. Tapi sekali lagi, semua sudah sangat terlambat.
"Ya, Keysha akan menikah dengan putra pemilik rumah sakit di mana dia bekerja! Kamu harus merelakan dia, biarkan Keysha bahagia! Biarlah Keysha menjemput kebahagiaannya setelah badai menerpa hidupnya."
Kata-kata Rena menghujam jantungnya. Sejujurnya masih ada rasa cinta yang tersimpan di lubuk hati Zayyan yang paling dalam. Bahkan rasa cinta yang itu kini berkobar di hati Zayyan setelah menyadari bahwa Keysha selama ini selalu saja mengerti dirinya. Namun mendengar siapa yang akan menikahi Keysha, rasanya Zayyan berkecil hati untuk memperjuangkan cintanya kembali. Apalagi keadaannya kini amatlah memperihatinkan. Dengan berat hati, Zayyan harus mengikhlaskan Keysha kepada pria yang lebih baik dari dirinya.
"Ya Tuhan mengapa harus ada sesal di akhir?" Lirih Zayyan dalam hatinya.
Zayyan termenung cukup lama, ia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Kemudian ia menyerahkannya pada Rena.
"Ma, cincin ini Zayyan beli saat Zayyan pergi ke Florida. Zayyan menemukan cincin itu di toko resmi C*rtier . Zayyan membelinya dengan maksud memberikannya pada Keysha saat anniversary pernikahan Zayyan dengan Keysha yang ke lima tahun. Namun saat itu kami bertengkar. Sekarang Keysha akan menikah, tolong berikan cincin itu padanya, Ma!" Zayyan mencoba tersenyum, meskipun senyuman itu sangat dipaksakan.
"Mama rasa kamu yang harus memberikannya secara langsung. Berikan padanya dan minta maaflah atas semua yang terjadi. Bahkan sampai detik ini kamu belum pernah meminta maaf kepada Keysha atas semua pengkhianatan yang kamu lakukan. Walau maaf itu tidak mengubah apapun, tapi itu akan menjadikan hati kamu lebih lapang, Nak!" Rena menasehati.
"Tapi Zayyan akan sangat sulit bertemu Keysha, Ma. Lagi pula dia akan menikah. Calon suaminya pasti tidak akan mengizinkan Keysha bertemu dengan Zayyan," Zayyan putus asa.
"Kita bisa menemui Keysha di rumah sakit, Nak. Kamu harus memeriksakan kesehatanmu. Sekalian kita bertemu Keysha dan calon suaminya di sana," timpal Rena.
Zayyan ragu apakah Keysha mau berbicara padanya? Dan bagaimana ia memberikan cincin itu? Zayyan pun berniat akan menitipkannya pada Andra saja agar tidak ada kesalah pahaman di antara sepasang sejoli yang akan segera menikah itu.
__ADS_1