Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Keberangkatan ke Jepang


__ADS_3

Keysha baru saja selesai dengan aktivitas packingnya untuk persiapan pergi ke Jepang. Sejam lagi, Keysha dan Zayyan akan bersiap untuk pergi ke bandara. Keysha sudah mengambil cuti untuk menemani suaminya ke negeri matahari terbit itu. Keysha melihat suaminya yang sedang tersenyum senyum menatap layar ponselnya.


"Shella, kamu emang lucu ya!!" Zayyan mengetik di grup alumni kelas SMA nya.


"Cieee, awas ah kebablasan! Nanti ada yang cinlok!" Satu godaan dari teman kelasnya yang lain sukses membuat Zayyan tersenyum mesem.


Zayyan tampak menikmati obrolan grup kelasnya itu. Padahal dirinya bukan orang yang aktif membalas chatingan grup nya. Entahlah, jika Shella muncul, itu membuat jari Zayyan otomatis membalas candaan teman-temannya. Apakah dia sedang cari perhatian?


"Pak, jangan lupa makan ya sebelum kita berangkat!" Shella membalas chat Zayyan di grup dan membubuhkan emot cium.


Zayyan lagi-lagi tersenyum. Sementara yang lain, semakin ramai mengetik cie-ciee. Zayyan tersenyum malu. Ingatannya terbang saat dulu Zayyan satu kelompok bahasa Indonesia dengan Shella. Saat itu mereka mendapatkan tugas drama. Zayyan diberi peran sebagai pacar Shella.


"Ingat istri, Zayyan!" Satu chat dari Lukman sukses membuat senyum Zayyan menghilang bak di sapu ombak.


"Asik terus sama hp, chatting sama siapa sih?" Keysha membuyarkan lamunan suaminya. Zayyan pun menatap hasil packingan istrinya.


"Key, kita ke Jepang buat nemuin klien bukan buat liburan," Zayyan merasa kaget melihat koper Keysha yang sangat banyak dan berwarna warni. Penampilan istrinya juga sangat modis.


"Tapi ada waktu buat liburan walaupun sebentar. Apalagi di Jepang bunga sakura sedang bermekaran. Aku tidak akan melewatkan itu," Keysha sangat antusias, ia menggeser koper-kopernya ke arah Zayyan.


"Ayo, sayang angkat!" Perintah Keysha lagi.


Zayyan menghela nafas. Memang seperti ini kelakuan Keysha jika akan liburan. Pasti selalu membawa koper yang sangat banyak, karena Keysha selalu menginginkan penampilannya yang harus sempurna.


Dengan agak malas, Zayyan menarik koper-koper Keysha dan memasukannya ke dalam bagasi mobil. Jika dulu ia sangat senang pergi ke luar negeri bersama istrinya, berbeda dengan sekarang. Zayyan merasa risih jika Keysha ikut. Apalagi di sana ada Shella. Zayyan takut Keysha melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan lagi pada sekretarisnya. Akhir-akhir ini Zayyan tidak mendapatkan kenyamanan dari Keysha, sikap posesif nya ini malah membuat Zayyan semakin jengah dengan dokter cantik itu.


"Sayang, kok cemberut? Gak suka ya aku pergi nemenin kamu?" Keysha seakan bisa membaca raut wajah suaminya yang kurang nyaman saat membawa koper-kopernya.

__ADS_1


Dengan cepat Zayyan menggeleng " tidak sayang. Bukan seperti itu. Hanya kamu selalu ribet kaya gini kalau ke luar negeri."


"Sayang, bukannya kamu paling seneng ya kalau aku bawa baju banyak? Katanya itu berarti aku antusias!" Keysha berkacak pinggang menikmati wajah Zayyan yang terlihat salah tingkah.


"Kita ini mau dinas, Key. Bukan liburan," Zayyan menatap sekilas Keysha, ia tak mau sepagi ini berdebat dengan istrinya.


Setelah menyimpan koper di bagasi, Zayyan dan Keysha segera masuk ke mobil mereka. Zayyan mengemudikan Mobilnya menuju bandara. Mereka terlibat obrolan kecil. Entahlah, biasanya saat mereka akan ke luar negeri, di mobil selalu riuh dengan obrolan apa yang akan mereka lakukan nanti di sana. Akan tetapi, saat ini semua berbeda. Entah mengapa, Zayyan terus teringat Shella, sementara Keysha menerka-nerka mengapa akhir-akhir ini Zayyan selalu tersenyum sendiri saat menatap ponselnya.


Tiga puluh menit kemudian, mobil mereka masuk pelataran bandara, disana ada lima orang yang sedang berkumpul menanti kedatangan Zayyan. Keysha segera turun dari mobil, ia melihat Shella sedang berdiri menunggu bosnya. Hari ini Shella memakai Rok Plisket selutut, dipadu dengan mantel rajut Sabrina dan sepatu boot yang tidak terlalu tinggi.


"Maaf saya datang paling akhir!" Zayyan mendekati para karyawannya saat ia sudah memarkirkan mobilnya. Tangannya tampak penuh dengan koper warna warni Keysha.


"Tidak apa-apa, Pak. Jadwal penerbangan masih empat puluh menit lagi kok," timpal Felly dengan sopan.


"Pak, biar saya yang bantu!" Shella berinisiatif mengambil koper Keysha yang berwarna Lilac dari tangan Zayyan.


"Bu, biar saya bantu ambil kopernya!" Arsha menawarkan bantuan pada Keysha. Keysha sedang mendorong koper besar miliknya yang berwarna pink.


"Tidak apa-apa, biar saya saja. Tolong bantu suami saya saja! Dia kesusahan membawa koper saya."


Arsha mengangguk, ia segera mengambil koper yang tersisa dari tangan Zayyan. Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam bandara.


Brug.


Keysha terjatuh ketika seorang perempuan muda memakai topi menabrak bahunya. Tas mungil yang ia tenteng ikut terjatuh membuat semua yang ada di dalam tasnya berhamburan begitu saja. Keysha tidak menutup tasnya dengan sleting karena baru saja dia mengambil ponsel dari tas bermerknya itu.


"Maafkan saya, saya tidak sengaja," ucap seorang perempuan yang memakai masker dan topi itu. Perempuan itu membantu mengambil barang Keysha yang jatuh berserakan. Begitu juga dengan Zayyan yang refleks menolong sang istri.

__ADS_1


"Lain kali lebih hati-hati kalau berjalan! Barang saya jadi pada pecah kan," Keysha Sudah sangat kesal dengan ulah perempuan itu.


"Saya sedang buru-buru. Maafkan saya!"


"Kamu lain kali hati-hati! Kamu hampir mencelakai istri saya. Kalau istri saya jatuh dan terluka bagaimana?" Ketus Zayyan panik saat melihat Keysha terjatuh.


"Sekali lagi maafkan saya!" Wanita itu kemudian berlari masuk ke dalam bandara.


"Dasar tidak sopan!!" Felly ikut merasa jengkel dengan ulah wanita itu.


Zayyan menggandeng lengan Keysha, mereka berdua menuju tempat pengecekan. Namun saat giliran Keysha diperiksa dokumennya, ia merasa bingung karena passportnya tidak ditemukan


"Ada apa, Bu?" Felly menangkap raut kecemasan Keysha.


"Passport ku hilang, Fel!" Keysha masih berusaha mencari passport miliknya di dalam tas.


"Sayang, jangan bercanda! Coba cari lagi!" Zayyan mendekati Keysha, ia membantu mencari visa istrinya. Namun nihil, visa keysha tidak ditemukan.


"Bagaimana ini, Pak?" Tanya Arsha yang ikut resah.


"Key, maafkan aku! Tapi sepertinya kamu tidak bisa ikut, Key. Maafkan aku yang tidak bisa membatalkan perjalanan ini! Andai ini bukan perjalanan karena bisnis, pasti aku cancel, " Zayyan berusaha membujuk Keysha yang wajahnya sudah muram.


Keysha menunduk, ia sangat sedih dan jengkel. Persiapan sudah begitu matang disiapkan jauh-jauh hari, tapi malah terjadi hal yang tidak terduga.


"Ya sudah tidak apa-apa, pergilah tanpaku!" Keysha tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya, ia tahu ia egois tapi bisakah Zayyan tinggal dan menugaskan hanya karyawannya saja yang pergi?


Sementara itu Shella tersenyum senang. Ia merasa rencananya akan berjalan mulus. Ia akan mendapatkan Zayyan segera di Jepang.

__ADS_1


__ADS_2