
Kini Ine sudah tahu bila Fuji bekerja sebagai penarik ojek online. Ine malam ini akan membawa Fuji ke tempat hiburan. Wanita itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan uang dan melanjutkan hidupnya. Ine membeli sebuah kartu perdana baru. Tentu saja itu merupakan bagian dari rencananya. Ine langsung memasang kartu perdana itu di ponselnya. Ia langsung mengirimkan pesan whatsapp kepada putrinya.
"Selamat malam, ini dengan Fuji? Saya orang yang tempo hari memakai jasa anda. Apa malam ini anda bisa menjemput saya? Saya bakal bayar tiga kali lipat."
Ine mengirimkan pesannya dengan gusar. Ine takut Fuji mengabaikan pesannya. Akan tetapi, dua menit kemudian wajah gusar itu hilang digantikan dengan senyuman licik yang tersungging di bibirnya.
"Siap, kak. Minta di jemput di mana ya? " Balas Fuji. Tentu saja dengan kepolosannya gadis itu percaya begitu saja dengan pesan palsu yang dikirimkan oleh ibunya. Tekanan hidup yang Fuji alami menjadikan uang sangat berharga untuknya.
"Jemput saya di tempat hiburan yang ada di pusat kota ya? Jangan takut! Saya perempuan kok. Saya cuma pengen minta dijemput biar saya ngerasa aman pulang ke rumah abis dugem. Saya ngontak kamu karena kamu perempuan. Jadi, saya ngerasa aman kalau dijemput sama sesama perempuan. Jam 10 jemput saya ya?" Ine mengirimkan pesan balasan.
"Iya, kak. Nanti saya jemput," Fuji membalas.
Fuji tidak sedikit pun menaruh curiga kepada pesan itu. Pertama adalah karena pesan dikirimkan oleh nomor baru. Kedua adalah alasan yang diberikan cukup masuk akal. Dengan begitu, Fuji merasa tidak ada hal yang salah.
"Dasar anak bodoh!" Ine tertawa. Ia melempar ponselnya ke sofa.
Ine segera mempersiapkan segalanya. Wanita itu segera menelfon pria yang hendak membeli Fuji. Mereka akan bertemu malam ini di tempat hiburan yang Ine katakan. Ine sudah sangat tidak sabar untuk menerima uangnya. Rencananya Ine akan mempergunakan untuk kebutuhan hidupnya dan tentu saja untuk bermain slot juga membayar pinjaman-pinjaman onlinenya, karena Ine mulai diteror via telfon oleh aplikasi pinjol. Bukan tidak mungkin nanti Ine akan didatangi oleh penagih hutang.
__ADS_1
Sementara Fuji yang baru membalas pesan Ine langsung masuk ke dalam rumahnya. Badannya sudah cukup lelah hari ini. Bagaimana tidak lelah, setelah sidang Fuji langsung bekerja untuk mendapatkan uang. Sesampainya di kamar, lekas Fuji berganti pakaian. Ia ingin sekali mandi. Baru saja Fuji duduk, Shella tiba-tiba berteriak dari dalam kamarnya.
"Ji?" Teriak wanita yang tengah hamil sembilan bulan itu dengan lantang.
"Iya, kak?" Fuji langsung berdiri dari duduknya. Ia berjalan dengan gontai menuju kamar kakak sulungnya itu.
"Ji, tolong ambilin kakak minum!" Shella dengan seenaknya selalu saja menyuruh-nyuruh Fuji untuk melakukan apapun. Padahal kini ia sudah tidak mengalami pendarahan.
"Iya, kak!" Dengan wajah yang lelah, Fuji langsung berjalan ke dapur dan mengambil satu gelas minuman yang Shella inginkan.
"Ji, sekalian bikinin kakak mie instan dong! Oh iya, toilet kamar kakak belum di sikat. Tolong kamu sikatin ya? Kakak gak nyaman," Shella seolah tidak peduli dengan adiknya yang kerja banting tulang untuk menghidupinya.
"Uji istirahat dulu ya, kak? Nanti Uji kerjain," Fuji menawar.
"Lah Ji, kan kakak nyuruh sekarang!" Shella berkata dengan kesal.
Setiap hari wanita itu selalu memperlakukan Fuji layaknya pembantu. Shella hanya duduk dan tiduran manis di kasur. Setiap hari wanita itu hanya bermain ponsel atau menonton televisi. Fuji lah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah sendirian. Ia mengerjakan semua pekerjaan rumah sebelum berangkat bekerja.
__ADS_1
"Kak, kakak kan udah gak pendarahan! Kenapa gak kakak aja yang gosok toilet?" Fuji merasa jengah dengan tingkah Shella yang terus saja menjadikan dirinya seperti pembantu.
"Duh, Ji! Kamu gak liat? Ini perut kakak udah gede gini. Mana bisa gosok toilet?" Shella balik bertanya dengan kesal.
"Kak, orang hamil banyak kok yang produktif. Dari Uji datang ke rumah ini kakak cuma bisa rebahan, rebahan dan rebahan. Kakak sebenarnya kasian gak sih sama Uji, kak?" Mata Fuji berkaca-kaca.
"Uji lelah, kak. Uji lelah harus nyari nafkah buat kita berdua. Ditambah harus ngerjain semua isi rumah. Minum pun kakak harus nyuruh Uji yang bawain. Kakak kan bisa jalan! Coba kakak gerak biar persalinannya juga entar lancar!" Fuji mengeluarkan semua unek-unek yang ada di hatinya.
"Ji, kakak juga gak pengen hamil anak ini!" Shella masih saja tidak tersentuh dengan segala unek unek yang diutarakan oleh adiknya.
"Urusan persalinan gimana entar aja! Yang penting kakak selamat. Kakak gak peduli nih bayi selamat apa engga!" Shella berkata dengan ketus.
Fuji hanya bisa mengusap dadanya. Tidak menyangka ada seorang calon ibu yang berkata demikian. Fuji pun memilih untuk keluar dari kamar kakaknya. Ia ingin beristirahat sejenak menghilangkan segala lelah dan penat hidup yang ada.
"Ji, mau ke mana? Kapan dibersihin toilet kamar kakak?" Shella berteriak. Fuji tidak menanggapi teriakan kakaknya. Ia terus berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat.
Fuji merebahkan tubuhnya di kasur. Ia menatap langit-langit kamar. Hidup seperti ini sudah berat untuk Fuji. Akan tetapi, satu hal yang Fuji syukuri adalah dirinya tidak perlu berurusan kembali dengan ibunya. Dahulu walaupun Fuji tidak mencari uang, akan tetapi Ine selalu saja memarahi dan memukulinya. Fuji setidaknya terbebas dari wanita yang memanggil dirinya sebagai mama. Apalagi terakhir pertemuan mereka cukup menyakiti hati Fuji. Di mana Ine akan menjual dirinya kepada pria tidak baik.
__ADS_1
Jam dinding sudah menunjukan pukul sembilan malam. Fuji bersiap untuk menemui customer yang menghubunginya untuk meminta dijemput di sebuah tempat hiburan malam. Sebelum berangkat, Fuji terlebih dahulu menunaikan shalat isya. Gadis itu menangis setelah shalatnya. Ia menumpahkan segala kesedihan hatinya kepada sang pemilik kehidupan. Fuji berdoa semoga hidupnya dan hidup kakaknya lebih baik.
Setelah shalat isya, Fuji berjalan ke arah kamar Shella. Ia menatap Shella yang masih saja asik dengan gadgetnya. Fuji berharap kelahiran bayi Shella nanti dapat mengubah segala prilaku buruk yang dimiliki oleh Shella. Fuji berlalu meninggalkan kamar kakaknya. Ia segera berangkat menuju tempat hiburan malam yang custumernya sebutkan. Tanpa Fuji ketahui, sebuah bahaya besar tengah menantinya di sana.