Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Hadiah Dari Zayyan


__ADS_3

Zayyan telah pulang dari pekerjaannya berjualan bakso. Pria itu lalu memasukan gerobaknya di teras kontrakan. Alhamdulillah jualannya habis terjual hari ini. Zayyan merebahkan tubuhnya di kasur tipisnya itu, ia sangat lelah. Pasalnya hari ini cuaca sangat panas. Terik matahari seakan membakar tubuh Zayyan. Tak heran, kulitnya yang putih perlahan berubah menjadi kecoklatan.


Zayyan mengeluarkan uang yang ada di laci gerobak. Ia menghitungnya dengan seksama. Dalam hati, tak hentinya Zayyan mengucap syukur. Meskipun di tengah pandemi, namun bakso Zayyan masih saja laris. Keuntungannya pun lumayan, ia bisa memenuhi kebutuhannya dan sedikit menabung. Zayyan memasukan tabungannya di kotak yang terbuat dari kaleng. Ia tertegun saat melihat sebuah kotak biru yang berisi cincin mewah. Pikiran Zayyan melanglang buana saat ia tidak mampu untuk memberikan cincin itu kepada Keysha dengan tangannya sendiri. Akhirnya Zayyan menyuruh Rena saja untuk memberikannya pada Keysha. Awalnya Rena menolak, akan tetapi karena Zayyan mendesak, akhirnya sang ibu mau memberikan cincin itu kepada Keysha.


Rena memang tidak datang saat acara akad pernikahan Keysha. Akan tetapi, beberapa hari kemudian Rena mengunjungi Keysha ketika Andra sedang bekerja di Rumah Sakit. Rena memberikan cincin yang Zayyan titipkan. Keysha awalnya tertegun menatap cincin mahal itu. Tapi kemudian Keysha menyuruh Rena untuk memberikannya kembali kepada Zayyan. Alasannya adalah pertama Keysha yakin Zayyah lebih membutuhkan cincin itu. Kedua adalah karena ia ingin menjaga perasaan Andra sebagai suaminya. Rasanya tidak elok jika Keysha menerima cincin berlian dari pria yang berstatus sebagai mantan suaminya.


"Terima kasih, Key. Kamu sudah memudahkan langkah hidupku!" Gumam Zayyan berbicara sendiri.


Zayyan menyeka sudut matanya yang tiba-tiba saja basah. Rasa sakitnya tiba-tiba saja hadir saat mengingat Keysha sudah menikah dengan Andra. Di sudut hatinya terdalam, tak dapat ia pungkiri jika Zayyan masih menyimpan rasa pada mantan istrinya itu.


Ditatapnya cincin yang tersimpan di kotak biru itu. Zayyan mempunyai niat untuk menjual cincin itu saja. Rencananya Zayyan akan memperbaiki dulu mobil kesayangannya yang selama ini mogok karena kerusakan mesin dan dibiarkan begitu saja. Setelahnya, Zayyan akan memikirkan usaha apa yang akan ia ambil ke depannya nanti.


Setelah memasukan uang penghasilannya hari ini ke dalam kotak kaleng dan setelah menyimpan cincin itu di tempat aman, Zayyan merebahkan tubuhnya. Waktu sudah menunjukan pukul lima sore. Zayyan memilih membuka ponselnya dan mengklik aplikasi belanja online. Tiba-tiba saja ia merindukan Rengganis. Sudah satu minggu ini Zayyan tak pernah bertemu lagi dengan Nadia. Zayyan pun tak berani untuk mendatangi wanita korban KDRT itu. Zayyan takut tetangga Nadia berpikir macam-macam padanya. Zayyan takut tindakannya malah mempersulit hidup Nadia. Zayyan membuka aplikasi belanja online yang memiliki rating tertinggi di Indonesia. Matanya menatap baju bayi perempuan yang sangat cantik sekali.


"Rengganis pasti sangat cantik memakai ini," Zayyan tersenyum, ia lalu mengklik baju itu dan membaca deskripsi produk.


Akhirnya Zayyan melakukan check out baju bayi yang berwarna pink dengan aksen renda putih. Zayyan lalu memakai jasa pengiriman instant karena alamat seller masih di Kota Bandung, agar paketnya sampai hari ini juga. Zayyan hanya ingin berbagi Rezeki dengan Rengganis. Apalagi saat mendengar ayahnya pergi tak pernah kembali. Ia sangat iba dengan bayi malang itu.


Setelah Zayyan melakukan check out, ia menunggu seller untuk mengemas dan membuat kode booking nomor resi pesanannya. Rasanya Zayyan sudah tak sabar untuk bertemu dengan Rengganis. Zayyan menatap ponselnya, ia melihat foto Rengganis di galeri. Saat tidur lelap di dalam taksi, Zayyan memfoto Rengganis. Tidak lupa Zayyan meminta izin terlebih dahulu pada ibunya Rengganis, Nadia.


Tiba-tiba saja hati Zayyan merasa nyeri. Apakah seumur hidupnya ia tak akan pernah bisa memiliki anak? Apakah Zayyan tak bisa memiliki bayi selucu Rengganis? Semua pertanyaan mengenai keturunan selalu saja membuat Zayyan sedih dan khawatir. Terlalu lama melihat ponsel, mata Zayyan terasa berat. Hingga tidak sadar Zayyan sudah memasuki alam mimpi.


"Pakeeeet!" Teriak suara pria yang berteriak dengan lantang.

__ADS_1


Zayyan mengerjapkan matanya. Di lihatnya jam dinding. Waktu sudah menunjukan pukul enam sore. Zayyan mengusap wajahnya kasar, ia lalu duduk dari posisi tidurannya.


"Ya ampun, aku ketiduran!" Zayyan masih saja berbicara sendiri.


"Paket!!" Teriak seorang pria lagi.


Zayyan segera bangun, ia lalu membuka pintu. Di lihatnya kurir instan yang sedang berdiri di hadapannya seraya menenteng paket. Ah, rupanya paket Rengganis sudah datang.


"Atas nama Pak Zayyan?" Tanya pak kurir tadi.


"iya. Saya sendiri, Pak!" Jawab Zayyan dengan sopan.


Pak kurir mengangguk. Ia lalu menyerahkan paket yang sedang ia tenteng ke tangan Zayyan. Lalu pak kurir itu memfoto Zayyan beserta paketnya.


"Sama-sama," Pak kurir mengangguk, ia lalu berpamitan kepada Zayyan.


Zayyan masuk ke dalam kontrakannya. Tangannya dengan lihai membuka packingan paket itu. Zayyan tersenyum puas. Pesanannya sesuai gambar yang dipajang oleh seller. Zayyan lalu mengambil sebuah plastik yang memiliki resleting lalu memasukannya ke dalam sana.


Setelah shalat Maghrib, Zayyan memesan ojek online. Malam ini juga ia akan mengantarkan pakaian bayi itu untuk Rengganis.


"Assalamualaikum," Zayyan mengucapkan salam saat sudah di depan rumah Nadia.


"Waalaikum salam. Eh, ada A Zayyan!" Nadia tersenyum sungkan. Ia melirik sekitarnya. Beruntung kondisinya sangat sepi, karena setelah maghrib, kebetulan hujan baru saja reda.

__ADS_1


"Silahkan duduk!" Nadia mempersilahkan Zayyan untuk duduk di kursi teras. Wanita satu anak itu tak menyuruh Zayyan duduk di dalam. Nadia takut jadi bahan ghibahan tetangga, mengingat jika hanya dirinya saja yang ada di dalam rumah selain Rengganis.


"Terima kasih," Zayyan langsung duduk di kursi yang terbuat dari rotan itu.


"Maaf ya, A! Ada keperluan apa A Zayyan datang ke sini?" Nadya memberanikan bertanya. Dalam hatinya timbul kecemasan. Nadia cemas jika Zayyan akan menagih bekas biaya pengobatan Rengganis tempo hari.


Zayyan mengeluarkan bingkisan yang ia bawa dan mengulurkannya ke arah Nadya. "Ini untuk Rengganis. Tadi saya lihat di aplikasi belanja. Sepertinya Rengganis cantik mengenakan gaun itu!" Jawab Zayyan berkata jujur


Nadya merasa terkejut. Ia merasa terharu ada seseorang yang peduli pada anaknya mengingat Raka, mantan suaminya tak pernah sekalipun peduli pada Rengganis yang berstatus sebagai anak kandungnya. Bahkan di saat Nadya berjuang melahirkan pun, Raka tak ada di sampingnya. Ia sibuk berpacaran dengan wanita lain.


"Bukalah!" Perintah Zayyan


Nadya membuka bingkisan itu, ia merasa takjub dengan gaun bayi yang sangat cantik. Sangat cocok untuk Rengganis yang mempunyai kulit putih. Inu memanglah baju baru pertama Rengganis. Selama ini Rengganis memang memakai baju bekas anak tetangga-tetangganya karena Nadia tak mampu membeli baju untuk putri sulungnya itu.


"Terima kasih ya, A? Kebetulan Rengganis belum mempunyai pakaian sebagus ini!" Lirih Nadya terharu.


"Sama-sama. Kalau begitu saya pamit ya, Nad? Oh ya, jangan terlalu lama meninggalkan Rengganis sendirian! Tak baik, apalagi ini waktu maghrib," pesan Zayyan yang langsung dibalas anggukan oleh Nadia.


"Iya, A. Terima kasih ya? Maaf tidak menyuruh A Zayyan masuk ke dalam!" Nadya merasa tak enak.


"Tidak apa-apa. Saya pamit ya?" Timpal Zayyan.


Zayyan kemudian pergi setelah berpamitan. Nadia menatap punggung Zayyan dengan sedih. Ia merasa beruntung ada orang lain yang menyayangi Rengganis, walaupun tak ada ikatan darah antara Zayyan dan bayinya yang malang itu.

__ADS_1


"Ah, seandainya Raka yang menyayangi Rengganis. Sudahlah! Aku tak perlu memikirkan pria tak berguna itu," batin Nadya pedih.


__ADS_2