Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Kekesalan Shella


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul sepuluh, tapi Shella baru terbangun dari tidurnya. Tangannya berusaha mencapai nakas. Mencari satu gelas air di sana, tapi Shella tidak menemukannya.


"Haus sekali!" Ucap Shella dengan suara serak khas bangun tidur.


Shella menyibak selimut bergambar Elsa Frozen milik Fuji. Shella berjalan sedikit sempoyongan ke arah pintu. Ia membuka pintu dan mendapati adiknya sedang duduk di kursi makan sembari melihat layar gadgetnya.


"Ji, ambilin air dong!" Pinta Shella yang kini mendudukan dirinya di samping Fuji.


"Ambil sendiri aja, kak! Aku lagi belajar. Jam satu ada ujian di kampus," Fuji menolak. Tatapannya masih tertumpu pada gadgetnya yang mahal.


"Disuruh gitu aja gak mau! Gak inget siapa yang beliin tuh hp!" Shella mengomel sembari mengungkit jasanya.


"Kak, biasanya juga aku nurut. Aku lagi ujian, kak. Aku baru bisa belajar sekarang," kesal Fuji sambil menoleh sebentar ke arah kakak sulungnya. Tak lama, tatapan Fuji kembali beralih kepada gadget yang berisi materi-materi kuliahnya.


"Anak sekarang belajar pake gadget. Gak rusak emang tuh mata?" Sindir Shella seraya bangkit dan berjalan menuju ke arah dispenser. Fuji tak menjawab. Ia mengacuhkan kakaknya itu.


"Ji, ini airnya abis?" Tanya Shella saat air di dalam dispenser itu tidak keluar satu tetes pun.


"Abis kali, Kak. Uji juga belum minum," Fuji menatap Shella yang tengah berdiri di samping dispenser.


"Ya ampun! Kakak haus banget, Ji. Isi galon gih!" Titah Shella pada adik perempuan satu-satunya itu.


"Kak, bukan aku nolak, kan tadi aku udah bilang kalau aku lagi belajar," Fuji menghaluskan suaranya.


"Tega banget sih kamu, Ji! Kakak lagi hamil gini, mana baru bangun tidur!"


"Ya kenapa kakak bangunnya siang banget sih, kak?" Fuji mulai kesal kembali.


"Ji, namanya orang hamil pasti badannya lemes terus. Kelak kamu bakal rasain rasanya hamil tuh gimana! Kalau udah rasain kamu gak bakal deh ngejek kakak bangun siang!" Omel Shella.


"Banyak kok kak orang hamil tapi produktif. Kak Shella kan dari dulu emang males bangun pagi," Fuji terus menjawab omelan kakaknya.


"Ji, bisa gak sih kamu beliin kali ini aja? Kakak haus banget!" Shella memelas.


Fuji melirik jam di dinding. Materi yang sedang ia hafal masih banyak. Tak mungkin Fuji keluar untuk membeli galon di tengah situasi yang menurutnya genting itu.

__ADS_1


"Kak, maaf banget ya. Uji gak bisa. Ujian bentar lagi, sementara materi yang Uji hafalin baru dikit banget. Uji harus berusaha lulus mata kuliah ini. Kan kakak tahu sendiri mama perhitungan banget sama kuliah Uji. Kalau Uji gak lulus bisa-bisa Uji harus ngulang ini mata kuliah dan kakak tahu dong artinya apa? Ya, Uji harus bayar uang lagi buat Semester Pendek atau Uji harus ambil nih mata kuliah semester ganjil nanti," Fuji berusaha memberikan alasan yang dapat diterima oleh Shella.


"Kenapa gak kakak aja yang keluar buat beli galon? Ada kok di bawah. Tinggal kak Shella turun naek lift terus jalan dikit keluar. Di sana ada tukang isi galon," lanjut Fuji lagi.


"Dasar adik gak guna kamu, Ji!" Shella memaki kemudian melepaskan galon dari dispenser.


"Lagian mama ke mana sih?" Shella mengambil jaket rajut miliknya dan memakainya.


"Biasa. Arisan, kak. Kakak beli makanan juga ya? Mama gak masak. Uji juga belum sarapan ini," Fuji menatap kembali gadgetnya dengan serius.


Shella tidak berkata apapun lagi, wanita yang tengah mengandung itu segera membawa galon dan berjalan ke luar dari apartemen Ine.


Shella menaiki lift untuk turun ke lantai paling bawah. Sesekali Shella menendang galon itu karena kekesalan yang ia rasakan. Bagaimana tidak kesal, tenggorokannya seolah kering kerontang. Perutnya pun sedari tadi belum terisi apapun.


"Pak, isi galonnya!" Shella berkata dengan judes kepada orang yang sedang menunggui toko isi galon yang ada di dekat apartemen ibunya.


"Oke, Neng!" Jawab bapak-bapak yang sedang mencatat pemasukan harian.


"Anterin ke apartemen yang di sebelah ya, Pak! Ke lantai 8!" Shella memberikan lembar uang 20 ribu. Tentu saja ia merogoh koceknya sendiri untuk membayar air galon itu.


"Duh, gak bisa, Neng. Pengantar galonnya lagi sakit," tolak bapak itu.


"Ya bawa aja sama Eneng!" Jawab Bapak itu dengan enteng.


"Saya lagi hamil lho, Pak!" Shella berkata dengan kesal.


"Ya udah besok aja dianterinnya, Neng! Saya juga gak bisa anter. Saya mau langsung tutup toko abis ini," jawab Bapak itu yang menutup buku catatannya.


"Ya udah deh Pak, anterin besok ya!" Shella langsung pergi dengan wajah masam.


Untuk melepaskan dahaga, Shella memilih untuk pergi ke mini market untuk membeli air mineral botol.


"Haus banget!" Shella membuka botol dan meneguk air itu hingga hanya tersisa seperempat. Shella hanya mampu membeli air mineral biasa. Biasanya wanita itu akan membeli air mineral premium yang harga perbotolnya dibanderol dengan harga fantastis.


"Mama keterlaluan banget sih! Pergi gak ninggalin minuman atau makanan. Gak mikir apa aku lagi hamil kaya gini," Shella menggerutu sembari terduduk di teras minimarket.

__ADS_1


"Kalau aku punya banyak uang aja mama baik banget. Giliran aku lagi susah kaya gini mama gak ada bantu," Shella terus mengomel sendiri.


Shella pun berjalan menuju warteg yang ada di dekat mini market. Ia sangat kelaparan sekarang. Ingin rasanya Shella pergi sarapan ke restoran mewah langganannya. Tapi itu tak mungkin ia lakukan. Uangnya hanya dua juta saja dan itu pun harus ia hemat sebelum Zayyan datang menjemputnya. Shella menarik nafas sebelum masuk ke dalam warteg itu. Shella melirik sekitar. Selera makannya langsung hilang tatkala ia melihat beberapa supir angkot sedang makan di sana. Shella yang memiliki gengsi tinggi itu pun segera keluar kembali dari warteg. Shella meneruskan langkahnya dan memutuskan untuk makan di MCD terdekat.


"Biasanya aku makan di restoran bintang lima," Shella berdecak lidah kemudian ia mulai menyantap burger yang ia pesan.


"Mengapa kehidupanku jadi begini? Si*l sekali!" Gerutu Shella sembari memakan es krim di tangannya sebagai menu penutup.


Setelah selesai makan, Shella memutuskan kembali ke apartemen milik Ine. Di sana ternyata Ine sudah pulang. Sementara Fuji sudah tidak terlihat. Mungkin anak itu sudah pergi ke kampus.


"Ma, mama kenapa sih pelit banget sama anak?" Shella yang baru sampai langsung memarahi ibunya.


"Pelit apanya?" Jawab Ine sembari memperhatikan cincin di tangannya.


"Mama ga sediain air atau makanan. Aku lagi hamil lho, Ma. Kok mama tega banget sih?" Shella terlihat emosional.


"Ya kamu beli sendiri dong ke bawah! Kamu kan bukan tanggung jawab mama!"


"Enteng banget mama bilang kaya gitu. Sebelum mama dapet pria kaya, aku kan yang menuhin hidup mama sama Fuji!" Shella tampak semakin emosi.


"Bantu mama segitu jangan di ungkit terus dong, Shell! Gak sepadan sama apa yang mama korbanin buat kamu. Mama lahirin, mama gedein kamu, mama kasih makan sama sekolahin kamu. Emang itu semua pake daun?" Ine kembali mengatakan hal memuakan yang menurutnya anak seumpama dengan aset.


"Cape ya ngomong sama mama! Mama tuh batu banget! Bisa-bisanya mama gak beliin apapun buat aku. Mama itu masih bisa ikut arisan!" Cecar Shella.


"Mama gak ikut arisan tadi. Mama ketemu pacar mama yang kaya raya," Ine tersenyum senang.


"Kalau mama punya pacar kaya porotin dong, Ma! Minta uangnya!"


"Ya pasti dong. Udah mama beliin uangnya buat perhiasan!" Seloroh Ine sambil memperlihatkan cincinnya yang terbuat dari campuran berlian.


"Lagian kenapa sih ungkit-ungkit duit mama? Si Zayyan pasti ngasih kamu duit dong?"


"Ngasih sih ngasih tapi cuma dua juta. Mama kan tahu Zayyan lagi marah sama aku!"


"Ya udah pulang lagi aja sana ke rumah si Rena! Nangis nangis deh sama si Zayyan biar dia nerima kamu lagi! Atau cium kaki si Rena biar kamu diizinin tinggal di sana lagi!" Suruh Ine dengan enteng.

__ADS_1


"Bisa-bisanya mama nyuruh aku rendahin harga diri kaya gitu!" Shella menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gak usah sok-sok an ngomongin harga diri deh, Shell! Udah lama harga diri kita udah gak ada kok," Ine lagi-lagi menjawab dengan enteng sembari memperhatikan cincin mewahnya. Ingin rasanya Shella mengeluarkan kata-kata kotor untuk wanita yang telah melahirkannya itu.


__ADS_2