Godaan Sang Pelakor

Godaan Sang Pelakor
Mendatangi Ine


__ADS_3

Zayyan mengemudikan mobilnya dengan lesu. Merasa tak ada jalan keluar yang ia bicarakan bersama keluarganya. Zayyan lalu melajukan mobilnya menuju vila. Tatapannya membeliak kala melihat koper-koper miliknya dan juga Shella teronggok begitu saja di depan gerbang. Ia juga melihat Shella menangis seraya berjongkok dengan tangisan menyayat hati.


"Sayang, ada apa ini?" Tanya Zayyan panik.


Zayyan lalu memeluk Shella. Merebahkan wanita hamil itu di dada bidangnya. Ia juga memeriksa semua tubuh Shella. Zayyan bernafas lega kala melihat Shella baik-baik saja. Lebih tepatnya lega saat melihat perut Shella baik-baik saja.


"Aku diusir, sayang. Tadi ada laki-laki yang menyeretku keluar. Bahkan tadi laki-laki itu mencoba melecehkanku," Shella terisak.


Namun seringai tipis muncul di wajahnya. Tentu saja Shella berbohong. Memang ada segerombolan pria yang datang untuk mengusirnya. Pria itu tidak menyeretnya keluar apalagi melecehkannya. Shella hanya menambahkan ceritanya saja agar Zayyan semakin membenci Keysha.


"Pasti ini ulah Keysha!!" Geram Zayyan.


Namun di sudut hati yang terdalam, Zayyan ragu dengan cerita istri sirinya itu. Ia sangat mengenal Keysha, dan Keysha sangat tidak menyukai kekerasan. Sayangnya Zayyan tak berani membantah kata-kata Shella. Ia takut mood Shella berantakan.


"Lalu, kita akan pergi ke mana, sayang?" Tanya Shella manja.


Zayyan menghela nafas. Ia memijit pelipisnya yang tiba-tiba saja berdenyut. Tadi Zayyan berharap Keysha melupakan villa ini. Tapi kenyataan tidak sesuai dengan yang Zayyan harapkan. Dengan cepat, ketakutannya terjadi dalam waktu sekejap. Ya, Keysha mengambil villa yang tengah ia tempati.


"Sebaiknya kita masuk ke mobil dulu! Nanti akan kita bicarakan."


Shella mengangguk. Model cantik itu lantas memasuki mobil mewah Zayyan. Zayyan pun mengangkat koper-koper yang berserakan dan memasukannya ke dalam bagasi mobil. Di dalam mobil mereka berdiskusi tentang ke mana mereka akan pergi. Shella mengambil keputusan untuk pulang ke apartemen ibunya. Pasti ibunya mau menampung dirinya dan juga Zayyan.

__ADS_1


Akhirnya Zayyan melajukan mobilnya menuju apartemen milik Ine, dan sampailah mereka di depan pintu apartemen yang Ine sewa. Ine segera membuka pintu apartemen kala bell berbunyi. Ia mengernyitkan dahinya bingung, tatkala melihat Zayyan dan Shella membawa koper yang besar dan lumayan banyak.


"Ma?" Lirih Shella sendu.


"Kalian kok bawa koper banyak? Ayo masuk dulu!" Ine melebarkan pintu. Mempersilahkan Zayyan dan Shella masuk.


Zayyan mengamati isi apartemen Ine. Apartemen ini cukup kecil dan sempit. Belum lagi apartemen ini hanya memiliki dua kamar saja. Zayyan tak yakin ia akan tinggal disini bersama keluarga Shella. Namun lagi-lagi Zayyan merasa kebingungan saat mengingat ia sudah tidak mempunyai tempat tingggal. Sebelumnya Zayyan tidak pernah berkunjung ke apartemen Ine karena pekerjaannya yang cukup sibuk dan menyita waktu.


"Jadi, apa yang terjadi dengan kalian?" Tanya Ine penasaran saat mereka sudah duduk di sofa. Di sana juga ada Fuji yang duduk bersebelahan dengan Ine.


"Ma, bolehkah aku dan Zayyan menumpang di sini sementara? Harta Zayyan habis diambil alih oleh mantan istrinya. Dan sekarang Zayyan tidak punya apa-apa selain pekerjaannya saja," Adu Shella pada Ine. Zayyan hanya menunduk menahan malu karena seumur hidupnya baru kali ini ia menceritakan kesulitannya pada orang lain.


Mata Ine membola karena terkejut begitu pun dengan Fuji. Ia merasa syok mendengar penuturan kaaknya itu.


Fuji menyenggol lengan Ine. Sudah pasti Fuji tak akan pernah mau berbagi tempat tinggal, apalagi itu dengan orang asing seperti Zayyan. Walaupun mereka bersaudara ipar, namun Fuji hanya menganggap Zayyan sebagai orang lain dan bukan dari bagian keluarganya.


"Tapi aku tak mau berbagi kamar dengan kakak. Apalagi jika aku sampai mengalah meninggalkan kamarku," sungut Fuji blak-blakan.


"Kok kamu jadi perhitungan gitu sama kakak? Siapa selama ini yang membiaya hidup kalian? Dan siapa juga yang menjamin kehidupan glamour kalian akhir-akhir ini?" Ungkit Shella dengan tatapan gelap penuh amarah pada Fuji.


Fuji hanya mengangkat bahu tak acuh, ia lalu menatap Ine seakan meminta dukungan pada ibunya.

__ADS_1


"Mama tahu, sayang. Selama ini yang membiayai kehidupan kami adalah kamu. Untuk menginap di sini malam ini saja boleh. Akan tetapi, untuk tinggal maaf mama gak bisa nerima kalian. Lihatlah apartemen ini sangat sempit! Apalagi Zayyan itu seorang pria. Ia pasti membutuhkan privasi. Zayyan pasti tidak akan betah hidup bersama kami, apalagi dengan Fuji yang hidupnya sangat jorok," jawab Ine yang membuat Shella begitu kecewa.


"Ya ampun, Ma! Aku sedang hamil. Apa kalian tega melihat aku dan Zayyan hidup di jalanan?" Sungut Shella frustasi.


Zayyan hanya menghembuskan nafasnya yang tiba-tiba saja merasa sesak. Benar saja, semua orang akan menghargainya tatkala ia memiliki uang dan jabatan. Namun saat dirinya tidak mempunyai apa-apa, semua orang memandangnya remeh dan sebelah mata.


"Kamu sekarang tanggung jawab suamimu, sayang. Anggap ini kasih sayang dari mama, membiarkan kamu mandiri dan menguji suami kamu sampai mana suamimu bertanggung jawab!" Sindir Ine menatap Zayyan dengan tatapan merendahkan


.


"Tapi, Ma-"


"Sudahlah, sayang! Jangan memaksa mama! Mama benar, kamu adalah tanggung jawabku. Sekarang kita istirahat. Besok pagi kita akan mencari kontrakan atau rumah yang bisa kita sewa," potong Zayyan cepat


Shella hanya menganggukan kepalanya lemah. Jika saja ia tak hamil, Shella akan mendatangi Om Pram dan merengek meminta job padanya. Namun saat hamil begini, Shella tak bisa melakukan itu. Aktivitas nya jadi terbatasi. Shella pun mengakui saat ini ia begitu bergantung pada Zayyan.


"Terima kasih, Zayyan. Terima kasih karena kamu sudah mengerti. Kalau begitu, kalian bisa tidur dulu di kamar mama. Biar mama yang tidur di kamar Fuji," tutup Ine yang membuat Fuji melotot ke arahnya. Pasalnya Fuji adalah wanita yang tidak suka barang miliknya dipakai orang lain sekali pun itu ibu kandungnya.


Zayyan mengangguk. Ia terlebih dahulu memasuki kamar Ine setelah berpamitan padanya. Zayyan sangat lelah hari ini. Tinggallah Shella, Fuji, dan Ine duduk di sofa. Mereka mulai kebingungan saat tambang emas mereka menghilang begitu saja. Dengan hilangnya fasilitas dan kekayaan Zayyan, tentu saja berdampak untuk mereka dan membuat mereka kewalahan.


"Jadi, kamu akan mempertahankan Zayyan yang sudah kere?" Tanya Ine dengan pelan, takut Zayyan mendengarnya.

__ADS_1


"Dia masih bekerja sebagai direktur pemasaran. Gajinya lumayan. Sepertinya aku akan mempertahankannya. Setidaknya sampai anak ini lahir dan aku bisa berkarier lagi sebagai model," jawab Shella gamang. Di hati kecilnya ia memang sangat mencintai Zayyan sedari SMA dulu.


Namun logikanya tak sejalur dengan perasaannya. Ia tak siap hidup kekurangan bersama Zayyan. Shella berencana akan menunggu Zayyan untuk bangkit dari masa-masa jatuhnya karena pekerjaan Zayyan masih sangat menjanjikan. Namun jika sampai anak ini lahir, lalu Zayyan masih saja seperti ini, dengan berat hati Shella akan meninggalkan Zayyan dengan bayinya. Ia akan hidup bebas lagi dan merajut kariernya sebagai model kembali. Atau rencana selanjutnya adalah Shella mencari pria yang kaya lagi dan merayunya.


__ADS_2